Dari Kesenangan Sesaat Menuju Kebahagiaan Hakiki: Delayed Gratification sebagai Nilai dalam Keluarga Sakinah Muhammadiyah
Coba bayangkan sejenak, kapan terakhir kali Anda benar-benar harus menunggu? Saat lapar, kita tinggal membuka aplikasi, memilih menu, lalu makanan datang beberapa menit kemudian. Ingin membeli pakaian baru? Cukup beberapa sentuhan di layar ponsel, barang sudah dalam perjalanan menuju rumah. Bahkan ketika rasa bosan datang, media sosial selalu siap menjadi pelarian. Cukup melihat notifikasi atau menerima beberapa tanda suka (like), suasana hati pun bisa berubah.
Tanpa disadari, kehidupan modern membuat hampir semua kebutuhan terasa begitu mudah dipenuhi. Segala sesuatu tersedia dengan cepat, praktis, dan hanya berjarak satu sentuhan jari. Kemudahan ini memang membantu aktivitas sehari-hari, tetapi di sisi lain juga membawa kebiasaan baru yang perlahan membentuk cara berpikir dan bertindak masyarakat.
Para ahli menyebut fenomena tersebut sebagai instant gratification atau kepuasan instan, yakni kecenderungan untuk menginginkan hasil atau kepuasan secepat mungkin tanpa harus menunggu atau melalui proses yang panjang. Akibatnya, banyak orang mulai terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan secara instan sehingga kemampuan untuk bersabar, berproses, dan menunda kepuasan sedikit demi sedikit mulai memudar.
Namun, di balik berbagai kemudahan yang kita nikmati saat ini, ada sisi lain yang patut menjadi perhatian. Kehidupan yang serba cepat perlahan membentuk kebiasaan ingin mendapatkan segala sesuatu secara instan. Akibatnya, daya tahan mental sebagian orang menjadi semakin rentan ketika harus menghadapi kenyataan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dampaknya pun mulai terlihat di lingkungan terdekat, yakni keluarga. Tidak sedikit masyarakat yang terjerat utang PINJOL hanya untuk memenuhi gaya hidup atau keinginan sesaat. Di sisi lain, banyak anak muda yang mudah merasa kecewa, cemas, bahkan mengalami tekanan psikologis karena berharap kesuksesan dapat diraih dalam waktu singkat, tanpa melalui proses yang panjang.
Di tengah kondisi tersebut, kita memerlukan kemampuan untuk mengendalikan diri. Dalam psikologi, kemampuan itu dikenal dengan istilah delayed gratification, yaitu kesanggupan menunda kepuasan sesaat demi memperoleh manfaat yang lebih besar pada masa yang akan datang. Bagi warga Muhammadiyah, nilai ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Prinsip tersebut telah lama hidup dalam ajaran Islam yang menekankan kesabaran, pengendalian diri, dan ikhtiar yang berkesinambungan sebagai fondasi dalam membangun keluarga yang sakinah, penuh ketenangan, dan berorientasi pada kebahagiaan jangka panjang.
Salah satu penelitian yang paling dikenal mengenai kemampuan mengendalikan diri adalah Marshmallow Experiment yang dipelopori psikolog Walter Mischel di Universitas Stanford. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menunda kepuasan cenderung memiliki kemampuan pengendalian diri yang lebih baik. Berbagai penelitian lanjutan juga menunjukkan bahwa kemampuan tersebut berkaitan dengan pengambilan keputusan yang lebih bijaksana, termasuk dalam pengelolaan keuangan dan kesejahteraan psikologis. Namun, para peneliti menegaskan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menunda kepuasan, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor keluarga, lingkungan, dan kesempatan yang dimiliki.
Konsep menunda kesenangan sangat sesuai dengan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Dalam panduan keluarga sakinah, Muhammadiyah dengan tegas mengingatkan kita untuk menjauhi perilaku tabzir (menyia-nyiakan harta/waktu) dan israf (berlebih-lebihan).
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga selalu menekankan bahwa kebahagiaan keluarga itu tidak diukur dari rumah yang paling mewah atau barang serba mewah yang dibeli secara instan. Kebahagiaan Autentik ada pada rasa tenang (tumaninah), keberkahan, dan kemampuan seluruh anggota keluarga untuk saling bersabar.
Kalau ditarik ke akarnya, delayed gratification ini adalah nama modern dari Sabar dan Zuhud. Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran Ayat 200. “Yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”
Dalam kehidupan sehari-hari, mempraktikkan ayat ini berarti: menahan diri tidak gonta-ganti HP baru, atau menahan amarah sesaat saat pulang kerja demi menjaga senyuman di rumah agar keluarga dirumah merasakan kebahagiaan
Bagaimana cara melatih kebiasaan baik ini di tengah gempuran zaman yang serba instan?
- Ajarkan Anak Bedanya “Butuh” dan “Ingin”: Berdasarkan studi dari Journal of Family and Economic Issues, anak yang sejak kecil diajarkan mengelola keinginan akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Kalau anak minta mainan baru, jangan langsung dibelikan. Ajarkan mereka proses: menabung dulu atau membantu pekerjaan yang ringan di rumah . Biar mereka tahu kalau segala sesuatu itu butuh perjuangan.
- Jadikan Puasa sebagai Latihan: Puasa adalah contoh paling konkret dari menunda kesenangan. Kita menahan lapar dan haus yang sebetulnya halal di siang hari, demi apa? Demi rida Allah dan nikmatnya waktu berbuka. Ini adalah latihan mental daan mengasah kesabaran
- Batasi Penggunaan Gawai/Gadget , Perbanyak Interaksi bermakna: Menahan diri untuk tidak scrolling media sosial saat bersama pasangan atau anak adalah bentuk delayed gratification yang sangat mahal hari ini. letakkan HP-mu, dengarkan cerita mereka. Keteladanan (uswah hasanah) dari orang tua adalah kunci utama.
Kesenangan instan itu mirip seperti makan permen: manis di awal, tapi cepat hilang dan bikin sakit gigi kalau berlebihan. Sebaliknya, kebahagiaan hakiki butuh proses menanam dan merawat.
Keluarga Sakinah Muhammadiyah yang mampu menerapkan prinsip ini akan melahirkan generasi yang kuat bukan generasi yang lembek dan gampang menyerah. Karena mereka tahu betul, masa depan yang cerah dan surga-Nya Allah tidak bisa didapatkan lewat jalan pintas, melainkan lewat rajutan kesabaran, kerja keras, dan doa yang konsisten.
*
Penulis: Marta Pujiono (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)
- Seluruh isi tulisan opini merupakan tanggung jawab penuh penulis dan tidak mencerminkan sikap maupun tanggung jawab Redaksi Swarnaberita.com.
- Rubrik Opini di Swarnaberita.com terbuka bagi masyarakat umum. Naskah ditulis dengan panjang maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
- Penulis wajib mencantumkan nama lengkap, profesi, foto diri, serta nomor telepon yang dapat dihubungi oleh redaksi.
- Naskah opini dapat dikirim melalui www.swarnaberita.com atau melalui email beritaswarna@gmail.com.
- Redaksi memiliki hak editorial untuk melakukan penyuntingan seperlunya maupun menentukan layak atau tidaknya naskah ditayangkan di Swarnaberita.com.
