Ust. Tanto: Belajar I‘rab, Melatih Ketelitian dan Menanamkan Adab dalam Menuntut Ilmu

0
Ust. Tanto Belajar I‘rab, Melatih Ketelitian dan Menanamkan Adab dalam Menuntut Ilmu - www.swarnaberita.com

Ust. Tanto Priadi, S.H., Mudir Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Kampus Lecah, Muara Enim. - Foto: Istimewa

MUARA ENIM, SWARNABERITA.COM – Belajar bahasa Arab bukan sekadar menghafal kosakata atau memahami perubahan harakat di akhir kata. Lebih dari itu, proses belajar bahasa Arab, termasuk mempelajari i‘rab, mengajarkan ketelitian, kesabaran, keberanian untuk mencoba, serta pentingnya menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Pesan tersebut disampaikan Ust. Tanto Priadi, S.H., Mudir Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Kampus Lecah, Muara Enim, Sumatera Selatan, dalam wawancara melalui telepon pada Ahad (1/11/2026) pukul 06.37 WIB.

Menurutnya, proses menuntut ilmu membutuhkan latihan yang berkelanjutan. Kesalahan dalam membaca maupun memahami pelajaran bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses untuk menjadi lebih baik.

“Dari permainan lahir keberanian, dari latihan lahir kemampuan, dari bahasa Arab tumbuh kecintaan pada ilmu,” demikian pesan yang disampaikan Ust. Tanto.

Ia mengingatkan bahwa belajar i‘rab tidak hanya berkaitan dengan menentukan harakat akhir sebuah kata dalam susunan kalimat bahasa Arab. Ada pelajaran yang lebih luas di baliknya, yakni membiasakan diri memahami kedudukan sesuatu secara tepat.

Dalam proses pembelajaran, seorang santri tentu tidak selalu langsung benar. Ada kalanya salah membaca, kemudian mengulanginya. Ada pula saat keliru memahami suatu kaidah, lalu kembali belajar sampai benar-benar mengerti.

Bagi Ust. Tanto, hal terpenting bukanlah selalu tampil sempurna, melainkan memiliki kemauan untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah. Setiap kesalahan yang diperbaiki merupakan bagian dari perjalanan panjang seorang penuntut ilmu.

Ia juga menekankan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada hafalan semata. Ilmu harus dipahami, diamalkan, dan disertai adab. Sebab, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga dari akhlak dan kesungguhannya dalam mengamalkan ilmu tersebut.

“Ilmu tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus dipahami, diamalkan, dan dibarengi dengan adab. Teruslah belajar, bersungguh-sungguh dalam berlatih, dan jangan pernah menyerah dalam menuntut ilmu. Karena keberhasilan seorang santri bukan hanya terletak pada banyaknya ilmu yang dikuasai, tetapi juga pada akhlak dan kesungguhannya dalam mengamalkan ilmu,” pesannya.

Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi pelajaran, tetapi juga pembentukan karakter. Ketekunan dalam belajar, kesabaran menghadapi kesulitan, dan adab kepada ilmu merupakan bekal penting bagi setiap santri.

Ust. Tanto juga mengajak para santri untuk menjadikan setiap proses belajar sebagai bagian dari ikhtiar memperoleh ilmu yang bermanfaat. Setiap huruf yang dipelajari, kaidah yang dihafal, dan kesalahan yang diperbaiki diharapkan menjadi langkah menuju keberkahan ilmu.

Sebagaimana doa yang diajarkan dalam tradisi keilmuan Islam:

اللهم انفعنا بما علمتنا وعلمنا ما ينفعنا

“Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat.”

Pada akhirnya, Ust. Tanto mengingatkan bahwa proses menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan yang tidak boleh berhenti hanya karena kesalahan atau kesulitan. Belajar bahasa Arab dan memahami i‘rab menjadi salah satu latihan untuk membangun ketelitian, kesabaran, dan kecintaan terhadap ilmu. Namun, semua itu harus berjalan seiring dengan pembentukan adab dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi para santri bahwa ukuran keberhasilan belajar bukan semata-mata seberapa banyak materi yang mampu dihafal, melainkan sejauh mana ilmu itu dipahami, membentuk akhlak, dan memberikan manfaat. Sebab, ilmu yang bermanfaat tidak hanya terlihat dari apa yang diketahui seseorang, tetapi juga dari bagaimana ia bersikap dan mengamalkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *