Santri Milenial di Persimpangan Zaman

0
Santri Milenial di Persimpangan Zaman - www.swarnaberita.com

Aidah Buhairi, S. Ag. M.Pd. Dosen Universitas A-Qur'an Ittifaqiah (UQI) Indralaya - Foto: Dokumen Istimewa

Oleh: Aidah Buhairi, S.Ag., M.Pd.
Dosen Universitas Al-Qur’an Ittifaqiah (UQI) Indralaya, Ogan Ilir
Anggota Dewan Penasihat PB IKAPPI Ogan Ilir
Sekretaris Bidang Pemberdayaan Perempuan MUI Ogan Ilir
Ketua Bidang Pendidikan Persaudaraan Muslimah (SALIMAH) Ogan Ilir
Sekretaris Dewan Penasehat MD Forum HMI Wati (FORHATI) Ogan Ilir

* * *

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, santri menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan generasi pendahulunya. Jika dahulu para santri turut berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kini tanggung jawab sejarah itu berlanjut dalam bentuk perjuangan yang tidak kalah penting: menjaga persatuan bangsa, membangun peradaban, menguasai ilmu pengetahuan, serta menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.

Santri milenial tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi keislaman. Mereka juga dituntut menjadi pelaku perubahan yang mampu membaca perkembangan zaman, menguasai teknologi, dan mengambil peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Pertanyaannya, mampukah pesantren mempersiapkan santri yang tetap kokoh dalam nilai-nilai keagamaan sekaligus kompetitif menghadapi tantangan global?

Dari Pejuang Kemerdekaan Mengembangkan Masa Depan

Sejarah Indonesia mencatat bahwa pesantren memiliki kontribusi besar dalam membangun kesadaran kebangsaan. Para kiai dan santri bukan sekadar mengajarkan ilmu agama, melainkan juga menanamkan keberanian, kemandirian, pengorbanan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Semangat perjuangan tersebut harus terus hidup, tetapi dengan bentuk dan pendekatan yang sesuai dengan tantangan zaman. Pada era digital, perjuangan santri tidak lagi semata-mata berlangsung di medan pertempuran fisik. Perjuangan itu juga hadir di ruang-ruang digital, dunia pendidikan, aktivitas ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan, serta upaya menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Santri milenial adalah generasi yang tumbuh dalam lingkungan informasi digital, ketika pengetahuan dapat diakses melalui layar gawai dan komunikasi berlangsung tanpa batas geografis. Kondisi ini membuka peluang besar bagi santri untuk memperluas wawasan, mengembangkan kreativitas, dan menyebarkan pesan-pesan Islam yang damai.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan risiko. Informasi palsu, ujaran kebencian, provokasi, dan konten intoleran dapat menyebar dengan cepat. Tanpa kemampuan memilah informasi dan kedewasaan berpikir, ruang digital yang seharusnya menjadi sarana pencerahan justru dapat berubah menjadi ladang konflik dan disintegrasi bangsa.

Karena itu, santri perlu hadir bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, melainkan sebagai produsen pengetahuan, penyebar nilai-nilai kebaikan, dan penjaga etika di ruang publik digital.

Lima Tantangan Santri di Era Digital

Pertama, penguasaan literasi digital dan teknologi.

Kemampuan membaca kitab kuning, memahami khazanah keislaman, dan mendalami ilmu agama merupakan kekuatan utama santri. Akan tetapi, kompetensi tersebut perlu dilengkapi dengan literasi digital agar santri mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Literasi digital bukan sekadar keterampilan menggunakan perangkat elektronik atau mengoperasikan media sosial. Lebih dari itu, literasi digital mencakup kemampuan memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, mengenali manipulasi, menjaga privasi, serta menggunakan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.

Santri harus mampu memanfaatkan internet untuk mengembangkan pengetahuan, membangun jejaring, menyampaikan gagasan, dan menciptakan karya. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu klasik, tetapi juga ruang tumbuhnya inovasi dan kreativitas generasi muda Muslim.

Kedua, menghadapi pertarungan ideologi dan ekstremisme.

Internet telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama. Siapa pun dapat menyampaikan pendapat keagamaan kepada jutaan orang tanpa melalui proses verifikasi yang memadai. Situasi ini menuntut santri memiliki kemampuan berpikir kritis dan pemahaman agama yang mendalam.

Tantangan yang harus diwaspadai bukanlah perbedaan pendapat itu sendiri, melainkan penyebaran paham yang membenarkan kekerasan, kebencian, diskriminasi, atau penolakan terhadap kehidupan bersama yang damai.

Dalam konteks ini, pesantren memiliki posisi strategis untuk menanamkan nilai Islam yang moderat, menghargai perbedaan, serta mengedepankan dialog. Santri perlu dibekali kemampuan berdiskusi secara argumentatif, memahami keragaman pemikiran, dan menyampaikan ajaran agama dengan bijaksana.

Keteguhan beragama tidak harus melahirkan sikap tertutup. Sebaliknya, keyakinan yang kokoh semestinya mendorong seseorang untuk bersikap dewasa, adil, dan menghormati martabat sesama manusia.

Ketiga, menghadapi benturan budaya dan disrupsi nilai.

Arus globalisasi membawa beragam budaya, gaya hidup, dan tren populer ke dalam kehidupan generasi muda. Musik, film, budaya populer Korea, tren fesyen, hingga berbagai fenomena media sosial menjadi bagian dari keseharian santri milenial.

Persoalannya bukan terletak pada kehadiran budaya luar semata, melainkan pada kemampuan menyikapinya secara proporsional. Ketika popularitas, kemewahan, dan pengakuan di media sosial menjadi ukuran utama keberhasilan, nilai kesederhanaan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap ilmu dapat terpinggirkan.

Pesantren tidak perlu membangun tembok yang sepenuhnya menutup diri dari perkembangan budaya. Yang diperlukan adalah kemampuan membimbing santri agar mampu melakukan seleksi secara kritis: menerima hal-hal yang bermanfaat, mengembangkan kreativitas, dan menolak pengaruh yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.

Dengan pendekatan tersebut, santri tidak menjadi korban arus budaya, tetapi subjek yang mampu menentukan sikap berdasarkan pengetahuan, akhlak, dan pertimbangan yang matang.

Keempat, menyeimbangkan kebebasan digital dan kedisiplinan pesantren.

Kehidupan pesantren identik dengan kedisiplinan, keteraturan, penghormatan kepada guru, dan pembiasaan hidup bersama. Sementara itu, dunia digital menawarkan kebebasan mengakses informasi, mengekspresikan pendapat, dan membangun identitas secara individual.

Perbedaan karakter tersebut dapat menimbulkan tantangan dalam proses adaptasi santri. Aturan mengenai penggunaan gawai, pengaturan waktu, kegiatan belajar, dan interaksi sosial terkadang dipersepsikan sebagai pembatasan kebebasan.

Karena itu, pesantren perlu menjelaskan bahwa kedisiplinan bukan semata-mata kepatuhan terhadap aturan, melainkan latihan mengendalikan diri dan membangun tanggung jawab. Pada saat yang sama, aturan pesantren perlu dikomunikasikan secara dialogis, diterapkan secara konsisten, dan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan.

Santri juga perlu dilibatkan dalam memahami alasan di balik aturan, sehingga kedisiplinan tumbuh sebagai kesadaran, bukan sekadar ketakutan terhadap hukuman.

Kelima, menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas.

Inilah tantangan paling mendasar bagi santri milenial. Mereka harus mampu mempertahankan kedalaman spiritual, kekuatan akhlak, dan penghormatan terhadap tradisi keilmuan Islam, sekaligus mengembangkan kemampuan profesional, kepemimpinan, dan daya saing global.

Keseimbangan tersebut tidak berarti santri harus menjalani dua identitas yang saling bertentangan. Justru, tradisi keislaman dan kemajuan modern seharusnya saling menguatkan.

Penguasaan ilmu agama dapat menjadi landasan etika dalam mengembangkan teknologi. Kecakapan digital dapat memperluas jangkauan dakwah dan pendidikan. Sementara itu, kedisiplinan pesantren dapat membentuk karakter yang dibutuhkan untuk membangun organisasi, mengelola usaha, dan memimpin perubahan.

Santri yang ideal bukanlah mereka yang meninggalkan tradisi demi modernitas, ataupun menolak kemajuan demi mempertahankan tradisi. Mereka adalah generasi yang mampu mengolah keduanya menjadi kekuatan untuk kemaslahatan masyarakat.

Pesantren Harus Bertransformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, pesantren perlu memperkuat kapasitas kelembagaan dan memperbarui pendekatan pendidikan. Transformasi bukan berarti meninggalkan sistem pendidikan salaf, melainkan memperkaya tradisi keilmuan pesantren dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Ada beberapa strategi yang dapat dikembangkan.

Pertama, mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern.

Pembelajaran kitab kuning perlu berjalan beriringan dengan penguatan sains, teknologi, kewirausahaan, bahasa asing, dan kemampuan berpikir kritis. Integrasi ini penting agar santri memiliki wawasan yang luas serta mampu menghubungkan ajaran agama dengan persoalan nyata dalam kehidupan.

Kurikulum pesantren juga perlu memberi ruang bagi pendidikan karakter, kepemimpinan, komunikasi, dan keterampilan sosial. Santri harus dibiasakan untuk berdiskusi, menyampaikan gagasan, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Dengan demikian, pendidikan pesantren tidak hanya menghasilkan individu yang memahami ilmu, tetapi juga mampu mengamalkan pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kedua, menjadikan literasi digital sebagai kompetensi penting.

Pesantren perlu mengembangkan pembelajaran yang memperkenalkan penggunaan teknologi secara aman, kritis, dan produktif. Santri dapat dilatih memverifikasi berita, memahami etika komunikasi digital, membuat konten edukatif, serta memanfaatkan berbagai perangkat teknologi untuk menunjang pembelajaran.

Keterampilan tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan jurnalistik pesantren, produksi video pendidikan, pengelolaan media sosial, penulisan artikel, dan pembuatan konten dakwah yang berkualitas.

Pesantren juga dapat membangun kerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas literasi, dan praktisi teknologi untuk memperluas kesempatan belajar santri.

Dengan strategi ini, santri tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang mencerdaskan dan memperkuat kehidupan berbangsa.

Ketiga, memperkuat pendidikan karakter melalui keteladanan.

Pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui ceramah atau nasihat. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, dan kedisiplinan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kiai, ustaz, dan seluruh pengelola pesantren memegang peran penting sebagai teladan. Hubungan pendidikan yang dibangun melalui keteladanan, dialog, dan pendampingan akan membantu santri memahami bahwa akhlak bukan sekadar materi pembelajaran, melainkan pedoman dalam mengambil keputusan.

Karakter yang kuat juga perlu tercermin dalam perilaku santri di ruang digital. Kesantunan dalam berkomunikasi, kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, dan keberanian mengakui kesalahan merupakan bagian dari akhlak yang harus terus dibiasakan.

Keempat, meningkatkan kompetensi pendidik pesantren.

Perubahan karakteristik generasi muda menuntut para pendidik untuk terus mengembangkan kemampuan profesional. Kiai dan ustaz perlu memperoleh kesempatan untuk memperbarui pengetahuan, memahami psikologi generasi digital, serta mempelajari metode pembelajaran yang lebih interaktif.

Pendekatan pendidikan yang memadukan kedalaman materi, dialog, pemecahan masalah, dan pemanfaatan teknologi akan membantu pembelajaran menjadi lebih relevan tanpa mengurangi penghormatan terhadap tradisi keilmuan pesantren.

Peningkatan kapasitas pendidik juga perlu mencakup kemampuan membimbing santri menghadapi persoalan sosial, tekanan pergaulan, dan dinamika informasi digital.

Kelima, membangun kemandirian ekonomi dan keterampilan hidup.

Santri perlu dibekali keterampilan yang memungkinkan mereka hidup mandiri dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi masyarakat. Pendidikan kewirausahaan, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, pertanian modern, industri kreatif, dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal dapat menjadi pilihan sesuai karakteristik masing-masing pesantren.

Kegiatan ekonomi pesantren juga dapat dikembangkan sebagai laboratorium pembelajaran. Santri tidak hanya memahami teori kewirausahaan, tetapi belajar merancang produk, mengelola usaha, membangun jejaring, dan melayani konsumen secara profesional.

Kemandirian ekonomi penting agar santri memiliki keleluasaan untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi bagi masyarakat tanpa kehilangan orientasi moral dan tanggung jawab sosial.

Santri Harus Hadir di Tengah Masyarakat

Transformasi pendidikan pesantren tidak akan mencapai tujuan maksimal apabila santri hanya dipersiapkan untuk unggul di lingkungan internal pesantren. Mereka harus mampu membumikan ilmu dan nilai yang diperoleh melalui keterlibatan nyata dalam kehidupan masyarakat.

Santri dapat mengambil peran dalam pemberdayaan ekonomi umat, penguatan pendidikan, pendampingan masyarakat, pengembangan literasi, pelestarian lingkungan, hingga penguatan solidaritas sosial.

Di ruang digital, mereka dapat berkontribusi melalui tulisan, penelitian, video edukatif, dan berbagai bentuk komunikasi publik yang mendorong masyarakat berpikir kritis dan bertindak bijaksana.

Kehadiran santri juga diperlukan untuk menjembatani perbedaan di tengah masyarakat. Dengan bekal pengetahuan agama dan pengalaman hidup bersama dalam keberagaman, santri dapat menjadi penggerak dialog, penebar kedamaian, dan pelopor penyelesaian masalah secara bermartabat.

Peran tersebut membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Santri harus berani memasuki berbagai ruang pengabdian, mengembangkan kompetensi, membangun jejaring, dan bersaing secara sehat dalam dunia profesional.

Pada saat yang sama, keberhasilan tidak semestinya hanya diukur melalui jabatan, kekayaan, atau popularitas. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana ilmu, keterampilan, dan kedudukan yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi sesama.

Penutup: Menjaga Akar, Menumbuhkan Sayap

Masa depan pesantren sangat ditentukan oleh kemampuannya mempersiapkan generasi yang memahami akar tradisinya sekaligus berani menjangkau masa depan. Santri milenial harus tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara spiritual, matang secara intelektual, luhur dalam akhlak, cakap dalam teknologi, dan tangguh menghadapi perubahan.

Pesantren tidak boleh kehilangan jati diri di tengah modernisasi. Namun, pesantren juga tidak boleh membiarkan santri tertinggal hanya karena perkembangan zaman berlangsung begitu cepat. Tradisi keilmuan Islam harus menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi masa depan, bukan alasan untuk menutup diri dari kemajuan.

Semangat perjuangan para pendahulu harus diterjemahkan ke dalam perjuangan baru: melawan kebodohan, mengatasi kemiskinan, menangkal disinformasi, memperkuat persatuan, dan membangun peradaban yang berkeadilan.

Santri milenial bukan sekadar pewaris tradisi, melainkan calon pemimpin, inovator, pendidik, wirausahawan, dan penggerak perubahan. Mereka harus memiliki keberanian untuk bermimpi besar, kemampuan untuk bekerja nyata, serta keteguhan moral untuk menggunakan pengetahuan bagi kemaslahatan bersama.

Santri masa depan adalah mereka yang mampu menjaga akar keislamannya, menumbuhkan sayap pengetahuannya, dan terbang tinggi untuk mengabdi kepada bangsa dan kemanusiaan. Sebab, pesantren yang berhasil bukan hanya pesantren yang mampu mempertahankan warisan masa lalu, tetapi juga yang sanggup melahirkan generasi yang siap merancang masa depan.

* * *

Editor: Januariansyah Arfaizar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *