Ketika Kita Sibuk Memperdebatkan Kotak, tetapi Melupakan Angin
Ketika Kita Sibuk Memperdebatkan Kotak, tetapi Melupakan Angin - Foto: Istimewa
Oleh: Dr. Bakhrum Amir, M.Ed.
Dosen Universitas Al-Qur’an Ittifaqiah (UQI) Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
* * *
Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pikiran, melainkan juga cermin yang memperlihatkan bagaimana seseorang memahami kenyataan. Dalam pragmatik, sebuah tuturan tidak cukup dimaknai dari rangkaian kata yang terdengar, tetapi harus dibaca melalui konteks, maksud, dan situasi yang melatarbelakanginya. Di balik kata-kata yang diucapkan, sering tersimpan hal yang lebih penting: apa yang sesungguhnya terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan mengapa sebagian orang memilih membicarakan satu hal sambil mengabaikan hal lainnya. Di sinilah kejernihan nalar diuji, bukan hanya dalam kemampuan berbicara, tetapi terutama dalam keberanian membaca tanda-tanda di balik suatu peristiwa. Seperti tuturan yang tak dapat dipahami lepas dari konteksnya, sebuah peristiwa pun tak dapat dipahami tanpa membaca arah yang membawanya. Perumpamaan berikut barangkali dapat memperjelasnya.
Sudah bertahun-tahun orang merasakan, bahkan meneriakkan, bahwa angin bertiup begitu kencang ke arah utara. Hingga suatu hari, angin itu menerbangkan sebuah kotak, membawanya ke utara, lalu menjatuhkannya tepat mengenai kepala seseorang yang sedang berdiri tegap memimpin barisan.
Peristiwa itu mendadak mengundang suara para ahli angin. Ada yang mencela, “Angin itu bertiup tanpa adab.” Ada pula yang berseru, “Kotak itu sengaja dilemparkan dengan memanfaatkan kekuatan tiupan angin agar meliuk-liuk ke utara dan menghantam kepala pemimpin barisan.”
Sungguh menarik. Mereka yang selama ini mengerti ilmu angin, memahami arah embusannya, bahkan menggantungkan profesi pada pengetahuan tentang angin, tiba-tiba lebih sibuk memperdebatkan kotak yang terbang dan kepala yang tertimpa. Seolah-olah arah angin yang selama bertahun-tahun mereka rasakan dan pahami tidak lagi menjadi bagian dari ingatan mereka.
Lantas, muncul pertanyaan: apakah pendidikan di Indonesia belum cukup berhasil menanamkan pemahaman tentang pentingnya logika dan kecakapan menggunakannya untuk menjaga kejernihan berpikir? Ataukah pendidikan kita justru sedang melahirkan varian baru dalam ilmu logika, sehingga cara masyarakat bernalar berubah? Perubahan itu membuat orang lebih gemar mengomentari akibat daripada menelusuri sebab, dan lebih sibuk memperdebatkan peristiwa daripada memahami proses yang melahirkannya.
Pengetahuan yang sesungguhnya telah menyediakan tanda, gejala, dan petunjuk untuk membaca keadaan secara nyata dan terukur pun terabaikan.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Āli ʿImrān [3]: 190–191)
Ayat ini memperkenalkan karakter ulul albab, yakni orang-orang yang tidak berhenti pada pengamatan permukaan, tetapi merenungkan secara mendalam fenomena dan tanda-tanda yang ada.
Pengakuan bahwa Allah tidak menciptakan semua ini sia-sia menegaskan bahwa tidak ada kejadian tanpa sebab. Kesejajarannya dengan perumpamaan di atas bahkan lebih terang dalam QS. Al-Baqarah [2]: 164, yang menyebut pengaturan arah angin (taṣrīf ar-riyāḥ) sebagai tanda bagi kaum yang berakal. Orang yang berakal tidak hanya melihat kotak yang jatuh, tetapi juga berusaha memahami keseluruhan fenomena yang menyebabkan kotak itu terbang.
Peristiwa 4 November 2026 seakan mengingatkan kita bahwa angin tidak pernah benar-benar berhenti bertiup hanya karena sebagian orang memilih untuk tidak mendengarnya. Selama bertahun-tahun, arah angin telah dibicarakan, tanda-tandanya telah disampaikan, bahkan suaranya terdengar dari berbagai penjuru. Namun, gemerlap kekuasaan rupanya membuat sebagian orang terlena, sementara sebagian lainnya lebih sibuk memperdebatkan kotak yang jatuh daripada membaca dari mana angin itu datang.
Barangkali inilah ironi terbesar sebuah bangsa: bukan karena kekurangan orang pandai membaca keadaan, melainkan karena terlalu banyak orang pandai yang kehilangan keberanian untuk menyampaikan apa yang sebenarnya mereka pahami. Sebab, ketika akal sehat dikalahkan oleh silau kekuasaan, yang kehilangan arah bukan hanya mereka yang dipimpin, tetapi juga mereka yang seharusnya menjadi penunjuk arah.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi bangsa dan negara kita serta menganugerahkan arah yang lebih baik menuju keamana, kedamaian dan kesejahteraan.