Kemarau Panjang Buka Jejak Sejarah, Ratusan Makam Kuno Muncul di Waduk Gajah Mungkur
Ratusan Makam Kuno Terhampar Saat Waduk Gajah Mungkur Makin Mengering - Foto: DetikJateng
WONOGIRI, SWARNABERITA.COM — Surutnya debit air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, akibat kemarau panjang, menyingkap jejak kehidupan masa lalu yang selama puluhan tahun terendam air. Ratusan batu nisan dari kompleks makam kuno di Dusun Sentono, wilayah Kecamatan Wuryantoro, kini kembali terlihat seiring menyusutnya permukaan waduk.
Kemunculan makam-makam tersebut menjadi pemandangan tersendiri bagi warga sekitar. Area pemakaman yang dahulu berada di kawasan permukiman penduduk itu kini terlihat jelas, memperlihatkan deretan batu nisan yang tersebar di lahan bekas desa yang ditenggelamkan untuk pembangunan waduk.
Seorang warga di sekitar lokasi, Mardi, mengatakan makam kuno tersebut mulai terlihat sejak awal bulan sebelumnya. Seiring dengan semakin surutnya air waduk, hampir seluruh bagian kompleks pemakaman kini muncul ke permukaan.
“Sudah mulai nampak sejak awal bulan lalu. Ini airnya semakin surut, sehingga ini sudah keseluruhan makamnya terlihat,” ujar Mardi, seperti dikutip dari detikJateng, Sabtu (10/10/2026).
Berdasarkan pengamatan di lokasi, ratusan batu nisan tampak memenuhi area pemakaman Dusun Sentono yang dahulu berada di Desa Ngungkingsari. Sisa-sisa struktur tembok pembatas juga masih dapat ditemukan, ditandai dengan bagian pondasi yang terlihat di sisi barat makam.
Kompleks pemakaman tersebut memiliki area yang cukup luas. Di sekitarnya, sebagian perairan waduk masih mengalir dan dimanfaatkan nelayan untuk mencari ikan. Sementara itu, sejumlah perahu nelayan terlihat terdampar di daratan yang mulai mengering akibat penyusutan air.
Jejak Kampung yang Tenggelam
Surutnya air Waduk Gajah Mungkur tidak hanya memperlihatkan kompleks pemakaman kuno, tetapi juga menghadirkan kembali kenangan tentang permukiman yang pernah berdiri di kawasan tersebut.
Mardi menuturkan, warga Desa Ngungkingsari telah berpindah melalui program bedol desa ke Sumatera ketika kawasan permukiman mereka terdampak pembangunan waduk. Meski telah lama meninggalkan kampung halaman, sebagian warga atau keturunannya masih memiliki ikatan emosional dengan tempat asal mereka.
Ketika air waduk surut, kesempatan untuk melihat kembali kawasan yang dahulu menjadi tempat tinggal pun terbuka. Beberapa waktu lalu, menurut Mardi, sekelompok orang datang untuk mengenang kampung halaman mereka.
“Beberapa waktu lalu ada rombongan gitu ke sini. Kalau nggak salah dulunya mereka warga Dusun Pondok, salah satu dusun yang ditenggelamkan. Istilahnya ke sini napak tilas, kampung halaman mereka dulu,” tuturnya.
Kunjungan semacam itu memperlihatkan bahwa kawasan yang kini menjadi bagian dari waduk masih menyimpan memori kolektif masyarakat yang pernah hidup di sana.
Makam Berusia Lama dan Sosok Eyang Raden Santri
Tokoh masyarakat Kelurahan Wuryantoro, Suparso (77), menjelaskan bahwa kompleks pemakaman di Dusun Sentono dahulu merupakan makam kampung yang cukup besar. Luasnya diperkirakan mencapai setengah lapangan sepak bola.
“Itu makam dukuh, namanya kampung Sentono di wilayah Desa Ngungkingsari. Makamnya cukup besar, mungkin separuhnya lapangan sepak bola. Kalau nisannya memang dari batu keras putih, sederhana, hanya berbentuk batu panjang,” kata Suparso.
Menurut penuturannya, makam tersebut tidak hanya digunakan untuk memakamkan warga setempat, tetapi juga menjadi tempat peristirahatan keluarga dan keturunan tokoh yang dihormati masyarakat.
Salah satu nama yang dikenal dalam cerita masyarakat setempat adalah Eyang Raden Santri. Sosok tersebut disebut sebagai sesepuh yang dihormati dan dikaitkan dengan kompleks pemakaman di kawasan Sentono.
Dalam penuturan sebelumnya kepada awak media pada 9 September, Suparso menyebutkan bahwa makam tersebut awalnya merupakan pemakaman kampung yang kemudian juga digunakan oleh keluarga dan keturunan Eyang Raden Santri.
“Dulunya itu makam kampung, tapi terkenalnya, sesepuhnya, namanya Eyang Raden Santri. Lalu makam itu juga makam keluarganya, anak cucu, dan juga jadi makam umum,” ujarnya.
Kemunculan kembali kompleks makam kuno ini menjadi pengingat bahwa di balik hamparan Waduk Gajah Mungkur tersimpan sejarah permukiman, tradisi pemakaman, serta kisah masyarakat yang pernah mendiami kawasan tersebut.
Surutnya air waduk akibat kemarau panjang membuka kesempatan untuk melihat kembali sebagian jejak masa lalu yang selama ini tersembunyi. Namun, lebih dari sekadar pemandangan yang muncul saat air menyusut, makam-makam tersebut menyimpan nilai sejarah dan kenangan tentang kehidupan masyarakat sebelum kawasan itu berubah menjadi waduk.