Ketahanan Dimulai dari Pesantren
Ketahanan Dimulai dari Pesantren - Foto: Istimewa
Oleh: Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, M.A.
Mudir ‘Aam Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Dunia sedang mengajarkan satu pelajaran penting: tidak ada kekuatan yang benar-benar abadi apabila tidak ditopang oleh kemandirian dan ketahanan. Kekuasaan politik bisa berubah, peta ekonomi dapat bergeser, teknologi bisa mengalami gangguan, bahkan sistem yang selama ini dianggap paling kuat sekalipun dapat menghadapi keterbatasan.
Hasil Pemilu Paruh Waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026 menjadi salah satu gambaran menarik. Partai Demokrat berhasil merebut kendali DPR dan Senat dari Partai Republik. Kemenangan tersebut menjadi pukulan politik bagi Presiden Donald Trump dan menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah tetap berada dalam pengawasan rakyat. Persoalan biaya hidup, inflasi, kebijakan perang, dan berbagai isu pemerintahan ikut menjadi perhatian pemilih.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa sebesar apa pun kekuasaan seorang pemimpin, pada akhirnya rakyat tetap memiliki ruang untuk memberikan penilaian. Tidak ada kekuasaan yang sepenuhnya kebal terhadap perubahan aspirasi masyarakat.
Namun, ada pelajaran lain yang tidak kalah penting untuk kita renungkan. Ketahanan sebuah bangsa tidak cukup dibangun melalui kekuatan politik, ekonomi, atau teknologi semata. Ketahanan harus dibangun dari kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, menjaga lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan, memperkuat keluarga, dan yang paling mendasar adalah memelihara keimanan.
Dari sinilah kita perlu mulai berbicara tentang program ketahanan yang terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan, termasuk di lingkungan pesantren.
Jangan Terlalu Bergantung pada Sistem
Hari ini, hampir seluruh kehidupan manusia terhubung dengan teknologi digital. Transaksi keuangan, perdagangan, pendidikan, komunikasi, transportasi, hingga pelayanan publik semakin bergantung pada internet dan berbagai sistem elektronik.
Kemajuan ini tentu harus disambut. Pesantren juga tidak boleh tertinggal dalam penguasaan teknologi informasi, kecerdasan buatan (AI), dan berbagai inovasi digital. Teknologi dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas jaringan ekonomi, memperkuat tata kelola lembaga, dan membangun daya saing santri.
Akan tetapi, kita juga perlu menyadari bahwa teknologi bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri. Sistem digital diciptakan, dikembangkan, dan dijalankan oleh manusia. Di balik kecanggihan sebuah aplikasi terdapat pengetahuan, keterampilan, infrastruktur, energi, dan kerja manusia.
Bayangkan apabila suatu saat terjadi gangguan besar pada jaringan internet, sistem pembayaran digital, pusat data, atau pasokan listrik. Aktivitas yang selama ini terasa mudah dapat mendadak terhenti. Komunikasi terganggu, transaksi tidak berjalan, distribusi barang tersendat, bahkan kegiatan pendidikan dan pelayanan masyarakat dapat mengalami hambatan.
Karena itu, kita tidak boleh hanya menyiapkan diri untuk hidup dalam keadaan normal. Kita juga harus memiliki kemampuan bertahan ketika keadaan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Teknologi harus dikuasai, tetapi ketergantungan mutlak terhadap teknologi harus dihindari. Kemampuan digital perlu berjalan beriringan dengan keterampilan manual, pengetahuan praktis, kemandirian ekonomi, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat.
Di sinilah pentingnya membangun ketahanan dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, dan pesantren.
Enam Pilar Ketahanan
Pesantren pada dasarnya memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi pusat pengembangan ketahanan masyarakat. Pesantren bukan sekadar tempat belajar ilmu agama, melainkan juga ruang pembentukan karakter, pengembangan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kehidupan sosial.
Atas dasar pemikiran tersebut, sudah saatnya lembaga pesantren mengembangkan program ketahanan yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan hari ini, tetapi juga mempersiapkan generasi dan masyarakat menghadapi tantangan masa depan.
Dalam konteks ini, terdapat enam pilar ketahanan yang dapat dikembangkan secara bertahap dan terintegrasi.
Pertama, ketahanan energi.
Energi listrik telah menjadi kebutuhan mendasar bagi kehidupan modern. Kegiatan pendidikan, produksi pangan, pelayanan kesehatan, komunikasi, hingga aktivitas ekonomi sangat bergantung pada ketersediaan energi.
Sementara itu, sumber energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara memiliki keterbatasan. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap sumber energi tersebut juga dapat menimbulkan persoalan ekonomi dan lingkungan.
Karena itu, pengembangan energi terbarukan perlu menjadi prioritas. Salah satu pilihan yang layak dikembangkan adalah pembangkit listrik tenaga surya melalui pemanfaatan panel surya.
Pesantren dapat mulai merancang penggunaan energi matahari untuk memenuhi sebagian kebutuhan listrik, misalnya pada fasilitas pendidikan, asrama, penerangan, pompa air, dan unit usaha. Pengembangan dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan pembiayaan dan kebutuhan lembaga.
Lebih jauh, pesantren dapat menjadi tempat pendidikan dan praktik pemanfaatan energi terbarukan bagi para santri dan masyarakat sekitar.
Kedua, ketahanan pangan.
Pangan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Sebuah lembaga boleh memiliki gedung megah, fasilitas pendidikan modern, dan jaringan teknologi yang luas, tetapi semuanya akan menghadapi persoalan serius apabila kebutuhan pangan tidak tersedia.
Karena itu, penguasaan dan pemanfaatan lahan produktif harus menjadi perhatian penting. Tanah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai aset investasi atau kawasan pembangunan, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga produktivitasnya.
Pesantren dapat mengembangkan lahan pertanian untuk menanam padi, palawija, kedelai, dan berbagai komoditas pangan lainnya. Lahan darat dapat dimanfaatkan untuk perkebunan produktif, hortikultura, dan tanaman yang memiliki nilai ekonomi.
Selain pertanian, peternakan ayam, sapi, kambing, serta budidaya ikan juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem pangan pesantren.
Produksi pangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga dapat menjadi unit usaha yang memberikan nilai tambah ekonomi. Hasil pertanian dan peternakan dapat diolah menjadi produk pangan, dipasarkan, dan dikembangkan melalui jaringan usaha pesantren.
Dengan demikian, ketahanan pangan tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen, tetapi berkembang menjadi sistem produksi, pengolahan, distribusi, dan pemasaran.
Ketiga, ketahanan lingkungan.
Ketahanan pangan dan energi tidak akan berjalan baik apabila lingkungan mengalami kerusakan. Hutan berkurang, sumber air tercemar, tanah kehilangan kesuburan, dan udara semakin tidak sehat merupakan persoalan yang dapat mengancam kehidupan generasi mendatang.
Menjaga lingkungan bukan sekadar kegiatan penghijauan seremonial. Ia harus menjadi budaya dan bagian dari tata kelola lembaga.
Pesantren dapat memulai dengan menjaga ruang terbuka hijau, menanam pohon produktif, mengelola sampah, mengembangkan kompos, menghemat air, dan menjaga sumber-sumber air di lingkungan sekitar.
Santri perlu dididik agar memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Lingkungan yang sehat adalah warisan yang harus disiapkan untuk generasi berikutnya.
Keempat, ketahanan teknologi.
Pesantren tidak boleh menjadi penonton dalam perkembangan teknologi. Santri harus dibekali kemampuan memahami, menggunakan, dan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan zaman.
Penguasaan teknologi informasi, kecerdasan buatan, keamanan digital, literasi data, serta keterampilan komunikasi modern perlu menjadi bagian dari pengembangan kompetensi santri.
Namun, penguasaan teknologi tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan perangkat. Santri juga harus memiliki kesadaran etis agar teknologi digunakan untuk kebaikan, bukan untuk penipuan, manipulasi, penyebaran kebencian, atau tindakan yang merugikan orang lain.
Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat kemaslahatan, bukan justru menjadi sarana yang melemahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Kelima, ketahanan keluarga dan komunitas.
Keluarga merupakan unit terkecil yang menentukan kuat atau lemahnya masyarakat. Sebuah lembaga pendidikan juga tidak dapat berdiri kokoh apabila keluarga dan lingkungan sosial di sekitarnya rapuh.
Karena itu, ketahanan keluarga perlu dibangun melalui pendidikan, agama, komunikasi yang sehat, penguatan ekonomi, serta penanaman tanggung jawab antargenerasi.
Pesantren memiliki peluang besar untuk memperluas peran tersebut. Pendidikan tidak hanya diberikan kepada santri, tetapi juga dapat menjangkau orang tua, alumni, masyarakat sekitar, dan komunitas yang lebih luas.
Jaringan alumni, wali santri, masyarakat, serta mitra lembaga dapat dikembangkan menjadi kekuatan sosial dan ekonomi yang saling mendukung.
Dengan demikian, pesantren tidak menjadi institusi yang berdiri sendiri, melainkan menjadi pusat penguatan masyarakat.
Keenam, ketahanan iman.
Inilah pilar yang menjadi fondasi seluruh ketahanan lainnya.
Energi dapat habis, pangan dapat mengalami kelangkaan, teknologi dapat mengalami gangguan, dan kekuatan ekonomi dapat melemah. Namun, manusia yang memiliki iman, ilmu, dan akhlak akan mempunyai pegangan untuk menghadapi berbagai perubahan.
Ketahanan iman bukan hanya tentang pengetahuan agama, tetapi juga bagaimana nilai-nilai keimanan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran dalam bekerja, amanah dalam mengelola sumber daya, kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab menjaga alam, serta keberanian menolak kezaliman merupakan bagian dari manifestasi iman.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah dan harus senantiasa berikhtiar. Tawakal bukan berarti menyerahkan segala sesuatu tanpa usaha, melainkan melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh sembari menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Karena itu, ketahanan iman harus menjadi ruh yang menghidupkan lima pilar ketahanan lainnya.
Al-Ittifaqiah dan Ikhtiar Membangun Pesantren yang Tangguh
Enam pilar ketahanan tersebut bukan sekadar gagasan konseptual. Ia dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang dimulai dari lingkungan pesantren.
Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, memiliki kesempatan untuk mengambil peran dalam mengembangkan model pesantren yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan pembinaan keagamaan, tetapi juga kuat dalam kemandirian energi, pangan, ekonomi, teknologi, lingkungan, dan kehidupan sosial.
Gagasan ini dapat menjadi arah pengembangan Program Ketahanan Yayasan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah untuk jangka menengah dan panjang.
Program tersebut dapat dimulai melalui pemetaan potensi dan kebutuhan lembaga. Berapa kebutuhan listrik harian pesantren? Berapa kebutuhan pangan santri dan tenaga pendidik? Berapa luas lahan yang tersedia dan dapat dikembangkan? Unit usaha apa yang paling memungkinkan? Teknologi apa yang perlu dikuasai? Bagaimana penguatan keluarga besar pesantren dan masyarakat sekitar dapat dilakukan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui perencanaan yang terukur, bukan sekadar semangat dan slogan.
Pelaksanaannya juga dapat dilakukan secara bertahap. Tahap awal diarahkan pada pemetaan aset, penyusunan rencana induk, dan penentuan prioritas. Tahap berikutnya berupa pengembangan proyek percontohan, seperti pertanian pangan, peternakan, budidaya ikan, penghijauan, dan pemanfaatan energi surya. Selanjutnya, program dapat diperluas melalui pengembangan unit usaha, pendidikan keterampilan, kerja sama, serta pelibatan alumni dan masyarakat.
Agar berkelanjutan, setiap pilar harus memiliki pengelola, target, indikator keberhasilan, dan evaluasi berkala. Program ketahanan juga perlu terintegrasi dengan pendidikan santri sehingga mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut belajar, mengelola, dan mengembangkan program tersebut.
Dengan cara ini, pesantren dapat menjadi laboratorium kehidupan. Santri belajar pertanian bukan hanya dari buku, tetapi juga dari sawah. Mereka belajar ekonomi bukan hanya dari teori, tetapi juga dari proses produksi dan pemasaran. Mereka belajar teknologi bukan hanya dari perangkat digital, tetapi juga dari praktik pemecahan masalah. Dan mereka belajar agama dengan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.
Pada akhirnya, keberhasilan program ketahanan bukan semata-mata diukur dari banyaknya fasilitas yang dibangun atau luasnya lahan yang dikuasai. Ukurannya adalah sejauh mana pesantren mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, mengurangi ketergantungan yang berisiko, meningkatkan kesejahteraan, serta memberikan manfaat kepada masyarakat.
Kemandirian adalah Bagian dari Ikhtiar
Kita tidak pernah tahu secara pasti bagaimana dunia akan berubah dalam sepuluh, dua puluh, atau lima puluh tahun mendatang. Bisa jadi teknologi yang hari ini dianggap paling canggih akan tergantikan oleh teknologi baru. Sumber energi yang sekarang dominan mungkin suatu saat semakin terbatas. Peta ekonomi dan politik dunia juga dapat berubah sewaktu-waktu.
Namun, ada satu prinsip yang tidak boleh berubah: manusia harus selalu mempersiapkan diri.
Pesantren perlu mendidik santri agar mampu membaca perubahan, menguasai ilmu pengetahuan, bekerja secara produktif, menjaga alam, membangun kehidupan sosial yang sehat, dan tetap berpegang teguh pada iman.
Kemandirian energi, pangan, lingkungan, dan teknologi bukan berarti menutup diri dari kerja sama atau menolak kemajuan. Justru kemandirian membuat kita lebih siap bekerja sama, lebih kuat menghadapi krisis, dan tidak mudah kehilangan arah ketika keadaan berubah.
Al-Ittifaqiah dapat memulai ikhtiar ini dari lingkungan sendiri, kemudian memperluas manfaatnya kepada masyarakat sekitar. Apa yang dimulai dari pesantren diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan dan komunitas lainnya.
Sebab, pesantren yang kuat bukan hanya pesantren yang mampu mencetak generasi berilmu, tetapi juga generasi yang sanggup menjaga kehidupan, mengelola sumber daya, menghadapi perubahan, dan memberi manfaat bagi sesama.
Enam pilar ketahanan itu harus berdiri di atas satu fondasi utama: iman kepada Allah SWT. Sebab, segala ikhtiar manusia memiliki batas, sedangkan kekuasaan Allah tidak terbatas.
* * *
Editor: Januariansyah Arfaizar