Merawat Tradisi, Merawat Zaman

0
Merawat Tradisi, Merawat Zaman - www.swarnaberita.com

Foto: Dokumen Eko Arisandi

Oleh: Eko Arisandi
Penulis adalah Staf Khusus Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan Indonesia, alumni FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universiitas Al-Quran Ittifaqiah (UQI) Indralaya

* * *

Perubahan zaman selalu menghadirkan pertanyaan mendasar: apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diperbarui? Pertanyaan ini menjadi penting ketika menyangkut agama, tradisi, dan identitas kebangsaan. Di tengah modernisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan sosial dan ekonomi, bagaimana Islam tetap memberikan orientasi moral? Bagaimana tradisi diwariskan tanpa kehilangan relevansinya? Dan bagaimana nilai-nilai keagamaan berkontribusi terhadap kehidupan kebangsaan yang semakin kompleks?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca buku Islam, Tradisi, dan Perubahan Zaman: Spiritualitas, Kebudayaan, dan Kebangsaan karya Prof. Dr. Murodi, MA. Melalui refleksi tentang spiritualitas, sejarah ulama, kebudayaan Betawi, identitas Jakarta, hingga persoalan sosial kontemporer, buku ini mengajak pembaca melihat agama bukan semata-mata sebagai warisan ajaran, melainkan sebagai sumber nilai yang harus terus diuji relevansinya dalam kehidupan.

Persoalannya bukan sekadar bagaimana agama bertahan di tengah perubahan, tetapi bagaimana nilai-nilainya mampu memberi arah bagi perubahan itu sendiri.

Spiritualitas yang Menggerakkan Kehidupan

Salah satu tantangan kehidupan beragama ialah kecenderungan memisahkan kesalehan dari tanggung jawab sosial. Ibadah dijalankan sebagai kewajiban individual, sementara persoalan keadilan, kepedulian, dan penderitaan sesama seolah berada di wilayah yang berbeda. Padahal, spiritualitas semestinya membentuk cara manusia memperlakukan orang lain dan menjalankan tanggung jawabnya.

Ibadah haji, puasa, Idul Fitri, dan hijrah, misalnya, mengandung pesan yang melampaui pelaksanaan ritual. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang pengendalian diri, kesetaraan, pengorbanan, dan keberanian memperbaiki kehidupan. Makna ibadah menemukan kedalamannya ketika nilai-nilai tersebut hadir dalam tindakan nyata.

Kesalehan, karena itu, tidak cukup diukur melalui simbol keagamaan atau intensitas ritual. Ia juga tercermin dalam kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. Agama kehilangan daya transformatif apabila tidak memengaruhi cara seseorang menjalankan amanah, memperlakukan orang lain, dan menyikapi ketidakadilan.

Dalam pengertian ini, spiritualitas bukan pelarian dari kenyataan, melainkan kekuatan untuk menghadapinya. Keberagamaan seharusnya mendorong manusia terus melakukan introspeksi sekaligus memperluas tanggung jawab kemanusiaannya.

Tradisi dan Kesadaran Sejarah

Hubungan Islam dengan tradisi menghadirkan tantangan tersendiri. Tradisi menyimpan ingatan kolektif, nilai, dan pengalaman panjang masyarakat. Namun, keberlangsungannya tidak cukup dijamin oleh pengulangan kebiasaan. Tanpa pemahaman terhadap maknanya, tradisi berisiko berubah menjadi seremoni yang kehilangan substansi.

Pengalaman Islam di Nusantara memperlihatkan bagaimana ajaran agama berinteraksi dengan kebudayaan lokal. Tradisi keislaman masyarakat Betawi, misalnya, menunjukkan bahwa agama hadir melalui perayaan, hubungan kekerabatan, dan solidaritas sosial. Kebudayaan menjadi ruang bagi masyarakat untuk membangun identitas sekaligus mewariskan nilai antargenerasi.

Merawat tradisi tidak berarti menolak perubahan. Tantangannya justru terletak pada kemampuan membedakan nilai yang perlu dipertahankan dari bentuk yang terbuka untuk diperbarui. Generasi muda tidak cukup diminta meneruskan kebiasaan; mereka perlu memahami sejarah dan pesan yang melandasinya.

Kesadaran sejarah juga membantu kita memahami perjalanan Islam melalui jaringan ulama Nusantara, pertukaran pengetahuan, dan interaksi dengan kekuasaan kolonial. Sejarah bukan sekadar catatan kejayaan masa lalu, melainkan sumber pembelajaran untuk membaca persoalan masa kini. Masa lalu dapat memberi orientasi, tetapi tidak menyediakan jawaban otomatis bagi setiap tantangan zaman.

Identitas dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Persoalan identitas semakin kompleks ketika masyarakat menghadapi globalisasi dan perubahan ruang hidup. Transformasi Jakarta menjadi global city, misalnya, membuka peluang ekonomi sekaligus menghadirkan tantangan bagi keberlanjutan kebudayaan Betawi. Pertumbuhan dan modernisasi dapat memperluas kesempatan, tetapi juga berpotensi meminggirkan masyarakat yang tidak memiliki akses memadai terhadap sumber daya dan pembangunan.

Karena itu, pelestarian kebudayaan tidak cukup dilakukan dengan menjaga simbol, kesenian, atau perayaan. Ia juga menuntut perhatian terhadap pendidikan, kesempatan ekonomi, ruang partisipasi, dan martabat masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Identitas akan lebih bermakna apabila masyarakat mampu menjalani kehidupan yang layak di tengah perubahan.

Pada tingkat nasional, persoalan serupa hadir dalam pemaknaan Hari Kebangkitan Nasional dan Pancasila. Keduanya kehilangan daya apabila berhenti sebagai seremoni dan slogan. Kebangkitan nasional harus diterjemahkan menjadi kesediaan bersama memperbaiki kehidupan bangsa, sedangkan Pancasila perlu diwujudkan melalui penghormatan terhadap perbedaan, penegakan hukum, dan keadilan sosial.

Dalam kerangka ini, Islam dan kebangsaan tidak perlu dipertentangkan. Nilai keagamaan dapat memperkuat kehidupan bersama melalui etika keadilan, amanah, musyawarah, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Namun, kontribusi tersebut baru bermakna apabila diwujudkan dalam tindakan dan kebijakan yang manfaatnya dirasakan masyarakat.

Menguji Nilai dalam Kenyataan

Nilai-nilai luhur pada akhirnya harus berhadapan dengan persoalan konkret. Nasib guru dan dosen honorer, hubungan buruh dengan pengusaha dan kekuasaan, serta perubahan kehidupan keluarga memperlihatkan bahwa komitmen moral selalu diuji dalam keseharian.

Penghormatan terhadap ilmu harus disertai penghargaan terhadap martabat dan kesejahteraan pendidik. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghadirkan keadilan apabila hak pekerja dan distribusi manfaat pembangunan diabaikan. Demikian pula, keluarga membutuhkan kemampuan menjaga tanggung jawab dan hubungan antargenerasi di tengah perubahan teknologi dan tekanan ekonomi.

Di sinilah agama, tradisi, dan kebangsaan menemukan ujian sesungguhnya. Apakah nilai yang diyakini mampu memengaruhi keputusan, memperbaiki kebijakan, dan mengubah cara manusia memperlakukan sesamanya? Pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa keberagamaan tidak cukup berhenti pada bahasa moral, tradisi tidak cukup menjadi perayaan, dan kebangsaan tidak cukup menjadi slogan.

Buku ini mengajak pembaca menempatkan nilai bukan hanya sebagai sesuatu yang dibicarakan, melainkan sebagai pedoman untuk menilai kenyataan dan mendorong perubahan.

Menjaga Makna, Membuka Masa Depan

Buku Islam, Tradisi, dan Perubahan Zaman mempertemukan beragam persoalan dalam satu pertanyaan mendasar: bagaimana menjaga nilai-nilai yang diyakini sambil menghadapi perubahan yang tidak terhindarkan?

Jawabannya memerlukan keterbukaan untuk membaca sejarah, keberanian meninjau kembali kebiasaan, dan keteguhan memperjuangkan keadilan. Mengulang masa lalu tanpa refleksi dapat menjebak kita dalam romantisme, sedangkan menerima perubahan tanpa pertimbangan moral berisiko menghilangkan arah.

Karena itu, buku ini layak dibaca bukan sekadar untuk memperoleh pengetahuan tentang agama dan kebudayaan, melainkan untuk mempertajam cara pandang terhadap kehidupan. Pembaca diajak memahami apa yang patut diwariskan, apa yang perlu diperbarui, dan tanggung jawab apa yang harus dipikul untuk masa depan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan sekadar menjaga agar Islam tetap terlihat dalam kehidupan masyarakat, melainkan memastikan nilai-nilainya memberi arah bagi kehidupan tersebut. Bukan hanya mempertahankan tradisi, melainkan menghidupkan maknanya. Dan bukan semata-mata mengagungkan kebangsaan, melainkan mewujudkan keadilan sebagai dasar kehidupan bersama.

Buku ini memperkaya pengetahuan, menggugah kesadaran, dan menumbuhkan keberanian untuk bertindak. Sebab, nilai-nilai terbaik tidak hanya diukur dari keluhuran gagasannya, tetapi juga dari kemampuannya mengubah kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *