Syarikat Islam akan Menjadi Lebih Kinclong di Bawah Asuhan Ferry Juliantono
Ferry Juliantono - Foto: Istimewa
Oleh: MS. Tjik. NG
Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Ketua Ikatan Alumni Kesatuan Angkatan Muda Sriwijaya (IKA-KAMSRI)
* * *
Kabar gembira itu datang dari Surabaya. Dalam helatan Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam, Ferry Juliantono resmi ditetapkan secara aklamasi sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah Pimpinan Pusat Syarikat Islam untuk masa jihad 2026–2031 .
Posisi ini bukan sekadar tongkat estafet organisasi biasa. Syarikat Islam adalah ormas Islam tertua di Indonesia, bahkan boleh dibilang pelopor pergerakan nasional yang lahir dari rahim pedagang Muslim pribumi pada 1905 .
Menempatkan Ferry seorang Menteri Koperasi di Kabinet Merah Putih sebagai nakhoda baru adalah sinyal kuat bahwa organisasi legendaris ini ingin kembali “kinclong”, bukan hanya dalam kilau sejarah, tetapi dalam aksi nyata pemberdayaan umat.
Mengapa pilihan jatuh kepada Ferry? Jawabannya terletak pada rekam jejak yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebelum dipercaya memimpin SI, Ferry sudah lama malang melintang di dunia koperasi dan pemberdayaan ekonomi rakyat.
Ia tercatat sebagai Wakil Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sejak 2019, Sekretaris Dewan Pengurus Induk Koperasi Unit Desa (INDUK KUD), hingga Ketua Dewan Pengawas Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) .
Latar belakang akademisnya juga mumpuni: sarjana akuntansi dari Unpad, magister ekonomi politik internasional, dan doktor sosiologi dari UI . Kombinasi antara pemahaman teknis perkoperasian, sensitivitas sosial, dan pengalaman birokrasi inilah yang membuat Ferry bukan sekadar “orang dalam” yang naik pangkat, melainkan sosok yang tepat untuk membawa SI keluar dari bayang-bayang sejarahnya sendiri.
Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Jujur saja, dibandingkan Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama, eksistensi Syarikat Islam hari ini memang tidak sekinclong dulu. Ada masa ketika SI menjadi kekuatan politik terbesar di Hindia Belanda, dengan anggota jutaan dan pengaruh yang membuat Belanda gemetar .
Kini, gaungnya kalah nyaring. Ferry sendiri menyadari betul realitas ini. Dalam pidato pertamanya usai terpilih, ia tidak berbicara tentang kejayaan masa lalu, melainkan tentang kerja-kerja konkret: mengaktifkan seluruh cabang untuk membebaskan masyarakat dari jeratan pinjaman ilegal, memberikan bantuan pangan, dan menyelesaikan masalah warga miskin .
Ini bukan retorika kosong. Sebagai Menteri Koperasi, Ferry memiliki akses langsung ke program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dan ia berencana mensinergikan agenda SI dengan program nasional tersebut . Inilah gagasan yang menginspirasi: SI tidak perlu bersaing secara politis dengan ormas lain, tetapi cukup masuk ke desa-desa melalui koperasi, menyentuh dapur rumah tangga, dan membuktikan bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin dalam bentuk yang paling konkret—kesejahteraan.
Gagasan Ferry tentang “dakwah ekonomi” sebenarnya bukan hal baru dalam tubuh SI. Sejarah mencatat, Syarikat Islam lahir sebagai Syarikat Dagang Islam (SDI) dengan misi utama melindungi pedagang pribumi dari dominasi pedagang asing dan Tionghoa yang mendapat backing kolonial .
HOS Tjokroaminoto kemudian memperluas cakupan organisasi ini menjadi gerakan politik dan keagamaan, tetapi akar ekonominya tidak pernah benar-benar tercabut. Sayangnya, dalam perjalanan panjang seratus tahun lebih, organisasi ini beberapa kali terperangkap dalam pusaran politik praktis yang justru menggerus basis massanya.
Hamdan Zoelva, pendahulu Ferry, bahkan sempat mengingatkan agar SI meninggalkan pola organisasi ala partai politik dan kembali fokus pada etika, keikhlasan, serta dakwah ekonomi . Ferry tampaknya mendengar pesan itu dengan serius. Ia menegaskan bahwa konsep kehadiran SI bukan sekadar mengurus perdagangan, melainkan pemaknaan ulang tentang keadilan, keberkahan, dan solidaritas dalam menghadapi kapitalisme kolonial .
Dalam konteks kekinian, “kapitalisme kolonial” itu bisa berarti rentenir digital, pinjaman online ilegal, dan sistem ekonomi yang menindas yang kecil.
Ada satu hal yang membuat saya optimistis dengan kepemimpinan Ferry: ia tidak berjanji menjadi superhero. Ia justru meminta anggota SI untuk mengingatkannya jika ia salah atau keliru .
Sikap rendah hati seperti ini langka di tengah budaya politik kita yang cenderung arogan dan anti-kritik. Ferry menyadari bahwa membangun kembali organisasi sebesar SI tidak bisa dilakukan sendirian. Ia butuh kader di seluruh Indonesia untuk bergerak, dan ia butuh kritik yang membangun agar organisasi ini tidak kembali tersesat ke jalan yang sama.
Dalam konteks organisasi Islam tertua, kerendahan hati semacam ini adalah modal berharga untuk merajut kembali kepercayaan publik yang mungkin sudah lama pudar.
Tentu saja, ada sejumlah catatan kritis yang perlu disampaikan. Pertama, posisi Ferry sebagai Menteri Koperasi bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memiliki kekuasaan dan sumber daya untuk mempercepat realisasi program SI.
Di sisi lain, ada risiko konflik kepentingan atau setidaknya persepsi publik bahwa SI sedang “menumpang” program pemerintah. Ferry perlu berhati-hati agar sinergi antara SI dan Kementerian Koperasi tidak dibaca sebagai politisasi ormas untuk kepentingan kekuasaan. Kedua, ekspektasi publik terhadap “kinclong”- nya SI harus dikelola dengan target yang terukur.
Jangan sampai semangat dakwah ekonomi hanya berhenti pada pembentukan koperasi di atas kertas, tanpa ada dampak nyata bagi anggotanya. Ketiga, regenerasi. Ferry harus memastikan bahwa kepemimpinan nya tidak menciptakan ketergantungan pada sosoknya semata, melainkan membangun sistem yang memungkinkan SI terus tumbuh dan relevan, bahkan ketika ia tidak lagi menjabat.
Di sinilah letak inspirasi yang bisa dipetik dari kepemimpinan Ferry: ia membawa semangat “back to basics” tanpa kehilangan relevansi zaman. Syarikat Islam tidak perlu menjadi partai politik lagi, tidak perlu bersaing dalam hingar-bingar elektoral. Ia cukup kembali menjadi apa yang dulu membuat nya besar: wadah bagi umat Islam untuk bangkit secara ekonomi, saling menolong, dan membangun solidaritas.
Dengan Ferry di kemudi, didukung pengalaman panjang di koperasi dan jejaring pemerintahan, ada alasan kuat untuk percaya bahwa Syarikat Islam akan kembali bersinar.
Bukan bersinar karena kilau retorika, melainkan karena cahaya kecil yang menyala di setiap desa, di setiap koperasi masjid, di setiap pondok pesantren yang ekonominya digerakkan oleh umat sendiri.
Selamat bertugas, Ferry Juliantono. Umat menantikan bukti, bukan janji.
Wallahu a’lam bish-shawab.
C20102026 Tabik 🙏
Bravo Ferry !
Referensi:
1.Detikcom. (2026). Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam 2026-2031.
2 ANTARA News. (2026). Menkop Ferry Juliantono ditetapkan jadi Presiden Syarikat Islam.
3 Tribunnews. (2026). Ferry Juliantono Pimpin Syarikat Islam hingga 2031, Koperasi dan Permodalan Umat Jadi Fokus.
4 ANTARA News. (2026). Menkop dorong Syarikat Islam perkuat koperasi dan kemandirian umat.