Jerat Kemiskinan Lintas Zaman

0
Jerat Kemiskinan Lintas Zaman

Ilustrasi Jerat Kemiskinan - Foto: Dokumen Istimewa

Oleh: Mukalam
CEO Kebun Filsafat

* * *

Kemiskinan di Indonesia sering kali dipandang sebagai kegagalan individu—akibat kemalasan, kemalangan, atau takdir yang tak terelakkan. Namun, jika kita menengok ke belakang, kemiskinan yang dialami jutaan keluarga di Nusantara hari ini bukanlah fenomena sesaat, melainkan jerat sejarah yang diwariskan turun-temurun lintas generasi.

Pada era kolonial Hindia Belanda, struktur ekonomi sengaja dirancang untuk mengeksploitasi. Sistem Tanam Paksa (Culturstelsel) hingga kebijakan Agrarische Wet 1870 memisahkan pribumi dari kepemilikan atas tanah dan sumber daya utama. Rakyat jelata diposisikan semata-mata sebagai tenaga kerja murah, sementara akumulasi modal mengalir deras ke negeri seberang.

Pendidikan berkualifikasi hanya menjadi hak istimewa segelintir kaum bangsawan (priyayi). Dari titik inilah, lingkaran setan itu bermula: ketiadaan aset dan ketimpangan akses pendidikan mengondisikan mayoritas rakyat hidup dalam batas taraf hidup terkecil.

Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada tahun 1945, Indonesia mewarisi struktur masyarakat yang rapuh. Kendati rezim berganti dan pembangunan digencarkan dari dekade ke dekade, wajah kemiskinan tak sepenuhnya sirna, melainkan berganti rupa.

Di desa-desa, petani gurem tetap terdesak karena penguasaan lahan yang kian menyempit. Di perkotaan, anak-anak dari keluarga miskin terserap ke dalam sektor informal tanpa kepastian kerja, jaminan kesehatan, maupun perlindungan sosial.

Fenomena ini dikenal sebagai kemiskinan struktural dan intergenerasional. Seorang anak yang lahir dari keluarga miskin hari ini memulai dari garis start yang jauh di belakang. Akses nutrisi yang terbatas sejak dini, kualitas sekolah yang minim, hingga jaringan sosial yang tak memadai membuat mereka kesulitan untuk keluar dari garis kemiskinan. Keterbatasan modal sosial dan ekonomi orang tua secara tidak langsung menjadi batas tak terlihat bagi masa depan sang anak.

Renungan ini mengetuk kesadaran kita bahwa menyelesaikan masalah kemiskinan tidak cukup hanya dengan bantuan sosial karitatif yang bersifat sementara. Bantuan finansial memang menambal perut yang lapar hari ini, namun tidak memutus rantai yang mengikat esok hari.

Memutus jerat kemiskinan lintas zaman menuntut pembongkaran hambatan struktural. Negara dan masyarakat perlu memastikan kehadiran keadilan redistributif: pendidikan berkualitas yang benar-benar terjangkau, jaminan kesehatan yang merata, serta perlindungan atas hak-hak ekonomi warga terpinggirkan. Tanpa keberanian untuk membenahi ketimpangan sistemik ini, kemiskinan akan terus menjadi warisan kelam yang dioper dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *