Santri Cerdas, Bukan Sekadar Bergelar

0
Santri Cerdas, Masa Depan Gemilang

Ust. Tanto Priadi, Mudir Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Kampus Lecah - Foto: Istimewa

Oleh: Ust. Tanto Priadi, S.H.
Mudir Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Kampus Lecah, Muara Enim, Sumatera Selatan

* * *

Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, merupakan salah satu pesantren yang terus berupaya mengembangkan tradisi keilmuan Islam sekaligus merespons perkembangan zaman. Perhatian terhadap kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), terlihat dalam kegiatan seminar bertajuk “Kecerdasan Buatan: Kelebihan dan Kekurangannya sebagai Sumber Pengetahuan” yang menghadirkan Rektor UIN Antasari Banjarmasin, Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A., pada 11 Desember 2024.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan bahwa AI sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti guru dan kemampuan berpikir manusia. Di sisi lain, tradisi menghafal Al-Qur’an yang dikembangkan Al-Ittifaqiah juga mendapat apresiasi karena melatih daya ingat dan konsentrasi santri. Gambaran ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki peluang besar untuk mempertemukan kekuatan tradisi keilmuan dengan perkembangan teknologi modern. (Sumber: UIN Antasari Banjarmasin)

Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa santri memiliki ruang yang luas untuk berkembang. Mereka dapat mendalami ilmu agama sekaligus mempelajari keterampilan baru, berkarya melalui teknologi, dan mengambil bagian dalam menjawab persoalan masyarakat.

Tantangannya adalah bagaimana pendidikan pesantren tidak hanya membekali santri dengan pengetahuan, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Sebab, keberhasilan belajar tidak hanya terlihat dari ijazah atau gelar yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan seseorang menjalani kehidupan, mengembangkan potensi, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.

Santri dan Tantangan Zaman

Dunia terus berubah. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan pola ekonomi, serta derasnya arus informasi menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda. Dalam situasi seperti ini, santri memiliki peluang besar untuk mengambil peran tanpa harus kehilangan jati diri dan nilai-nilai kepesantrenan.

Pesantren sejak lama dikenal sebagai lembaga yang membentuk karakter, menanamkan kedisiplinan, mengajarkan kemandirian, dan membangun tradisi keilmuan. Santri belajar menghormati guru, mengelola waktu, hidup sederhana, serta membiasakan diri menghadapi berbagai keterbatasan. Modal tersebut penting untuk menghadapi kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Namun, bekal itu perlu dilengkapi dengan keterampilan yang relevan. Santri perlu belajar berkomunikasi dengan baik, memahami persoalan sosial, menguasai teknologi sesuai kebutuhan, membangun usaha, serta bekerja sama dengan berbagai kalangan. Bukan berarti semua santri harus menjadi ahli teknologi atau pengusaha. Yang diperlukan adalah kemauan untuk terus belajar dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Kedalaman ilmu agama, kematangan akhlak, dan keterampilan praktis perlu berjalan beriringan. Ilmu agama menjadi kompas moral, akhlak menjadi pedoman perilaku, sedangkan keterampilan membantu santri menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.

Gelar Bukan Satu-Satunya Ukuran Keberhasilan

Gelar akademik merupakan sesuatu yang patut dihargai. Pendidikan formal membantu seseorang memperluas wawasan, mengembangkan cara berpikir, dan memperoleh pengetahuan secara terstruktur. Gelar juga menjadi bukti bahwa seseorang telah melewati proses pendidikan tertentu.

Meski demikian, gelar bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada orang berpendidikan tinggi yang masih kesulitan menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ada orang dengan pendidikan formal terbatas yang mampu mengembangkan usaha, membuka lapangan pekerjaan, dan membantu masyarakat.

Hal ini bukan berarti pendidikan formal tidak penting. Persoalannya terletak pada bagaimana pendidikan tersebut diterapkan. Pengetahuan seharusnya membantu seseorang mengambil keputusan, menghadapi persoalan, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Begitu pula dengan santri. Menguasai kitab kuning, menghafal Al-Qur’an, memahami fikih, atau menyelesaikan pendidikan di pesantren merupakan pencapaian yang berharga. Namun, bekal tersebut akan semakin kuat apabila disertai kemampuan memahami keadaan masyarakat dan menerapkan nilai-nilai yang dipelajari untuk menghadirkan perubahan.

Santri perlu memiliki keberanian untuk mencoba, kesediaan menerima masukan, dan ketekunan memperbaiki diri. Mereka tidak harus langsung menguasai semuanya. Yang penting, proses belajar tidak berhenti ketika pendidikan formal selesai.

Dari Ruang Belajar Menuju Ruang Pengabdian

Salah satu kekuatan pesantren adalah tradisi pengabdian. Santri terbiasa hidup bersama, belajar berbagi, membantu sesama, dan menjalankan kegiatan secara kolektif. Tradisi ini merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk membangun masyarakat.

Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan yang dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Santri perlu diajak mengamati keadaan lingkungan, mengenali kebutuhan masyarakat, mendiskusikan persoalan, dan mencoba menyusun solusi.

Misalnya, santri yang tinggal di daerah pertanian dapat membantu memasarkan hasil panen. Mereka yang berada di lingkungan pengrajin dapat mendukung promosi produk lokal. Santri yang memiliki kemampuan menulis dan berbicara dapat mengembangkan media dakwah. Sementara itu, mereka yang tertarik pada teknologi dapat mempelajari desain grafis, pengelolaan media sosial, atau pembuatan situs web.

Kegiatan tersebut tidak harus dimulai dengan program besar atau fasilitas mahal. Pesantren dapat membentuk kelompok usaha kecil, membuat konten edukasi, mengelola perpustakaan digital, membantu pemasaran produk masyarakat, atau menyelenggarakan bimbingan membaca Al-Qur’an bagi anak-anak di sekitar pesantren.

Melalui kegiatan semacam ini, santri belajar bekerja sama, mengelola tanggung jawab, berkomunikasi, dan memahami bahwa persoalan masyarakat sering kali membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar wacana.

Santri di Era Digital: Menjadi Pengguna atau Pencipta?

Perkembangan teknologi digital membuka peluang luas bagi santri. Media sosial, misalnya, dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan keislaman dengan bahasa yang mudah dipahami generasi muda. Ceramah dapat dikemas menjadi video pendek, penjelasan fikih disajikan melalui infografik, dan kisah ulama ditulis menjadi artikel populer.

Namun, dakwah digital bukan sekadar mengejar jumlah penonton atau pengikut. Santri perlu memastikan bahwa informasi yang disampaikan benar, sumbernya dapat dipertanggungjawabkan, bahasanya santun, dan isinya tidak menyesatkan. Popularitas tanpa tanggung jawab justru dapat merusak tujuan dakwah itu sendiri.

Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi. Santri dapat belajar membuat katalog produk, mengambil foto barang, menulis deskripsi pemasaran, mengelola toko daring, dan membantu pelaku usaha kecil memperluas jangkauan pasar.

Di banyak lingkungan, masyarakat memiliki produk yang baik, tetapi masih menghadapi kendala pemasaran. Santri yang menguasai keterampilan digital dapat membantu memperkenalkan produk tersebut kepada konsumen yang lebih luas. Dengan demikian, kemampuan yang dipelajari di pesantren dapat memberikan dampak langsung bagi penguatan ekonomi masyarakat.

Kecerdasan buatan juga dapat menjadi sarana belajar dan berkarya. Santri dapat menggunakannya untuk mencari inspirasi, menyusun kerangka tulisan, menerjemahkan bahan bacaan, membuat rancangan desain, atau membantu memahami materi yang sulit.

Meski demikian, hasil AI perlu diperiksa kembali, terutama jika menyangkut ayat Al-Qur’an, hadis, hukum Islam, dan informasi ilmiah. Santri tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin atau menyalin hasilnya tanpa memahami kebenaran isinya. Teknologi harus digunakan secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Dengan bekal tersebut, santri dapat menjadi bagian dari masyarakat digital yang tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menghasilkan karya yang mendidik dan bermanfaat.

Kemandirian Ekonomi sebagai Bekal Masa Depan

Tidak semua santri akan menjadi pendakwah, guru agama, atau pengelola lembaga pendidikan. Sebagian akan bekerja di berbagai sektor, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau mengembangkan pengabdian di tengah masyarakat.

Karena itu, santri perlu dibekali kemampuan untuk menentukan pilihan hidup secara mandiri. Kemandirian tidak selalu berarti memiliki usaha besar atau penghasilan tinggi. Kemandirian dapat dimulai dari kemampuan mengelola keuangan pribadi, merencanakan masa depan, mengembangkan keterampilan, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Santri yang memiliki minat dalam bidang kuliner dapat belajar mengembangkan produk makanan khas daerah. Mereka yang tertarik pada pertanian dapat mempelajari pemasaran hasil panen atau pengolahan produk pertanian. Santri yang memiliki kemampuan mengajar dapat mengembangkan bimbingan belajar, pendidikan Al-Qur’an, atau kelas keterampilan bagi anak-anak.

Bagi santri yang melanjutkan pendidikan tinggi, ilmu yang diperoleh juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pesantren dan masyarakat. Ilmu ekonomi dapat membantu pengelolaan usaha, ilmu hukum dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hak dan kewajiban, sedangkan ilmu komunikasi dapat mendukung penyebaran informasi yang lebih efektif.

Pola pikir produktif perlu ditanamkan sejak dini. Santri tidak hanya perlu memikirkan pekerjaan yang akan diperoleh setelah lulus, tetapi juga keterampilan yang dapat dikembangkan dan peluang yang bisa diciptakan. Dengan begitu, mereka tidak semata-mata menunggu kesempatan, tetapi mempersiapkan diri untuk memanfaatkannya.

Kemajuan Harus Tetap Berpijak pada Akhlak

Di tengah dorongan untuk menguasai keterampilan baru, ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: akhlak.

Dalam tradisi pesantren, ilmu dan akhlak merupakan dua hal yang saling berkaitan. Ilmu seharusnya membimbing seseorang untuk bertindak lebih baik, bukan membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Santri boleh memiliki prestasi akademik, menguasai teknologi, sukses dalam bisnis, atau dikenal luas di media sosial. Namun, semua pencapaian itu kehilangan maknanya apabila tidak disertai kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kepedulian.

Keterampilan tanpa tanggung jawab dapat disalahgunakan. Teknologi yang canggih pun dapat menjadi sumber persoalan jika digunakan untuk menyebarkan kebohongan, menipu, atau merendahkan sesama.

Karena itu, santri perlu membiasakan diri menghargai perbedaan, menyampaikan pendapat dengan santun, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, dan mengakui kesalahan ketika keliru. Mereka juga perlu memahami bahwa keberhasilan bukan alasan untuk melupakan orang-orang yang telah membantu proses pendidikannya.

Akhlak bukan penghambat kemajuan. Sebaliknya, akhlak menjadi landasan agar pengetahuan, keterampilan, dan pencapaian tidak kehilangan arah. Santri yang ideal adalah mereka yang mampu menggabungkan kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, keluasan wawasan, dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pesantren Perlu Menyiapkan Santri yang Adaptif

Tanggung jawab membentuk santri yang mandiri dan siap menghadapi perubahan tidak hanya berada di pundak santri sendiri. Pesantren, keluarga, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat juga memiliki peran penting.

Pesantren dapat memperkuat pendidikan agama sekaligus membuka ruang bagi pengembangan keterampilan hidup. Program kewirausahaan, literasi digital, pelatihan menulis, pengelolaan keuangan, komunikasi publik, dan pengabdian masyarakat dapat dikembangkan sesuai karakter masing-masing lembaga.

Hal ini tidak berarti pesantren harus meninggalkan tradisinya demi mengikuti perkembangan zaman. Tradisi yang baik justru perlu dipertahankan dan diperkuat. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menghubungkan kekuatan tradisi dengan kebutuhan masa kini.

Pengasuh dan pendidik dapat memberi kesempatan kepada santri untuk mencoba, berkreasi, berdiskusi, dan mengembangkan kegiatan produktif. Ketika mereka mengalami kegagalan, pendidik dapat membantu mengevaluasi prosesnya agar pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran.

Perguruan tinggi dan dunia usaha juga dapat membuka ruang kolaborasi melalui pelatihan, pendampingan usaha, penelitian, pengembangan teknologi tepat guna, dan pemasaran produk masyarakat pesantren. Pemerintah serta pemangku kepentingan perlu memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas, teknologi, dan jejaring pengembangan usaha.

Semua upaya itu perlu disertai budaya belajar sepanjang hayat. Santri harus memahami bahwa proses belajar tidak berakhir ketika mereka meninggalkan pesantren. Kehidupan akan terus menghadirkan persoalan baru yang membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi.

Menjadi Santri yang Menghadirkan Solusi

Pendidikan pada akhirnya harus membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bermanfaat bagi kehidupan. Ukurannya bukan semata-mata prestasi akademik, melainkan juga bagaimana seseorang menggunakan bekalnya untuk memperbaiki keadaan.

Ketika masyarakat menghadapi persoalan lingkungan, santri dapat ikut menggerakkan kegiatan kebersihan dan pengelolaan sampah. Ketika anak-anak membutuhkan pendampingan belajar, mereka dapat hadir membantu. Ketika pelaku usaha kecil kesulitan memasarkan produk, santri dapat berkontribusi melalui keterampilan digital. Ketika masyarakat membutuhkan penjelasan keagamaan, santri dapat menyampaikan ilmu secara bijak dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak semua perubahan harus dimulai dari proyek besar. Sebuah tulisan yang mencerahkan, usaha kecil yang membuka lapangan pekerjaan, pendampingan sederhana bagi masyarakat, atau konten edukasi yang benar dapat menjadi awal perubahan yang lebih luas.

Setiap santri juga memiliki jalan pengabdian yang berbeda. Tidak semua harus menjadi tokoh terkenal, pengusaha sukses, akademisi, atau pejabat. Ada yang mengabdi melalui pendidikan, ada yang membangun ekonomi keluarga, ada yang merawat lingkungan, dan ada pula yang menjaga kehidupan keagamaan masyarakat. Semua peran memiliki nilai selama dijalankan dengan sungguh-sungguh dan membawa manfaat.

Santri tidak perlu takut menghadapi perkembangan zaman, tetapi juga tidak harus meninggalkan identitas kepesantrenan untuk menjadi modern. Mereka perlu menjaga nilai-nilai luhur sekaligus mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa kini.

Bagi para santri, pilih satu keterampilan untuk dikuasai, satu karya untuk dihasilkan, dan satu persoalan di sekitar untuk dibantu penyelesaiannya. Mulailah menulis, membuat konten edukasi, belajar berwirausaha, mengembangkan kemampuan digital, atau terlibat dalam kegiatan sosial. Jangan menunggu mahir untuk memulai, tetapi teruslah belajar agar setiap langkah menjadi lebih baik.

Bagi para pengasuh dan pengelola pesantren, mari buka lebih banyak ruang bagi santri untuk berkreasi, berlatih, dan mengembangkan potensi. Berikan mereka kesempatan untuk mencoba gagasan baru tanpa mengabaikan adab dan tradisi keilmuan. Sementara itu, perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi nyata agar potensi santri mendapatkan pendampingan dan kesempatan untuk berkembang.

Ajakan ini tidak harus dimulai dengan program besar. Satu pelatihan, satu kelompok usaha, satu karya digital, atau satu kegiatan pengabdian dapat menjadi langkah awal. Jika dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak, langkah-langkah kecil itu dapat tumbuh menjadi gerakan yang membawa perubahan bagi pesantren dan masyarakat.

Santri harus cerdas, bukan sekadar bergelar. Bukan hanya cerdas dalam memahami ilmu, tetapi juga matang dalam bersikap, terampil dalam bekerja, mandiri dalam menjalani kehidupan, dan tulus dalam mengabdi.

Gelar dapat membuka pintu kesempatan, tetapi karakter dan kemampuan menentukan bagaimana kesempatan itu digunakan. Pesantren akan semakin kuat ketika melahirkan generasi yang tidak hanya memahami persoalan umat, tetapi juga berani mengambil bagian dalam menyelesaikannya.

Mari kita buktikan bahwa santri mampu menjaga warisan keilmuan Islam sekaligus menjawab tantangan zaman. Jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi jadilah bagian dari orang-orang yang menggerakkannya. Jangan hanya berbicara tentang kemajuan umat, tetapi mulailah menghadirkannya melalui karya, usaha, dan pengabdian nyata.

Santri yang benar-benar naik kelas bukan hanya mereka yang berhasil meraih gelar, melainkan mereka yang mampu mengubah ilmu menjadi tindakan, tindakan menjadi manfaat, dan manfaat menjadi perubahan bagi masa depan bangsa.

* * *

Editor: Januariansyah Arfaizar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *