15/08/2026
Mudrik Qori

Doktor KH. Mudrik Qori, hari itu masih usia belasan, ketika ayahnya, KH. Ahmad Qori Nuri, mengajaknya berkunjung ke Pesantren Nurul Islam Seribandung.

Takjub tak dapat ia tutupi, melihat ribuan para santri memenuhi pesantren tertua, terbesar, dan ternama di Sumatera Selatan itu. Salut yang menghadirkan rasa kecut, betapa tidak, Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya yang–berdiri 1967–dipimpin ayahnya ketika itu, memiliki santri hanya mencapai jumlah ratusan.

“Ba, alangke banyak santri Ba. Tapi jengoklah kagi, Ittifaqiah lebih dari sike,” kata Mudrik muda kepada Kiai Qori. Amarah tak tertahan yang tumbuh dari rasa kalah seorang “gus muda” yang kelak memimpin pesantren meneruskan ayahnya.

“Ingin unggul boleh, tetapi bukan itu niatnya. Jangan lupa, ikhlas demi Allah,” tersenyum bijak Kiai Qori mengingatkan putranya.

“Rasa tidak mau kalah” itu rupanya memotivasi Mudrik yang kemudian kuliah ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta–atas saran ayahnya.

Ia sadar bahwa Al-Ittifaqiah harus bangkit, besar, dan berkembang. Karena itu, selama libur kuliah Mudrik tidak langsung pulang ke Indralaya. Ia berkeliling ke sejumlah pesantren ternama, tradisional dan modern. Tidak saja berkunjung, ia bahkan mukim di sana: belajar, mengamati, dan mengikuti seluruh proses di pesantren; tempat studi bandingnya.

“Setidaknya satu minggu,” pesan Kiai Qori. Karena dengan begitu Mudrik bisa melihat secara utuh aktivitas pesantren setiap hari.

Menyadari yang datang seorang kader, Mudrik diberikan keleluasaan oleh KH. Abdullah Syukri ketika bermukim di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Pengalaman masa “berproses menjadi” itulah yang Mudrik transfer ke Indralaya serta memberi “warna baru” bagi dinamika perkembangan Al-Ittifaqiah. Pesantren ini pun tidak sekadar berhasil keluar dari masa sulit, tetapi terus melaju kencang di era ’90-an.

Era Reformasi ’98, bersamaan dengan transisi kepemimpinan pesantren pasca wafat KH. Ahmad Qori Nuri. KH. Mudrik Qori yang semula Wakil Mudir diangkat menjadi Mudir–sekarang Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, membawa pesantren ini memasuki fase lepas landas dan terbang.

Menjadi “pemegang kemudi” Al-Ittifaqiah, KH. Mudrik Qori dalam tiga dekade kepemimpinannya terus melakukan pembenahan, penguatan, dan inovasi menyahuti tuntutan dan perubahan zaman yang bergerak semakin cepat.

Kepemimpinan KH. Mudrik Qori tercatat dengan capaian prestasi dan reputasi. Peningkatan kualitas pendidikan, tata kelola kelembagaan, dan kemandirian ekonomi pesantren terbukti berhasil mengangkat Al-Ittifaqiah menjadi pesantren yang diakui terbaik dan unggul di level nasional dengan pengaruh global.

Legacy kepemimpinan itu kini memasuki fase validasi yang akan diuji oleh sejarah; kini dan mendatang. Inilah tantangan berat yang harus dihadapi generasi selanjutnya–yang tengah bersiap menjadi penerus.

Ujian yang sebelumnya dijalani oleh KH. Mudrik Qori dengan kesadaran “Jengoklah kagi, Ittifaqiah lebih dari sike,” ketika ia masih berusia belasan. Kesadaran yang berhasil membawa Al-Ittifaqiah menjadi pemenang.

***
Penulis: Eko Arisandi (Alumni Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumater Selatan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *