Ferry Juliantono Raja Kebangkitan Kedua Syarikat Islam

0
Ferry Juliantono Raja Kebangkitan Kedua Syarikat Islam - www.swarnaberita.com

Ferry Juliantono Raja Kebangkitan Kedua Syarikat Islam - Foto: Istimewa

Oleh: Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, M.A.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan – Dewan Pakar Pusat Studi Siyasah dan Pemberdayaan Masyarakat (PS2PM)

* * *

Syarikat Islam tidak kekurangan sejarah besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah kepemimpinan yang mampu mengubah kebesaran sejarah menjadi kekuatan masa depan.

Terpilihnya Dr. Ferry Juliantono sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI) periode 2026–2031 dalam Majelis Tahkim ke-42 di Surabaya, 19 Oktober 2026, membuka peluang baru bagi organisasi Islam bersejarah ini. Pergantian kepemimpinan tersebut bukan sekadar perubahan figur di pucuk organisasi, melainkan momentum untuk menentukan arah perjalanan SI: tetap dikenang sebagai bagian penting dari sejarah pergerakan nasional atau kembali tampil sebagai kekuatan strategis dalam pembangunan Indonesia.

Ferry memiliki modal yang tidak kecil. Pengalaman organisasi, jaringan nasional, serta posisinya sebagai Menteri Koperasi memberikan peluang untuk mempertemukan gagasan pemberdayaan umat dengan agenda penguatan ekonomi rakyat. Namun, modal tersebut tidak otomatis menghasilkan perubahan. Justru karena harapan publik begitu besar, kepemimpinan Ferry perlu dibuktikan melalui agenda yang terukur, tata kelola yang kuat, dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ferry tidak cukup menjadi penerus kepemimpinan. Ia perlu tampil sebagai pemimpin transformasi.

Melampaui Romantisme Sejarah

Syarikat Islam mempunyai akar sejarah yang kuat dalam kebangkitan ekonomi dan kesadaran politik masyarakat pribumi. Gerakan yang berawal dari Sarekat Dagang Islam pada 1905 itu berkembang menjadi kekuatan yang mempertautkan kepentingan ekonomi, agama, pendidikan, solidaritas sosial, dan kebangsaan.

Para pendahulu SI memahami bahwa kemerdekaan politik tidak akan sempurna tanpa kemandirian ekonomi. Kesadaran tersebut tetap relevan hingga hari ini, ketika masyarakat menghadapi ketimpangan akses terhadap modal, persaingan pasar yang semakin ketat, ketidakpastian pendapatan petani, pengangguran generasi muda, serta risiko pinjaman ilegal dan praktik ekonomi digital yang merugikan konsumen.

Karena itu, kebangkitan SI tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah, peringatan hari lahir, atau kebanggaan terhadap usia organisasi. Sejarah harus menjadi energi untuk menjawab persoalan zaman.

Jika dahulu SI membangkitkan kesadaran saudagar pribumi dalam menghadapi ketimpangan kolonial, kini SI perlu membantu pelaku usaha kecil menghadapi dominasi pasar, petani memperoleh posisi tawar yang lebih adil, dan generasi muda menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan serta penguasaan teknologi.

Tantangan SI hari ini bukan semata-mata mempertahankan eksistensi organisasi, melainkan menemukan kembali relevansi sosialnya. Organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang mempunyai sejarah panjang, melainkan organisasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat pada zamannya.

Bukan Menjadi NU Kedua atau Muhammadiyah Kedua

Dapatkah Syarikat Islam menjadi salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di Indonesia, bahkan unggul dalam bidang-bidang tertentu dibandingkan organisasi besar lainnya?

Pertanyaan ini sah sebagai cita-cita. Namun, pengaruh tidak lahir hanya dari ambisi, pidato, atau perubahan struktur kepengurusan. Pengaruh dibangun melalui kepercayaan publik, konsistensi gerakan, kualitas kader, kekuatan kelembagaan, dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Nahdlatul Ulama memiliki kekuatan dalam jaringan pesantren, tradisi keagamaan, kaderisasi, dan akar rumput. Muhammadiyah berkembang melalui pendidikan, layanan kesehatan, amal usaha, serta tata kelola organisasi yang terlembaga. SI tidak perlu meniru keduanya secara utuh, apalagi menjadikan persaingan ant organisasi sebagai orientasi utama.

SI justru perlu mengembangkan keunggulan khasnya: dakwah yang membebaskan umat melalui kemandirian ekonomi.

Keunggulan itu dapat dibangun dengan mempertemukan pengusaha, petani, pedagang, koperasi, akademisi, profesional, dan generasi muda dalam sebuah ekosistem ekonomi yang saling menguatkan. Dakwah tidak hanya berlangsung melalui ceramah dan forum pengajian, tetapi juga melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan usaha mikro, akses pembiayaan yang bertanggung jawab, pendampingan bisnis, dan perluasan pasar.

Ukuran keberhasilan SI pun harus diperluas. Bukan semata-mata jumlah anggota atau banyaknya cabang, melainkan berapa banyak usaha yang berkembang, berapa banyak keluarga yang meningkat kesejahteraannya, berapa banyak pekerjaan tercipta, dan sejauh mana organisasi berkontribusi terhadap kebijakan publik yang lebih adil.

Tujuh Agenda Transformasi

Untuk mewujudkan kebangkitan tersebut, setidaknya ada tujuh agenda strategis yang perlu menjadi perhatian Ferry Juliantono dan seluruh jajaran kepemimpinan SI.

Pertama, menghidupkan organisasi hingga ke akar rumput.

Langkah awal yang mendesak adalah melakukan audit organisasi secara nasional. SI perlu memetakan cabang dan ranting yang aktif, tidak aktif, atau sekadar tercatat dalam dokumen kepengurusan. Pemetaan ini menjadi dasar untuk menyusun target kaderisasi, penguatan struktur, kegiatan sosial, dan pengembangan ekonomi di setiap wilayah.

Dalam 100 hari pertama, konsolidasi organisasi dapat diarahkan pada penyusunan basis data nasional, penetapan indikator kinerja, dan penyusunan program prioritas. Dengan demikian, pusat tidak hanya mengeluarkan instruksi, tetapi juga dapat memantau perkembangan organisasi secara transparan.

SI tidak boleh hanya besar di tingkat pusat, tetapi kehilangan daya hidup di tengah masyarakat.

Kedua, membangun ekosistem ekonomi Syarikat Islam.

Inilah agenda yang semestinya menjadi salah satu identitas utama kepemimpinan Ferry. Anggota SI yang bergerak di sektor pertanian, perdagangan, industri kecil, jasa, pendidikan, dan profesi perlu dihubungkan dalam jaringan produksi, pembiayaan, distribusi, serta pemasaran.

SI dapat memulai program percontohan di sejumlah daerah dengan mengembangkan kemitraan antarpelaku usaha, akses pasar digital, pendampingan manajemen, dan penguatan rantai pasok. Program tersebut harus dievaluasi berdasarkan hasil nyata sebelum diperluas.

Pemberdayaan ekonomi tidak cukup dengan mengimbau umat agar rajin berusaha. Mereka juga membutuhkan akses terhadap bahan baku, teknologi, modal yang sehat, informasi pasar, dan hubungan dagang yang adil.

Ketiga, menjadikan koperasi sebagai mesin pemberdayaan.

Pengalaman Ferry di bidang perkoperasian merupakan modal yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat agenda ekonomi SI. Akan tetapi, koperasi tidak boleh berhenti sebagai nama kelembagaan atau simbol gerakan ekonomi rakyat.

Koperasi harus dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel. Pengembangan koperasi pangan, pertanian, perdagangan anggota, distribusi kebutuhan pokok, serta layanan digital dapat menjadi pilihan sesuai dengan kebutuhan setiap daerah.

Hal yang tidak kalah penting ialah menjaga batas yang jelas antara jabatan negara dan jabatan organisasi. Program SI harus tunduk pada hukum, prinsip persaingan yang sehat, dan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan. Kedekatan dengan pemerintah tidak boleh menjadi jalan memperoleh keistimewaan yang tidak adil.

Keberhasilan koperasi harus diukur dari manfaat ekonomi bagi anggota, produktivitas, keberlanjutan usaha, dan kepercayaan masyarakat.

Keempat, menjadikan SI rumah besar pengusaha dan profesional Muslim.

SI memiliki peluang untuk mempertemukan pengusaha kecil dan menengah, investor yang bertanggung jawab, akademisi, profesional, ahli teknologi, dan generasi muda. Pertemuan tersebut harus menghasilkan kerja sama konkret, bukan sekadar forum seremonial.

Forum bisnis nasional, program mentor pengusaha, pusat konsultasi usaha, dan jaringan kemitraan antardaerah dapat dikembangkan untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha. Pengusaha besar juga dapat didorong membina UMKM melalui kemitraan yang adil dan berkelanjutan.

Dengan cara ini, SI dapat membangun kekuatan ekonomi yang nyata, sekaligus memperluas manfaat organisasi kepada masyarakat di luar lingkaran kepengurusannya.

Kelima, merevolusi kaderisasi dan penguasaan teknologi.

Kebangkitan organisasi memerlukan generasi baru yang memiliki integritas, kompetensi, dan kemampuan membaca perubahan zaman. SI membutuhkan ulama yang memahami persoalan ekonomi, pengusaha yang menjunjung etika, intelektual yang mampu merumuskan kebijakan, serta anak muda yang menguasai teknologi dan komunikasi digital.

Akademi Kader Syarikat Islam dapat dikembangkan sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan, ekonomi syariah, kewirausahaan, koperasi, komunikasi publik, kecerdasan buatan, dan analisis kebijakan.

Selain itu, SI perlu membangun pusat kajian atau SI Policy Lab yang menghasilkan rekomendasi berbasis riset tentang kemiskinan, pendidikan, pangan, ketenagakerjaan, ekonomi rakyat, dan perkembangan teknologi.

SI harus kembali menjadi produsen pemikiran yang ikut membentuk arah kebijakan publik, bukan sekadar konsumen wacana.

Keenam, memperkuat pelayanan sosial yang dirasakan masyarakat.

Masyarakat tidak selalu menilai organisasi dari sejarah dan kebesaran namanya. Mereka lebih sering menilai dari pertanyaan sederhana: apa manfaat organisasi ini bagi kehidupan mereka?

Karena itu, setiap cabang SI perlu memiliki program unggulan yang sesuai dengan persoalan lokal. Bentuknya dapat berupa pendampingan UMKM, beasiswa kader, penguatan akses pangan, edukasi keuangan, perlindungan masyarakat dari pinjaman ilegal, layanan hukum dasar, atau program penciptaan kesempatan kerja.

Program tersebut harus dirancang berdasarkan kebutuhan riil dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Pelayanan sosial bukan sekadar pelengkap kegiatan organisasi, melainkan cara membangun kepercayaan dan memperluas solidaritas.

Dakwah yang kuat bukan hanya dakwah yang didengar, tetapi juga dakwah yang manfaatnya dirasakan.

Ketujuh, meneguhkan SI sebagai kekuatan moral dan mitra kritis negara.

Kedekatan dengan pemerintah dapat membuka ruang kolaborasi, tetapi tidak boleh menghilangkan independensi organisasi. SI harus bersedia bekerja sama ketika kebijakan berpihak kepada rakyat dan tetap berani menyampaikan kritik konstruktif ketika kebijakan menyimpang dari prinsip keadilan.

Organisasi perlu mempunyai agenda jangka panjang yang tidak bergantung pada kepentingan politik sesaat. Dalam isu ekonomi rakyat, pendidikan, ketenagakerjaan, dan kesejahteraan sosial, SI harus berbicara dengan argumentasi, data, dan tawaran solusi.

Dengan demikian, SI dapat menjadi mitra pemerintah tanpa kehilangan keberanian untuk membela masyarakat.

Lima Tahun untuk Membuktikan Perubahan

Tujuh agenda tersebut membutuhkan peta jalan yang realistis. Periode kepemimpinan 2026–2031 harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi, memperluas program, dan menunjukkan dampak yang terukur.

Tahun pertama perlu diarahkan pada konsolidasi organisasi, pemetaan kader, pengaktifan cabang, penyusunan indikator kinerja, dan peluncuran proyek percontohan ekonomi. Tahun kedua menjadi tahap ekspansi melalui pengembangan koperasi yang sehat, jaringan UMKM, akademi kader, dan pelayanan sosial.

Pada tahun ketiga, SI perlu memperkuat integrasi rantai pasok antardaerah, kemitraan bisnis, pemasaran digital, dan pusat kajian kebijakan. Tahun keempat dapat difokuskan pada penguatan kontribusi SI dalam percakapan dan perumusan kebijakan nasional. Sementara itu, tahun kelima harus menjadi tahap pembuktian melalui evaluasi independen, pengukuran dampak sosial-ekonomi, publikasi capaian, dan penyiapan generasi kepemimpinan berikutnya.

Target kuantitatif perlu ditetapkan setelah pemetaan awal, bukan sekadar dibuat besar untuk membangun kesan. Setiap program harus memiliki indikator keberhasilan, penanggung jawab, alokasi sumber daya, serta mekanisme evaluasi yang terbuka.

Masyarakat harus dapat mengetahui apa yang berubah, siapa yang memperoleh manfaat, dan apakah program tersebut layak dilanjutkan.

Dari Kebesaran Nama Menuju Kebesaran Manfaat

Ferry Juliantono menghadapi peluang sekaligus tanggung jawab sejarah. Ia memimpin organisasi yang pernah menjadi bagian penting dari kebangkitan kesadaran ekonomi dan kebangsaan. Ia juga memiliki pengalaman yang dapat menjembatani gerakan masyarakat dengan ruang kebijakan.

Tantangannya adalah menyatukan kekuatan yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: ulama, saudagar, akademisi, profesional, petani, santri, koperasi, dan generasi muda. Semua harus ditempatkan dalam agenda bersama yang jelas, bukan sekadar dihimpun dalam struktur kepengurusan.

Keberhasilan kepemimpinan tidak semestinya diukur dari ramainya kongres, banyaknya baliho, atau panjangnya daftar pengurus. Ukurannya adalah perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, cita-cita menjadikan SI sebagai salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di Indonesia harus diterjemahkan menjadi kerja nyata. Kebesaran organisasi tidak perlu dibangun melalui pertentangan dengan organisasi lain, tetapi melalui keunggulan program, kualitas kader, tata kelola yang baik, dan manfaat sosial yang lebih luas.

Kepemimpinan Ferry merupakan peluang, bukan jaminan keberhasilan. Peluang tersebut hanya akan menjadi sejarah apabila seluruh kader bersedia berubah, bekerja bersama, dan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Lima tahun ke depan dapat menjadi titik balik SI apabila visi diterjemahkan menjadi program, program dijalankan dengan disiplin, dan hasilnya dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat Syarikat Islam hanya karena usianya yang panjang. Sejarah akan mengingatnya apabila SI kembali membuktikan bahwa Islam mampu melahirkan manusia berilmu, masyarakat bermartabat, ekonomi mandiri, dan bangsa yang berkeadilan.

Selamat memimpin, Ferry Juliantono. Saatnya Syarikat Islam bergerak dari kebesaran sejarah menuju kebesaran manfaat.

Billaahi fii sabiilil haq.

Rujukan berita:
[1] DetikJatim, “Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam 2026–2031,” 19 Oktober 2026. https://www.detik.com/jatim/berita/d-8714746/ferry-juliantono-terpilih-jadi-presiden-syarikat-islam-2026-2031
[2] ANTARA, “Menkop Ferry Juliantono ditetapkan jadi Presiden Syarikat Islam,” 19 Oktober 2026. https://www.antaranews.com/berita/5797909/menkop-ferry-juliantono-ditetapkan-jadi-presiden-syarikat-islam

* * *

Editor: Januariansyah Arfaizar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *