Dosen STAI Yogyakarta Zetty Arifah, Paparkan Strategi Pembelajaran Maharah Kalam dalam Diskusi Terbatas bersama Dosen

0
Dosen STAI Yogyakarta Zetty Arifah, Paparkan Strategi Pembelajaran Maharah Kalam dalam Diskusi Terbatas bersama Dosen - www.swarnaberita.com

Dosen STAI Yogyakarta Zetty Arifah saat menjadi pembicara Diskusi - Foto: Dokumen STAI Yogyakarta

GUNUNGKIDUL, SWARNABERITA.COM — Keterampilan berbicara menjadi salah satu aspek penting dalam pembelajaran bahasa Arab. Kemampuan ini tidak hanya menuntut penguasaan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga keberanian serta kecakapan dalam menyampaikan gagasan secara lisan. Karena itu, pembelajaran maharah kalam perlu dirancang secara komunikatif agar peserta didik terbiasa menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan Zetty Arifah, S.Pd.I., M.Pd.I., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yogyakarta, dalam diskusi terbatas bersama dosen STAI Yogyakarta, pada Ahad (18/10).

Dalam kesempatan tersebut, Zetty yang menekuni bidang keilmuan maharah kalam atau keterampilan berbicara bahasa Arab menjelaskan pentingnya membangun kemampuan komunikasi lisan sebagai bagian integral dari penguasaan bahasa Arab.

Menurutnya, maharah kalam merupakan kemampuan mengucapkan bunyi, kata, dan kalimat dalam bahasa Arab untuk mengungkapkan ide, gagasan, pendapat, maupun perasaan kepada lawan bicara. Keterampilan ini juga menuntut ketepatan penggunaan kaidah bahasa, baik nahwu maupun sharaf, sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik.

“Pembelajaran maharah kalam tidak cukup hanya membuat peserta didik mengetahui kosakata dan kaidah bahasa Arab. Mereka juga perlu dilatih untuk menggunakan bahasa tersebut secara langsung dalam komunikasi,” demikian inti materi yang dibahas dalam diskusi tersebut.

Bagian Penting dari Empat Keterampilan Bahasa Arab

Zetty menjelaskan bahwa maharah kalam merupakan satu dari empat keterampilan utama dalam pembelajaran bahasa Arab. Tiga keterampilan lainnya ialah maharah al-istima’ atau menyimak, maharah al-qira’ah atau membaca, serta maharah al-kitabah atau menulis.

Keempat keterampilan tersebut saling berkaitan dalam membentuk kemampuan berbahasa secara menyeluruh. Namun, keterampilan berbicara memiliki karakteristik tersendiri karena menuntut kemampuan merespons lawan bicara, menyusun kalimat secara tepat, dan menyampaikan pesan secara lisan dalam situasi komunikasi yang beragam.

Melalui pembelajaran maharah kalam, peserta didik diharapkan mampu berkomunikasi dengan lancar dan akurat, memperkaya penguasaan mufradat atau kosakata, serta membiasakan diri menggunakan pola kalimat sesuai konteks pembicaraan.

Kemampuan tersebut juga penting untuk mendukung pemahaman terhadap sumber-sumber ajaran Islam dan literatur berbahasa Arab. Dengan keterampilan komunikasi yang baik, proses pembelajaran bahasa Arab diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi berkembang menjadi kemampuan praktis yang dapat digunakan secara aktif.

Metode Pembelajaran Harus Mendorong Praktik Langsung

Dalam pembahasannya, Zetty menyoroti sejumlah metode yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab. Salah satunya ialah metode mubasyarah atau metode langsung, yakni pembelajaran yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar tanpa bergantung pada penerjemahan ke bahasa ibu.

Metode ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membiasakan diri memahami dan merespons tuturan bahasa Arab secara langsung. Dengan latihan yang konsisten, peserta didik diharapkan semakin terbiasa menyusun ungkapan dan menggunakan bahasa Arab dalam percakapan.

Selain itu, metode role-play atau bermain peran dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan simulasi percakapan sehari-hari. Peserta didik, misalnya, berlatih berdialog dalam situasi perkenalan, kegiatan belajar, transaksi jual beli, maupun interaksi sosial lainnya.

Metode tanya jawab dan drill atau latihan berulang juga dapat digunakan untuk memperkuat penguasaan pola kalimat. Latihan menyimak dan mengulangi tuturan (listen and repeat), praktik percakapan, serta diskusi menjadi bagian dari upaya membangun kelancaran dan ketepatan berbahasa.

Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran bahasa Arab diharapkan berlangsung lebih aktif dan tidak hanya berpusat pada penjelasan dosen atau pengajar. Peserta didik perlu memperoleh ruang yang cukup untuk mencoba berbicara, melakukan kesalahan, menerima koreksi, dan memperbaiki kemampuan komunikasinya.

Lingkungan Bahasa sebagai Ruang Pembiasaan

Selain metode pembelajaran di kelas, keberadaan lingkungan berbahasa atau bi’ah lughawiyyah juga menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan maharah kalam. Lingkungan ini dapat diterapkan melalui pembiasaan penggunaan bahasa Arab di lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren yang memiliki program pengembangan bahasa.

Dalam lingkungan yang mendukung, peserta didik memiliki lebih banyak kesempatan untuk mempraktikkan bahasa Arab dalam aktivitas sehari-hari. Pembiasaan tersebut dapat membantu memperkaya kosakata, meningkatkan kepercayaan diri, dan membangun spontanitas dalam berkomunikasi.

Penerapan lingkungan bahasa juga dapat melengkapi pembelajaran formal di kelas. Materi yang dipelajari melalui penjelasan dan latihan dapat langsung digunakan dalam interaksi sehari-hari sehingga proses belajar menjadi lebih kontekstual.

Diskusi yang disampaikan Zetty Arifah tersebut menegaskan bahwa pembelajaran maharah kalam membutuhkan perpaduan antara penguasaan kaidah bahasa, latihan komunikasi, penggunaan metode yang variatif, dan lingkungan yang mendukung praktik berbahasa.

Melalui pendekatan yang terarah dan berkelanjutan, pembelajaran bahasa Arab diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang tidak hanya memahami bahasa Arab secara teoritis, tetapi juga terampil menggunakannya sebagai sarana komunikasi dan untuk mendukung pendalaman literatur keislaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *