Dari Jualan Online hingga Berbagi Ilmu, Wira Sutirta Dorong UMKM Naik Kelas di Era Digital
Wira Sutirta Dorong Pelaku UMKM Melek Strategi Digital - Foto Istimewa
YOGYAKARTA, SWARNABERITA.COM – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat menjalankan usaha. Aktivitas jual beli yang sebelumnya banyak dilakukan melalui toko fisik dan pertemuan langsung, kini dapat dilakukan dari mana saja melalui berbagai platform digital.
Peluang tersebut telah cukup lama ditekuni Wira Sutirta, pengurus Pusat Studi Siyasah dan Pemberdayaan Masyarakat (PS2PM) yang juga merupakan Dewan Sesepuh Ikatan Keluarga Nusantara (IKN) Yogyakarta.
Di tengah aktivitasnya dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi, Wira juga aktif sebagai pengusaha online. Berbagai produk dipasarkannya melalui sejumlah platform digital, seperti Tokopedia, Shopee, dan TikTok.
Pengalaman yang telah dijalani selama bertahun-tahun dalam dunia bisnis online tidak hanya dimanfaatkan untuk mengembangkan usahanya sendiri. Wira juga aktif berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat, khususnya mereka yang ingin memulai maupun mengembangkan usaha melalui platform digital.
Baginya, berjualan online bukan sekadar persoalan bagaimana produk terjual sebanyak-banyaknya. Ada hal yang tidak kalah penting untuk dipahami pelaku usaha, yakni bagaimana menghitung biaya, menentukan harga jual, dan memastikan transaksi yang terjadi benar-benar memberikan keuntungan.
Tidak Sekadar Jualan, tetapi Harus Pandai Menghitung
Wira menilai salah satu kemampuan dasar yang perlu dimiliki pelaku usaha online adalah memahami Harga Pokok Produksi (HPP) serta berbagai biaya yang muncul dalam proses penjualan.
Menurutnya, harga jual yang terlihat cukup tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan besar. Terlebih ketika produk dipasarkan melalui marketplace yang memiliki berbagai komponen biaya, mulai dari biaya administrasi, komisi, promosi, hingga biaya transaksi lainnya.
Hal tersebut juga kerap dibagikan Wira melalui media sosial. Dalam salah satu unggahannya di Facebook, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghitung potensi keuntungan ketika menjual kaos melalui TikTok.
“Mari berhitung keuntungan kalo kamu mau jual kaos di TikTok. Rencananya kamu mau jual dengan harga 70 rb/pcs. Monggo waktu dan tempat dipersilahkan…”
Ajakan tersebut kemudian disertai dengan simulasi sederhana mengenai struktur biaya sebuah produk kaos yang dijual dengan harga Rp70.000 per potong.
Dalam simulasi tersebut, biaya bahan baku tercatat sebesar Rp32.000, aksesori Rp5.000, biaya produksi Rp5.000, dan biaya lain-lain Rp3.000. Dengan demikian, total HPP mencapai Rp45.000.
Namun, biaya tidak berhenti pada HPP. Dalam penjualan melalui TikTok, masih terdapat sejumlah komponen biaya yang perlu diperhitungkan. Simulasi tersebut mencatat biaya admin 8 persen sebesar Rp5.600, biaya pre-order 3 persen sebesar Rp2.100, komisi afiliasi 3 persen sebesar Rp2.100, komisi dominasi 5 persen sebesar Rp3.500, cashback bonus 1,5 persen sebesar Rp1.050, voucher extra 3 persen sebesar Rp2.100, serta biaya proses sebesar Rp1.250.
Jika seluruh komponen tersebut dijumlahkan, biaya TikTok dalam simulasi mencapai Rp17.700, atau sekitar 24 persen dari harga jual.
Dengan harga jual Rp70.000, kemudian dikurangi HPP Rp45.000 dan biaya TikTok Rp17.700, tersisa Rp7.300 per produk sebagai selisih dalam simulasi tersebut.
Perhitungan sederhana itu menunjukkan bahwa omzet dan keuntungan merupakan dua hal yang berbeda. Produk yang terjual banyak belum otomatis membuat keuntungan menjadi besar apabila struktur biaya tidak dihitung dengan cermat.
Dengan harga jual Rp70.000, misalnya, secara sederhana seseorang mungkin melihat terdapat selisih Rp25.000 setelah dikurangi HPP. Namun setelah berbagai biaya marketplace diperhitungkan, selisih tersebut menyusut menjadi Rp7.300 dalam simulasi.
Karena itu, menurut Wira, pelaku usaha harus membiasakan diri menghitung seluruh komponen biaya sebelum menentukan harga jual.
Jualan boleh ramai, tetapi jangan sampai omzet terlihat besar sementara keuntungan justru tipis.
Pengalaman Menjadi Modal untuk Berbagi
Kiprah Wira di dunia kewirausahaan bukan sesuatu yang baru. Aktivitas jualan online telah ditekuni cukup lama dan menjadi bagian dari perjalanan usahanya dalam memahami perkembangan pemasaran digital.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal bagi Wira untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat dan pelaku usaha.
Ia tidak hanya berbicara mengenai cara mendapatkan pembeli, tetapi juga mengajak pelaku usaha memahami aspek yang sering kali luput diperhatikan, seperti struktur biaya, margin keuntungan, strategi harga, hingga karakter masing-masing platform digital.
Dalam sebuah kegiatan pelatihan wirausaha yang digelar Pemerintah Kabupaten Bantul, Wira Sutirta juga pernah disebut sebagai salah satu narasumber yang memberikan materi berkaitan dengan pengembangan usaha. Ia juga tercatat sebagai konsultan pada PLUT DIY dengan bidang pembiayaan.
Pengalaman di lapangan membuat Wira melihat bahwa perkembangan teknologi digital memang membuka peluang yang sangat besar. Masyarakat kini dapat memulai usaha dengan lebih fleksibel tanpa harus langsung memiliki toko fisik dan jaringan distribusi yang luas.
Namun, kemudahan tersebut tetap membutuhkan pengetahuan dan perhitungan.
Pelaku usaha perlu memahami siapa konsumennya, bagaimana karakter platform yang digunakan, berapa biaya yang harus dikeluarkan, bagaimana menentukan harga jual, serta berapa keuntungan yang benar-benar diperoleh setelah seluruh biaya dikurangi.
Dari Jogjalampion hingga Marketplace
Selain aktif menjalankan bisnis melalui berbagai platform digital, Wira Sutirta juga dikenal sebagai pemilik Jogjalampion.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan Wira dalam mengembangkan usaha sekaligus memperkaya pengalamannya sebagai pelaku bisnis.
Bagi Wira, pengalaman langsung menjadi pelaku usaha memiliki nilai penting ketika dibagikan kepada orang lain. Sebab, persoalan yang dihadapi pengusaha di lapangan sering kali tidak sesederhana teori.
Ada persoalan mengenai harga bahan baku, biaya produksi, promosi, persaingan harga, komisi platform, hingga perubahan perilaku konsumen yang harus dihadapi secara langsung.
Pengalaman tersebut pula yang kemudian membuat aktivitas berbagi Wira lebih banyak menggunakan contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan pelaku UMKM.
Digitalisasi Bukan Sekadar Bisa Berjualan
Perkembangan TikTok, Shopee, Tokopedia, dan berbagai platform perdagangan digital lainnya telah memberikan ruang yang semakin luas bagi UMKM untuk menjangkau konsumen.
Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar kini dapat dipasarkan ke berbagai daerah bahkan memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Namun, menurut Wira, masuk ke dunia digital bukan berarti persoalan usaha otomatis selesai.
Pelaku UMKM tetap harus memiliki kemampuan mengelola usaha secara menyeluruh. Kemampuan membuat konten dan mengunggah produk perlu diimbangi dengan kemampuan membaca pasar, menentukan harga, menghitung biaya, menjaga kualitas produk, melayani konsumen, serta mengevaluasi hasil penjualan.
Dengan kata lain, digitalisasi usaha bukan sekadar memindahkan toko ke marketplace, tetapi juga mengubah cara pelaku usaha mengelola bisnis.
Aktif di Organisasi, Tetap Berbagi Pengalaman Bisnis
Di luar aktivitas bisnis, Wira juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi.
Sebagai pengurus PS2PM dan Dewan Sesepuh IKN Yogyakarta, ia berada dalam lingkungan yang mempertemukan berbagai kalangan masyarakat. Ruang tersebut menjadi salah satu tempat untuk bertukar gagasan mengenai pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan, dan berbagai persoalan sosial-ekonomi.
Pengalaman menjalankan bisnis online pun menjadi salah satu pengetahuan praktis yang dapat dibagikan dalam berbagai ruang diskusi.
Bagi Wira, pengalaman berusaha akan memiliki nilai lebih ketika tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Karena itu, aktivitasnya dalam berbagi pengetahuan mengenai bisnis online menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat agar lebih siap memanfaatkan peluang ekonomi digital.
Belajar, Menghitung, dan Terus Beradaptasi
Perjalanan Wira Sutirta di dunia bisnis online menunjukkan bahwa keberhasilan dalam perdagangan digital tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak produk yang terjual.
Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari belajar memahami pasar, mencoba berbagai strategi, menghitung biaya, mengevaluasi hasil, hingga beradaptasi dengan perubahan platform dan perilaku konsumen.
Bagi pelaku UMKM yang baru memasuki dunia digital, pengalaman tersebut memberikan satu pesan sederhana: jangan hanya fokus mengejar penjualan, tetapi pahami juga angka di balik setiap transaksi.
Sebab, bisnis yang sehat bukan hanya tentang produk yang laku, melainkan tentang kemampuan mengelola usaha agar tetap memiliki margin keuntungan dan dapat berkembang secara berkelanjutan.
Dari aktivitas jualan online yang telah ditekuni selama bertahun-tahun, Wira Sutirta kini tidak hanya menjalankan bisnis, tetapi juga aktif membagikan pengalaman agar semakin banyak masyarakat dan pelaku UMKM mampu memanfaatkan peluang ekonomi digital secara lebih cerdas, terukur, dan berkelanjutan.