15/08/2026

Dari Pesantren, Adinda Negara Kuasai Banyak Bahasa: Berawal dari Kebiasaan Berbahasa Arab dan Inggris

0
Dari Pesantren, Adinda Negara Kuasai Banyak Bahasa Berawal dari Kebiasaan Berbahasa Arab dan Inggris - www.swarnaberita.com

Dari Pesantren, Adinda Negara Kuasai Banyak Bahasa Berawal dari Kebiasaan Berbahasa Arab dan Inggris - Foto: ts Media

SWARNABERITA.COM — Pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam ilmu agama. Bagi Syifa Adinda Negara, lingkungan pesantren justru menjadi salah satu fondasi penting yang mengantarkannya memiliki kemampuan menguasai sejumlah bahasa asing.

Kisah menarik tersebut kembali menjadi sorotan setelah Adinda Negara tampil dalam program TS Talks bersama Luna Maya dan Marianne Rumantir dalam tayangan Youtube dua hari yang lalu. Dalam perbincangan tersebut, perjalanan Adinda mempelajari berbagai bahasa menjadi salah satu topik yang menarik perhatian.

Adinda diketahui pernah menempuh pendidikan selama sekitar tiga tahun di Pondok Pesantren Fathan Mubina, Ciawi, Bogor. Selama berada di pesantren, ia terbiasa menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan tersebut kemudian menjadi modal penting bagi Adinda untuk mengembangkan ketertarikannya terhadap bahasa-bahasa asing lainnya.

BACA JUGA: Dirbinmas Polda DIY Kunjungi Pesantren ISC Aswaja Lintang Songo, Perkuat Sinergi Kepolisian dan Pesantren

Berawal dari Bahasa Arab dan Inggris

Adinda sejak kecil memang sudah mendapatkan lingkungan yang mendukung pembelajaran bahasa. Di rumah, orang tuanya membiasakan komunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.

Ketika memasuki pendidikan di pesantren, kemampuan tersebut semakin terasah karena terdapat kebiasaan menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam aktivitas sehari-hari.

Menariknya, ketertarikan Adinda terhadap bahasa asing tidak berhenti pada dua bahasa tersebut. Menjelang akhir masa SMP, ia mulai tertarik mempelajari bahasa-bahasa lain secara mandiri.

Ia memanfaatkan berbagai sumber belajar, termasuk buku, media sosial, video YouTube, film, hingga musik. Cara tersebut membantunya memperkaya kosakata sekaligus melatih kemampuan mendengar dan berbicara.

Belajar Bahasa Secara Otodidak

Kemampuan bahasa Adinda kemudian berkembang semakin luas. Sejumlah sumber menyebut ia mampu menguasai sekitar sembilan bahasa, termasuk Indonesia, Inggris, Arab, Korea, Jepang, Spanyol, Prancis, Rusia, dan Jerman/Mandarin dalam berbagai tingkat penguasaan.

Adinda juga dikenal sebagai sosok yang memiliki ketertarikan kuat terhadap bahasa dan budaya asing. Kemampuan tersebut kemudian ia manfaatkan melalui berbagai konten di media sosial, termasuk multilingual song cover dan konten pembelajaran bahasa.

Salah satu momen yang membuat kemampuan bahasanya semakin dikenal publik adalah ketika ia mengunggah video menyanyikan lagu “Despacito” menggunakan bahasa Spanyol. Konten-konten semacam itu kemudian membuat namanya semakin dikenal di media sosial.

BACA JUGA: Ahmad Azhar Basyir dan Jalan Tengah Pengembangan Hukum Ekonomi Syariah

Pesantren Jadi Fondasi Penting

Pengalaman Adinda menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa tidak selalu harus berlangsung melalui pendidikan formal atau kursus khusus. Lingkungan yang mendorong seseorang untuk menggunakan bahasa secara aktif setiap hari juga dapat menjadi metode pembelajaran yang efektif.

Pesantren dalam pengalaman Adinda menjadi ruang pembiasaan. Bahasa Arab dan Inggris tidak hanya dipelajari sebagai teori, tetapi digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Dari kebiasaan tersebut, tumbuh keberanian dan rasa percaya diri untuk mempelajari bahasa lain secara mandiri.

Adinda bahkan pernah menjelaskan bahwa ketika seseorang sudah mampu menguasai dua bahasa dengan baik, mempelajari bahasa berikutnya bukan sesuatu yang mustahil. Ia kemudian mengembangkan kemampuan tersebut dengan banyak berlatih melalui media yang dekat dengan kesehariannya.

Pendidikan Bahasa Berbuah Prestasi

Ketertarikan Adinda terhadap bahasa juga berlanjut dalam pendidikan tinggi. Ia tercatat menempuh pendidikan di bidang Sastra Arab di Universitas Padjadjaran dan kemudian menyelesaikan pendidikan magister.

Kemampuan multilingual tersebut kemudian menjadi bagian dari identitasnya sebagai content creator. Ia tidak hanya membagikan ketertarikannya terhadap bahasa, tetapi juga menggabungkannya dengan kecintaannya terhadap budaya Korea dan K-Pop.

Perjalanan Adinda menjadi gambaran bahwa pendidikan pesantren dapat memberikan bekal yang luas bagi santri. Dengan lingkungan yang tepat, pembiasaan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar, pesantren dapat menjadi titik awal lahirnya generasi yang tidak hanya kuat dalam pengetahuan keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi lintas bahasa dan budaya.

Dari pesantren, Adinda Negara membuktikan bahwa belajar bahasa bisa dimulai dari kebiasaan sederhana, berani menggunakan, berani mencoba, dan tidak berhenti belajar.

***
(Artikel diolah dari dari Youtube TS Media – Foto: TS Media)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *