Mengenang Pahlawan Nasional Ki Bagus Hadikusumo : Pejuang Agama, Bangsa dan Persatuan Indonesia
Foto: kiriman dari Sudarta
Ketika kita menyebut nama-nama besar perumus dasar negara Indonesia, sering kali yang langsung terbayang adalah Soekarno, Mohammad Hatta, atau para tokoh lain yang namanya terukir di lembaran buku sejarah secara lebih menonjol. Namun di balik lahirnya Piagam Jakarta dan Pembukaan UUD 1945, ada satu nama yang perannya begitu besar, namun namanya sering kali kurang mendapat sorotan yang selayaknya. Beliau adalah Ki Bagus Hadikusumo — seorang ulama, pemikir, sekaligus pemimpin yang membuktikan bahwa iman dan cinta tanah air bisa berjalan beriringan, dan bahwa persatuan bangsa adalah harga yang tak boleh ditawar.
Ki Bagus Hadikusumo lahir di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1890. Sejak muda, beliau dikenal sebagai sosok yang luas wawasannya. Bukan hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga cermat memperhatikan perkembangan zaman dan kepentingan bersama. Beliau adalah ulama, pendidik, sekaligus pengusaha yang sepenuh hidupnya dicurahkan untuk kemajuan umat dan kemerdekaan bangsa. Puncak pengabdiannya di jalur organisasi terwujud ketika beliau dipercaya memegang tampuk pimpinan Muhammadiyah sebagai Ketua Umum, jabatan yang diembannya selama hampir dua dekade, dari tahun 1934 hingga 1953. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah tidak hanya tumbuh sebagai gerakan dakwah yang memperbaiki akhlak dan mencerdaskan kehidupan umat, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang kokoh berdiri di tengah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Peran paling bersejarah Ki Bagus Hadikusumo terungkap ketika beliau menjadi anggota Panitia Sembilan, kelompok yang diberi mandat merumuskan dasar negara yang kelak menjadi fondasi berdirinya Republik Indonesia. Saat itu, bangsa sedang berada di persimpangan yang sangat menentukan. Berbagai latar belakang suku, budaya, dan keyakinan harus disatukan dalam satu kerangka negara yang adil dan merata. Di sinilah Ki Bagus Hadikusumo menunjukkan kebesaran jiwanya. Beliau bersama tokoh-tokoh lain menyusun Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945, sebuah dokumen yang menjadi cikal bakal dasar negara kita. Dalam perumusan itu, beliau berjuang agar nilai-nilai luhur keagamaan mendapat tempat yang layak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa mengorbankan keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Namun ujian terbesar justru datang sesudahnya. Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, suasana berubah menjadi sangat menegangkan. Muncul kekhawatiran dari kalangan saudara kita yang beragama lain terkait tujuh kata yang tertulis pada sila pertama Piagam Jakarta: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Di saat itulah, di hadapan tokoh-tokoh bangsa seperti Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, dan Soekarno, Ki Bagus Hadikusumo mengambil keputusan yang mengguncang hati sekaligus menginspirasi sepanjang masa.
Ketika Mohammad Hatta menyampaikan kekhawatiran dari saudara-saudara kita di wilayah timur yang keberatan dengan rumusan tersebut, Ki Bagus Hadikusumo dengan tenang namun tegas menyampaikan pandangannya. Beliau berkata bahwa perjuangannya selama ini bukan untuk diri sendiri, bukan untuk kelompok tertentu saja, melainkan untuk agama, bangsa, dan Indonesia. Ketika ditanya apakah penghapusan tujuh kata itu tidak mengurangi semangat perjuangan dan nilai-nilai Islam, beliau memberikan jawaban yang menjadi tonggak sejarah persatuan: bahwa yang terpenting adalah persatuan bangsa, dan bahwa keutuhan negara lebih tinggi daripada sekadar rumusan kalimat. Dengan kerelaan hati yang penuh keikhlasan, beliau menyetujui penghapusan tujuh kata tersebut, sehingga sila pertama berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” — rumusan yang merangkul seluruh anak bangsa tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Keputusan ini mungkin terlihat sederhana di atas kertas, namun di baliknya tersimpan kebesaran jiwa yang luar biasa. Bayangkan, beliau adalah seorang tokoh agama yang telah berjuang keras meletakkan nilai-nilai keimanan di dasar negara. Namun ketika persatuan bangsa terancam, beliau rela melepaskan apa yang diperjuangkannya demi keutuhan bersama. Bukan karena beliau tidak menghargai nilai-nilai agama yang dijunjungnya, justru karena beliau memahami bahwa esensi dari ajaran yang dibawanya adalah kasih sayang, persaudaraan, dan kebersamaan. Seperti kata beliau sendiri: “Saya berjuang bukan untuk kemenangan satu golongan, tetapi untuk tegaknya keadilan dan persatuan di seluruh Indonesia.”
Kisah Ki Bagus Hadikusumo mengajarkan kita pelajaran yang sangat berharga, terutama di masa kini yang sering kali diwarnai perpecahan dan kepentingan kelompok. Beliau menunjukkan bahwa menjadi pemimpin yang beriman tidak berarti harus menutup diri dari perbedaan. Sebaliknya, iman yang sejati justru melahirkan kerendahan hati untuk menghargai orang lain dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. Beliau membuktikan bahwa kita bisa teguh memegang prinsip sekaligus terbuka bekerja sama dengan siapa saja demi tujuan yang lebih besar — kemajuan dan kebahagiaan seluruh bangsa.
Warisan pemikiran dan keteladanan Ki Bagus Hadikusumo masih sangat relevan hingga hari ini. Di tengah tantangan yang kita hadapi, di mana perbedaan sering kali dijadikan alasan untuk saling menjauhkan, sosok beliau mengingatkan kita bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan, dijaga, dan terkadang — seperti yang dilakukan beliau — harus dipertahankan dengan kerelaan berkorban. Bahwa kita bisa berbeda dalam keyakinan, berbeda dalam latar belakang, namun tetap satu bangsa, satu tanah air, dan memiliki cita-cita yang sama untuk membangun Indonesia yang adil dan makmur.
Ki Bagus Hadikusumo telah tiada, namun semangatnya terus hidup dalam setiap lembar Undang-Undang Dasar 1945 yang kita junjung bersama. Namanya mungkin tidak selalu disebut setiap kali kita memperingati hari kemerdekaan, namun jasa-jasanya terpatri dalam keutuhan negara yang kita nikmati hari ini. Beliau mengajarkan kita bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang mengangkat senjata di medan perang, tetapi juga mereka yang berani menahan diri, berbesar hati, dan mengutamakan persatuan di saat-saat yang paling sulit.
Mengenang Ki Bagus Hadikusumo berarti mengenang semangat kebersamaan yang tak pernah luntur. Beliau adalah bukti nyata bahwa ketika iman dipadukan dengan kebijaksanaan, dan ketika cinta tanah air diwujudkan dalam tindakan nyata, maka bangsa ini akan tetap berdiri tegak meski dihantam gelombang perbedaan. Semoga kita semua — terutama generasi penerus — dapat mengambil teladan dari beliau: menjadi orang yang teguh pada prinsip, namun tetap rendah hati, menjadi orang yang mencintai keyakinannya, sekaligus menghormati keyakinan orang lain, dan selalu berjuang untuk persatuan yang sesungguhnya.
Seperti pesan yang beliau tinggalkan untuk kita semua: “Satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa — dan semoga di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Esa, Indonesia tetap berdiri tegak dalam persatuan selamanya.”
***
Penulis: Sudarta – Akademisi UMPalembang dan Ketua PDM Ogan Ilir