Pesantren Al-Ittifaqiah dan Tradisi Pembelajaran Nagham
Suasana di Pesantren Al-Ittifaqiah - Foto: Istimewa
Perkembangan nagham Al-Qur’an di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh hadirnya para qari besar ataupun lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga oleh kontribusi pesantren sebagai institusi yang secara konsisten menjaga tradisi pembelajaran Al-Qur’an. Sejak awal pertumbuhan Islam di Nusantara, pesantren telah menjadi pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman, termasuk pembelajaran tilawah Al-Qur’an. Melalui sistem pendidikan yang mengintegrasikan aspek keilmuan, pembinaan akhlak, latihan spiritual, dan pembiasaan ibadah, pesantren berhasil melahirkan generasi qari dan qariah yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kedalaman adab dan penghayatan terhadap nilai-nilai Al-Qur’an.
Dalam tradisi pesantren, pembelajaran nagham tidak dipahami sekadar sebagai latihan vokal ataupun penguasaan lagu. Nagham merupakan bagian dari proses pendidikan Al-Qur’an yang bertujuan membentuk karakter pembaca Al-Qur’an secara utuh. Karena itu, proses pembelajaran selalu berlangsung melalui hubungan yang erat antara guru dan santri dalam suasana talaqqi, musyafahah, sima’i, pengulangan (drill), serta keteladanan (modeling). Tradisi tersebut menjadikan pembelajaran nagham bukan hanya proses transfer keterampilan, melainkan juga proses transmisi nilai, etika, dan spiritualitas.
Di antara berbagai pesantren yang mengembangkan pendidikan Al-Qur’an di Indonesia, Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menempati posisi yang sangat penting dalam perkembangan pembelajaran nagham Al-Qur’an. Pesantren yang berdiri pada tahun 1967 ini dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang berhasil mengintegrasikan sistem pendidikan pesantren modern dengan tradisi pembelajaran Al-Qur’an yang kuat. Komitmen tersebut menjadikan Al-Ittifaqiah bukan hanya sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat pengembangan tilawah, tahfizh, dan seni baca Al-Qur’an di Indonesia.
Reputasi pesantren ini tidak dibangun dalam waktu singkat. Berbagai capaian yang diraih menunjukkan konsistensi Al-Ittifaqiah dalam mengembangkan pendidikan Al-Qur’an. Pesantren ini pernah dinobatkan sebagai Pesantren Terbaik I di Sumatera Selatan pada tahun 2017, serta menjadi satu-satunya pesantren di Pulau Sumatera yang masuk dalam daftar 20 Pesantren Berpengaruh di Indonesia dari sekitar 32.000 pesantren yang ada pada saat itu. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa Al-Ittifaqiah tidak hanya unggul dalam aspek kelembagaan, tetapi juga berhasil membangun tradisi akademik dan pembinaan Al-Qur’an yang berkelanjutan.
Salah satu karakter utama Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya adalah menjadikan pendidikan Al-Qur’an sebagai identitas kelembagaan. Program tahfizh Al-Qur’an dan pembelajaran nagham ditempatkan sebagai program unggulan yang mendapatkan perhatian khusus dalam keseluruhan sistem pendidikan pesantren. Orientasi tersebut tidak hanya bertujuan melahirkan santri yang hafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu membacanya dengan baik, indah, dan sesuai dengan tradisi tilawah yang berkembang di dunia Islam.
Dalam praktiknya, pembelajaran nagham di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya dikembangkan secara bertahap melalui sistem kompetensi yang berjenjang. Pembelajaran tidak dilakukan secara instan, melainkan disusun berdasarkan tingkat penguasaan santri terhadap maqamat dan kemampuan musikal yang dimiliki. Sistem ini dikenal melalui tiga jenjang utama, yaitu nagham ‘aam, nagham khash, dan nagham khas al-khas. Ketiga jenjang tersebut menunjukkan bahwa penguasaan nagham dipandang sebagai proses pendidikan yang berlangsung secara bertahap, mulai dari pengenalan dasar hingga kemampuan improvisasi tingkat lanjut.
Model pembelajaran bertingkat tersebut memperlihatkan adanya prinsip diferensiasi dalam pendidikan nagham. Santri yang baru memulai pembelajaran memperoleh penguatan terhadap penguasaan maqamat dasar, pengendalian suara, serta ketepatan membaca sesuai tajwid. Setelah menguasai kompetensi dasar, mereka memasuki tahap pengembangan variasi lagu, transisi antarmaqam, dan eksplorasi musikal yang lebih kompleks. Pada tahap tertinggi, santri diarahkan untuk memahami struktur improvisasi, karakter maqamat, serta berbagai variasi eksklusif yang berkembang dalam tradisi tilawah Syekh Musthafa Ismail.
Keunikan lain yang dimiliki Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya adalah adanya Pengajian Nagham Al-Qur’an Kiblat Syekh Musthafa Ismail yang diselenggarakan secara khusus sebagai media pendalaman seni tilawah. Program ini menunjukkan bahwa pembelajaran nagham tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kompetisi MTQ, tetapi lebih jauh bertujuan membangun pemahaman yang komprehensif mengenai tradisi musikal yang diwariskan oleh Syekh Musthafa Ismail. Dengan demikian, para santri tidak hanya belajar meniru lagu, tetapi juga mempelajari karakter, struktur, dan filosofi musikal yang melandasi setiap variasi nagham.
Tradisi pembelajaran tersebut semakin menarik karena tidak berhenti pada ruang kelas pesantren. Melalui Radio Dakwah Al-Ittifaqiah dan kanal YouTube Al-Ittifaqiah TV, materi pembelajaran nagham dapat diakses oleh masyarakat luas. Pemanfaatan media digital tersebut menunjukkan bahwa pesantren mampu melakukan adaptasi terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan tradisi talaqqi yang menjadi ruh pembelajaran Al-Qur’an. Model ini memperluas jangkauan dakwah sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mempelajari nagham secara lebih mudah.
Keberhasilan sistem pembelajaran tersebut tercermin dari banyaknya alumni Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya yang berhasil menjadi juara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), pelatih tilawah, maupun dewan hakim pada berbagai tingkat kompetisi, baik regional, nasional, maupun internasional. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan yang berlangsung di pesantren tidak hanya menghasilkan penguasaan teknis membaca Al-Qur’an, tetapi juga membentuk kompetensi musikal, mental kompetitif, serta kematangan spiritual para santri.
Keberhasilan tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari filosofi pendidikan pesantren yang memandang pembelajaran nagham sebagai proses pembentukan karakter. Dalam lingkungan pesantren, kemampuan membaca Al-Qur’an tidak diukur hanya dari keindahan suara, tetapi juga dari kedisiplinan, kesabaran, penghormatan kepada guru, ketekunan berlatih, serta keikhlasan dalam beribadah. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang memperkuat kualitas pembelajaran nagham sehingga menghasilkan qari yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga matang secara spiritual.
Dari perspektif pendidikan, sistem pembelajaran nagham yang berkembang di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya menunjukkan adanya integrasi antara pendekatan tradisional pesantren dengan teori pembelajaran modern. Proses talaqqi dan musyafahah memperlihatkan karakteristik social learning melalui keteladanan guru; latihan berulang (drill) mencerminkan prinsip-prinsip behaviorisme; sedangkan eksplorasi variasi nagham dan improvisasi menunjukkan penerapan konstruktivisme dalam membangun kompetensi musikal santri. Integrasi ketiga pendekatan tersebut menjadikan sistem pembelajaran nagham di Pesantren Al-Ittifaqiah memiliki karakter yang komprehensif sekaligus adaptif terhadap perkembangan pendidikan kontemporer.
Dalam konteks itulah, Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya tidak hanya dapat dipandang sebagai lembaga pendidikan Al-Qur’an, tetapi juga sebagai laboratorium pedagogi nagham. Tradisi pembelajaran yang berkembang di dalamnya memperlihatkan bagaimana warisan musikal Syekh Musthafa Ismail ditransmisikan secara sistematis melalui kurikulum bertingkat, pembinaan intensif, serta proses pendidikan yang mengintegrasikan dimensi ilmu, seni, dan spiritualitas. Pengalaman tersebut memberikan kontribusi penting bagi pengembangan model pembelajaran nagham yang tidak hanya relevan bagi pesantren, tetapi juga dapat diadaptasi oleh madrasah, perguruan tinggi, lembaga tahfizh, serta pusat-pusat pembinaan qari di Indonesia.
Berangkat dari kenyataan tersebut, tradisi pembelajaran nagham di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya layak dipandang sebagai salah satu model pendidikan Al-Qur’an yang relevan untuk dikembangkan di Indonesia. Keberhasilannya menunjukkan bahwa kualitas tilawah tidak lahir semata-mata dari bakat suara atau penguasaan lagu, melainkan dari proses pendidikan yang memadukan metode pembelajaran yang sistematis, pembinaan yang berkesinambungan, lingkungan yang kondusif, serta penanaman nilai-nilai adab dan spiritualitas.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan zaman, pengalaman Al-Ittifaqiah Indralaya menjadi pengingat bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan, tetapi menghadirkan inovasi tanpa kehilangan akar. Inilah pelajaran penting yang dapat menginspirasi pesantren, madrasah, lembaga tahfizh, hingga berbagai institusi pendidikan Islam untuk terus melahirkan generasi qari yang tidak hanya indah dalam melantunkan ayat-ayat suci, tetapi juga mulia dalam akhlak dan kokoh dalam penghayatan terhadap Al-Qur’an.
*
Penulis: Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, MA. (Mudir ‘Aam Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya – Anggota Dewan Pakar PS2PM Yogyakarta)