Iran Siapkan Strategi Ofensif Jika Syarat Teheran Tak Dipenuhi AS
Warga Iran berkumpul di Lapangan Enqelab, Teheran, pada 9 Maret 2026 untuk menyatakan dukungan kepada Pemimpin Tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. © EPA/Abedin Taherkenareh
TEHERAN, SWARNABERITA.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat. Teheran mengisyaratkan perubahan strategi perang dari pola defensif menjadi lebih ofensif apabila tuntutan Iran tidak dipenuhi Washington.
Penasihat sekaligus utusan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohammad Mokhber, menyampaikan bahwa perubahan strategi tersebut menjadi pilihan yang telah dipertimbangkan Teheran. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di X pada Kamis (13/8/2026).
“Strategi definitif Pemimpin Tertinggi adalah perang menjadi ofensif jika syarat-syarat dari Iran tidak dipenuhi,” ujar Mokhber, sebagaimana dikutip Anadolu.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, khususnya terkait status dan pengelolaan Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.
Iran Dorong Mekanisme Keamanan Hormuz Tanpa AS
Mokhber menilai ketidakmampuan AS memberikan perlindungan terhadap sekutu-sekutunya di kawasan Teluk menunjukkan keterbatasan jaminan keamanan Washington.
Menurutnya, Iran menginginkan terbentuknya tatanan keamanan baru di kawasan yang tidak bergantung pada kehadiran militer AS. Salah satu gagasan yang didorong Teheran adalah mekanisme keamanan Selat Hormuz yang berada di bawah pengaturan negara-negara kawasan.
Iran saat ini juga tengah berunding dengan Oman mengenai mekanisme pengaturan navigasi di Selat Hormuz. Pembahasan tersebut diarahkan untuk membentuk kerangka pengelolaan lalu lintas komersial sekaligus keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut.
Di sisi lain, Kepala Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak menggantungkan keamanan dan kedaulatan mereka kepada kekuatan asing.
Menurut Azizi, ketergantungan terhadap negara-negara yang dianggap sebagai “musuh Islam” justru dapat meningkatkan instabilitas kawasan dan memicu respons keras dari Iran.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru
Perselisihan mengenai Selat Hormuz semakin tajam setelah Iran dan AS mengeluarkan klaim yang berlawanan mengenai kendali atas jalur perairan tersebut.
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kontrol dan pengelolaannya. Komando militer Iran bahkan membantah klaim Washington mengenai kebebasan navigasi di kawasan tersebut dan menyatakan bahwa kapal yang melintas harus mendapatkan otorisasi serta berada dalam pengawasan otoritas Iran.
Sementara itu, AS menyatakan mampu mempertahankan tekanan maritim terhadap Iran dalam waktu yang tidak ditentukan. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan rotasi kapal perang memungkinkan Washington mempertahankan blokade terhadap Iran selama diperlukan.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap lalu lintas pelayaran. Data yang dikutip Reuters menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz masih berada di bawah rata-rata harian pada Agustus akibat meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Iran Klaim 75 Persen Rudal dan Drone Masih Siap
Di tengah ketegangan tersebut, Wakil Komandan Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh juga menyampaikan klaim mengenai kondisi persenjataan Iran.
Dikutip IRNA pada Rabu (12/8/2026), Sheikh menyebut lebih dari 75 persen kemampuan rudal dan drone Iran masih utuh dan siap digunakan meskipun sebelumnya menjadi sasaran serangan AS dan Israel. Klaim tersebut sekaligus membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan besar.
Sheikh menilai serangan AS dan Israel sejauh ini tidak mencapai efektivitas seperti yang diklaim Washington. Ia juga menyebut sistem drone Iran tetap menjadi salah satu kemampuan strategis yang dapat digunakan dalam menghadapi lawan.
Klaim tersebut menunjukkan bahwa Teheran berupaya mempertahankan pesan bahwa kapasitas militernya masih signifikan dan tidak mudah dilumpuhkan.
Muncul Klaim Pengembangan Rudal Jarak Jauh
Ketegangan juga diwarnai laporan mengenai ambisi Iran mengembangkan kemampuan rudal dengan jangkauan yang jauh lebih besar.
Publikasi Defense Express, sebagaimana dikutip UNN, melaporkan adanya rencana Iran mengembangkan rudal balistik dengan jangkauan hingga 15.000 kilometer. Jika terealisasi, kemampuan tersebut secara teoritis dapat menjangkau wilayah Amerika Serikat.
Namun, transisi dari rudal jarak menengah menuju sistem antarbenua merupakan tantangan teknologi yang sangat besar. Untuk mencapai wilayah seperti Washington dan New York dari Iran, rudal membutuhkan jangkauan setidaknya sekitar 10.000 kilometer.
Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran bahwa konflik Iran-AS tidak hanya berkutat pada perebutan pengaruh di Timur Tengah, tetapi berpotensi berkembang menjadi persaingan strategis yang memiliki dampak lebih luas terhadap keamanan global.
Di tengah ancaman eskalasi tersebut, negosiasi Iran dan Oman mengenai mekanisme navigasi Selat Hormuz menjadi salah satu jalur diplomasi yang masih terbuka. Namun, dengan meningkatnya tekanan militer dan saling klaim antara Teheran dan Washington, masa depan keamanan Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik kawasan.
***
(Sebagian artikel diolah dari dari Republika – Foto: Republika
