Harga Emas Dunia Anjlok 16,51 Persen dalam Enam Bulan, Ini Penyebab dan Prospeknya

0
Harga Emas Dunia Anjlok 16,51 Persen dalam Enam Bulan, Ini Penyebab dan Prospeknya - www.swarnaberita.com

Harga Emas Dunia Anjlok 16,51 Persen dalam Enam Bulan, Ini Penyebab dan Prospeknya

SWARNABERITA.COM – Harga emas dunia mengalami tekanan cukup tajam dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini terlihat dari penurunan harga logam mulia yang mencapai 16,51 persen, di tengah dinamika ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip data Trading Economics, Senin (2/11), harga emas dunia berada di level US$3.912,8 per troy ounce. Angka tersebut turun US$773,5 dibandingkan posisi enam bulan sebelumnya.

Pelemahan juga terlihat dalam pergerakan harga secara bulanan dan tahunan. Dalam satu bulan terakhir, harga emas terkoreksi sebesar 5,89 persen, sementara secara tahunan mengalami penurunan 2,66 persen.

Trading Economics bahkan memperkirakan harga emas berpotensi berada di level US$3.815,16 pada kuartal IV.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan harga emas dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Di antaranya adalah penunjukan Kevin Warsh sebagai calon pejabat bank sentral Amerika Serikat serta konflik AS-Iran yang berdampak terhadap pasokan energi dunia.

Menurut Ibrahim, penunjukan Warsh turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, serta blokade yang dilakukan Iran, ikut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

“Yang akhirnya membuat apa? Membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan. Kenapa mengalami kenaikan? Karena jalur transportasi Selat Hormuz ini 20% minyak itu melalui Selat Hormuz,” kata Ibrahim kepada Katadata.

Ia menerangkan, kenaikan harga minyak dunia memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Meningkatnya harga energi mendorong kenaikan biaya logistik dan transportasi, yang kemudian berpotensi memperbesar tekanan inflasi, terutama di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika harga bahan bakar seperti bensin dan solar mengalami kenaikan. Tekanan inflasi yang meningkat pada akhirnya turut memengaruhi prospek kebijakan suku bunga The Fed.

Apabila suku bunga AS bertahan pada level tinggi, daya tarik emas sebagai instrumen investasi berpotensi melemah. Pasalnya, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga, sehingga investor dapat beralih ke instrumen lain yang menawarkan keuntungan lebih tinggi.

Meski demikian, Ibrahim menilai penurunan harga emas saat ini belum tentu mencerminkan perubahan prospek logam mulia dalam jangka panjang. Ia memandang koreksi tersebut masih merupakan dinamika yang wajar di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Menurutnya, emas tetap memiliki posisi penting sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven, terutama ketika kondisi ekonomi dunia menghadapi tekanan.

Ibrahim memperkirakan harga emas berpeluang kembali menguat apabila konflik AS-Iran mereda, harga minyak mentah dunia turun di bawah US$60 per barel, serta The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneternya melalui penurunan suku bunga.

“Jadi intinya, kesimpulannya bahwa safe haven, yaitu logam mulia. Kalau secara jangka pendek mengalami penurunan itu adalah hal yang wajar,” ujarnya.

Dengan demikian, meskipun harga emas sedang mengalami koreksi, prospek logam mulia sebagai aset lindung nilai masih menjadi perhatian investor. Perkembangan konflik geopolitik, pergerakan harga energi, serta arah kebijakan suku bunga AS akan menjadi sejumlah faktor penting yang memengaruhi perjalanan harga emas ke depan.

* * *

(Sumber berita diolah dari Katadata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *