Reaktualisasi Syarikat Islam: Menghidupkan Kembali Semangat Ekonomi Kebangkitan Bangsa

0
Reaktualisasi Syarikat Islam Menghidupkan Kembali Semangat Ekonomi Kebangkitan Bangsa- www.swarnaberita.com

Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, MA. dalam sebuah event di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya - Foto: Dokumen Al-Ittifaqiah

Ada kecenderungan dalam cara kita membaca sejarah pergerakan Indonesia: organisasi-organisasi yang pernah memiliki peran besar pada masa lalu perlahan hanya ditempatkan sebagai bagian dari cerita sejarah. Nama dan jasanya tetap dikenang, tetapi gagasan dan semangat perjuangannya tidak lagi banyak dibicarakan dalam konteks persoalan bangsa hari ini.

Syarikat Islam (SI) adalah salah satu organisasi yang menghadapi situasi tersebut. Pada awal abad ke-20, SI pernah menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun kesadaran masyarakat pribumi. Ia bukan hanya organisasi massa, tetapi juga ruang bertemunya gagasan tentang ekonomi, pendidikan, politik, kebangsaan, dan keislaman. Namun, dalam perkembangan zaman, peran tersebut seolah semakin jauh dari ingatan publik.

Kondisi itu menjadi menarik untuk direnungkan menjelang pelaksanaan Majelis Tahkim Nasional ke-42 Syarikat Islam yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Oktober 2026 di Surabaya. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan semata-mata mengenai siapa yang akan memimpin organisasi, tetapi jauh lebih mendasar: mengapa Syarikat Islam masih penting bagi Indonesia hari ini?

Pertanyaan berikutnya adalah, apa yang dapat dilakukan SI agar warisan perjuangannya tidak berhenti sebagai romantisme sejarah?

Belajar dari Sejarah

Jika melihat kembali sejarah kelahirannya, Syarikat Islam sebenarnya tumbuh dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat. Pada 1905, Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Surakarta. Organisasi tersebut lahir dalam suasana ekonomi kolonial yang menempatkan pedagang pribumi pada posisi yang tidak mudah.

Karena itu, sejak awal, persoalan ekonomi merupakan bagian penting dari denyut perjuangan SI. Perubahan SDI menjadi Syarikat Islam pada 1912, terutama di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, kemudian membuat gerakan ini berkembang lebih luas. Persoalan perdagangan dan ekonomi mulai bersentuhan dengan pendidikan, politik, persatuan umat, dan kesadaran kebangsaan.

Takashi Shiraishi dalam An Age in Motion (1990) menggambarkan SI sebagai salah satu kekuatan yang ikut mendorong lahirnya apa yang ia sebut sebagai “zaman bergerak”. SI menjadi ruang penting bagi tumbuhnya kesadaran politik masyarakat pribumi sekaligus tempat bertemunya berbagai gagasan mengenai masa depan bangsa.

Tidak mengherankan jika dari lingkungan pergerakan tersebut kemudian muncul sejumlah tokoh dengan pemikiran dan orientasi politik yang berbeda. Nama-nama seperti Soekarno dan Kartosuwiryo, misalnya, pernah bersentuhan dengan lingkungan pergerakan yang dibentuk oleh tradisi SI.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa kekuatan SI pada masa lalu bukan hanya terletak pada jumlah anggotanya. Yang lebih penting adalah kemampuannya membaca persoalan masyarakat dan mengubah keresahan sosial menjadi gerakan yang terorganisasi.

Ketika Organisasi Besar Mengalami Kemunduran

Namun, perjalanan sejarah tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Setelah Pemilu 1955 dan terutama setelah kebijakan fusi partai politik pada masa Orde Baru tahun 1973, ruang gerak organisasi politik Islam mengalami perubahan besar. SI pun menghadapi persoalan kelembagaan dan politik yang tidak ringan.

Depolitisasi dan berbagai pembatasan pada masa tersebut membuat SI tidak lagi memiliki ruang yang sama seperti pada masa awal pergerakan. Nama besarnya tetap tercatat dalam sejarah, tetapi pengaruh kelembagaannya dalam pembentukan kebijakan publik dan perubahan ekonomi semakin terbatas.

Di sinilah tantangan SI hari ini sebenarnya berada.

Persoalannya bukan sekadar bagaimana mengembalikan kejayaan masa lalu. Zaman sudah berubah. Struktur ekonomi, teknologi, pola komunikasi, dan karakter masyarakat juga tidak lagi sama. Karena itu, yang perlu dihidupkan bukan bentuk lama organisasinya, melainkan semangat perjuangannya yang masih relevan.

Menguji Kembali Gagasan Dakwah Ekonomi

Di tengah persoalan ekonomi Indonesia saat ini, gagasan mengenai kemandirian ekonomi rakyat justru memperoleh ruang yang semakin penting. Ketimpangan kepemilikan modal, lemahnya posisi sebagian pelaku usaha kecil, ketergantungan terhadap pasar besar, serta perubahan akibat ekonomi digital merupakan persoalan yang membutuhkan jawaban bersama.

Dalam konteks tersebut, gagasan ekonomi yang pernah menjadi salah satu akar perjuangan SI layak dibicarakan kembali.

Kebijakan pemerintah yang mendorong penguatan koperasi, ekonomi desa, dan kemandirian ekonomi masyarakat sebenarnya membuka ruang bagi gerakan seperti SI untuk mengambil peran yang lebih nyata.

Apalagi posisi Sekretaris Jenderal SI, Ferry Juliantono, yang juga dipercaya sebagai Menteri Koperasi RI, menghadirkan sebuah pertemuan yang menarik antara organisasi pergerakan dan kebijakan negara.

Pertemuan tersebut tentu tidak boleh berhenti pada kedekatan struktural ataupun kepentingan politik sesaat. Justru di sinilah tantangan yang sebenarnya. Masyarakat berhak melihat sejauh mana gagasan tentang ekonomi kerakyatan, koperasi, dan ekonomi syariah dapat diterjemahkan menjadi program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil.

Koperasi jangan hanya menjadi nama dalam dokumen kebijakan. Ia harus mampu menjadi wadah produksi, distribusi, pembiayaan, dan pemasaran yang memberikan posisi lebih kuat kepada masyarakat.

Begitu pula ekonomi syariah. Ia jangan berhenti pada pembahasan mengenai produk keuangan atau istilah-istilah akad. Nilai keadilan, kejujuran, keberpihakan kepada yang lemah, dan pemerataan kesejahteraan harus terlihat dalam praktik ekonomi sehari-hari.

Program pemerintah, termasuk Asta Cita, pada dasarnya merupakan agenda dari atas. Agar tidak berhenti sebagai program birokrasi, diperlukan kekuatan masyarakat yang bergerak dari bawah. Di sinilah SI memiliki kesempatan untuk kembali memainkan perannya.

Jaringan SI di berbagai daerah seharusnya dapat menjadi kekuatan sosial untuk membangun koperasi produksi dan distribusi yang lebih modern, memanfaatkan teknologi digital, sekaligus tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat.

Menghidupkan Kembali Semangat Pergerakan

Majelis Tahkim Nasional ke-42 di Surabaya seharusnya tidak hanya dilihat sebagai agenda pergantian atau penetapan kepemimpinan organisasi. Forum tersebut dapat menjadi momentum untuk bertanya lebih jauh mengenai arah perjuangan SI dalam menghadapi perubahan zaman.

Tantangan hari ini berbeda dengan tantangan pada awal abad ke-20. Jika dahulu masyarakat menghadapi dominasi ekonomi kolonial, kini tantangannya berupa konsentrasi modal, ketimpangan ekonomi, perubahan teknologi, persaingan global, hingga hadirnya kecerdasan buatan yang mengubah dunia kerja dan kehidupan sosial.

Karena itu, nilai-nilai perjuangan yang diwariskan H.O.S. Tjokroaminoto perlu diterjemahkan dalam konteks kekinian: sebersih-bersih tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepandai-pandai siasat.

Setidaknya ada tiga agenda yang dapat menjadi perhatian.

Pertama, memperkuat ekonomi rakyat. Koperasi perlu dikembangkan dari model yang sekadar administratif menjadi lembaga ekonomi yang benar-benar hidup. Teknologi digital dapat digunakan untuk memperkuat pembiayaan, produksi, pemasaran, dan distribusi dengan prinsip transparansi dan keadilan.

Kedua, memperkuat kaderisasi intelektual. Tradisi intelektual yang pernah tumbuh dalam lingkungan SI perlu dihidupkan kembali. Rumah Peneleh, misalnya, dapat menjadi inspirasi bagaimana organisasi menjadi ruang bertemunya anak-anak muda dengan gagasan, ilmu pengetahuan, dan keberanian membaca persoalan bangsa secara kritis.

SI membutuhkan kader yang tidak hanya memahami sejarah organisasi, tetapi juga menguasai ekonomi, teknologi, hukum, politik, pendidikan, dan berbagai persoalan publik lainnya.

Ketiga, membangun kekuatan gagasan. Organisasi sebesar SI membutuhkan ruang untuk memproduksi pengetahuan. Karena itu, keberadaan pusat kajian, media, dan forum diskusi yang berbasis data menjadi penting. SI harus mampu ikut menawarkan gagasan dan solusi atas persoalan bangsa, bukan hanya memberikan komentar setelah sebuah masalah terjadi.

Dengan cara demikian, SI tidak sekadar menjadi organisasi yang memiliki sejarah panjang, tetapi juga memiliki gagasan tentang masa depan.

Dari Sarekat Dagang Islam Menuju Sarekat Peradaban

Sejarah SI memiliki akar yang panjang dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dari Jawa, gerakan ini kemudian berkembang ke berbagai daerah, termasuk Sumatera Selatan yang sejak awal abad ke-20 menjadi salah satu wilayah penting dalam pertumbuhan gerakan tersebut.

Karena itu, kebangkitan kembali SI tidak harus berarti mengulang masa lalu. Justru sebaliknya, sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk membaca masa depan.

Sarekat Dagang Islam yang lahir pada 1905 telah meletakkan salah satu fondasi perjuangan ekonomi rakyat. Transformasinya menjadi Syarikat Islam pada 1912 kemudian memperluas perjuangan tersebut menjadi gerakan yang ikut menumbuhkan kesadaran kebangsaan.

Lebih dari satu abad kemudian, pertanyaan yang sama kembali hadir dalam bentuk yang berbeda: apa yang dapat dilakukan SI untuk menjawab persoalan masyarakat Indonesia hari ini?

Majelis Tahkim 2026 dapat menjadi salah satu momentum penting untuk menjawab pertanyaan tersebut.

SI memiliki pilihan. Ia dapat terus dikenang sebagai organisasi besar yang pernah memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia. Namun, SI juga dapat memilih jalan yang lebih menantang: menjadikan warisan sejarahnya sebagai energi untuk membangun gerakan baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Jika pilihan kedua yang diambil, maka SI tidak cukup hanya menghidupkan kembali nama besar masa lalu. Ia harus menghadirkan kembali keberanian untuk membela ekonomi rakyat, membangun tradisi ilmu, mencetak kader, dan menawarkan gagasan bagi masa depan bangsa.

Dari Sarekat Dagang Islam menuju Syarikat Islam, mungkin kini saatnya melangkah lebih jauh menuju apa yang dapat disebut sebagai Sarekat Peradaban—sebuah gerakan yang tidak hanya mengenang sejarah kebangkitan bangsa, tetapi ikut bekerja membangun masa depannya.

*

Penulis: Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, MA, (Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Sumatera Selatan; Dosen Universitas Al-Quran Ittifaqiah Indralaya; Ketua Dewan Pakar DPP LPLQ; dan peraih gelar Master dalam bidang Politik Islam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *