Keputren Keraton Solo Bakal Direvitalisasi, PB XIV Hangabehi Disiapkan Tinggal di Kawasan Bersejarah

0
Keputren Keraton Solo Bakal Direvitalisasi, PB XIV Hangabehi Disiapkan Tinggal di Kawasan Bersejarah - www.swarnaberita.com

PB XIV Hangabehi Disiapkan Tinggal di Kawasan Bersejarah - Foto: Istimewa

SWARNABERITA.COM — Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat bersiap memasuki babak baru dalam upaya pelestarian warisan budaya Jawa. Salah satu kawasan bersejarahnya, Keputren yang berada di kompleks Keraton Kulon, direncanakan menjalani revitalisasi. Tak sekadar memperbaiki bangunan bersejarah, kawasan ini juga diproyeksikan menjadi tempat tinggal Sri Susuhunan Pakubuwono XIV atau PB XIV Hangabehi sekaligus ruang pengembangan wisata budaya dan edukasi sejarah.

Rencana tersebut disampaikan Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi. Menurutnya, PB XIV Hangabehi telah mempertimbangkan secara matang kawasan yang akan digunakan sebagai tempat tinggalnya.

Kehadiran rencana tersebut membuat revitalisasi Keputren memiliki arti lebih dari sekadar pembenahan fisik bangunan. Kawasan yang menyimpan jejak sejarah kehidupan Keraton Surakarta itu diharapkan tetap berfungsi sebagai bagian dari kehidupan internal keraton, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat tradisi dan kebudayaan Jawa.

Keputren Diproyeksikan Menjadi Wisata Budaya dan Edukasi

Salah satu hal menarik dari rencana revitalisasi ini adalah pengembangan Keputren dan kawasan Keraton Kulon sebagai destinasi wisata budaya sekaligus sarana edukasi sejarah.

Melalui konsep tersebut, pengunjung diharapkan dapat mempelajari lebih jauh sejarah Keraton Solo, tata nilai, tradisi, serta berbagai aspek kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, pengembangan wisata ini tidak berarti seluruh kawasan keraton akan dibuka secara bebas untuk umum. Konsep yang direncanakan adalah wisata minat khusus, yakni kunjungan yang memperhatikan karakter, fungsi, dan nilai budaya kawasan yang dikunjungi.

Karena itu, wisatawan yang memasuki area tertentu nantinya harus mematuhi tata krama keraton, termasuk ketentuan mengenai pakaian dan kewajiban menggunakan pemandu. Pengaturan tersebut diperlukan agar kegiatan wisata tetap menghormati tradisi serta menjaga batas antara ruang privat keluarga keraton dan kawasan yang dapat diakses masyarakat.

Dengan pendekatan ini, pengalaman berkunjung ke Keputren diharapkan tidak hanya menawarkan daya tarik bangunan bersejarah, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai tata kehidupan dan nilai-nilai budaya Keraton Surakarta.

Revitalisasi Menyasar 13 Titik di Kompleks Keraton

Penataan Keputren merupakan bagian dari program revitalisasi yang lebih luas. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan menyiapkan anggaran sekitar Rp150 miliar untuk membenahi 13 titik di kompleks Keraton Solo. Program tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2026.

Sejumlah kawasan yang masuk dalam prioritas revitalisasi meliputi Pagelaran, Sitinggil, Museum Keraton, Kasentanan, Panti Bidono, Keraton Kilen, Keputren, Ndalem Ageng, Kamandungan, Bangsal Pradonggo, Sasana Handrawina, Panggung Songgo Buwono, dan Sinorenggo.

Program ini dinilai penting mengingat revitalisasi berskala besar di Keraton Surakarta disebut terakhir dilakukan sekitar empat dekade lalu. Kondisi sejumlah bangunan dan kawasan bersejarah membutuhkan penanganan agar nilai sejarahnya tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga menekankan bahwa revitalisasi keraton tidak semestinya hanya berorientasi pada perbaikan fisik bangunan. Pelestarian harus mencakup tradisi, tata budaya, nilai-nilai luhur, serta warisan budaya takbenda yang menjadi bagian penting dari identitas Keraton Surakarta.

Dengan demikian, keberhasilan revitalisasi tidak hanya diukur dari bangunan yang kembali tertata, tetapi juga dari keberlanjutan praktik budaya dan kehidupan tradisi yang menyertainya.

Pekerjaan Awal Keputren Mulai Dipersiapkan

Dalam tahap persiapan, kawasan Keputren akan dibersihkan sebelum pekerjaan revitalisasi dilaksanakan. Sejumlah bangunan direncanakan dibongkar sesuai dengan rencana penataan, sedangkan barang-barang dan koleksi museum akan dipindahkan terlebih dahulu untuk menjaga keamanannya selama proses pekerjaan berlangsung.

Tahap ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan revitalisasi, terutama karena kawasan keraton memiliki nilai historis dan menyimpan berbagai benda yang berkaitan dengan perjalanan panjang kebudayaan Surakarta.

Penanganan bangunan maupun koleksi bersejarah membutuhkan perencanaan yang cermat agar pembenahan tidak menghilangkan nilai autentik yang justru menjadi kekuatan utama kawasan tersebut.

Menata Warisan Masa Lalu untuk Generasi Mendatang

Rencana revitalisasi Keputren memperlihatkan tantangan besar yang dihadapi Keraton Solo dalam menjaga warisan sejarahnya. Di satu sisi, keraton merupakan ruang kehidupan keluarga dan tradisi internal yang memiliki aturan tersendiri. Di sisi lain, kawasan ini juga menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang berpotensi memberikan manfaat edukatif bagi masyarakat luas.

Pengembangan wisata budaya dengan konsep kunjungan terbatas dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan kedua kepentingan tersebut. Masyarakat memperoleh kesempatan mengenal sejarah keraton, sementara tata krama, privasi, dan nilai-nilai tradisi tetap dihormati.

Keberhasilan program ini tentu bergantung pada perencanaan, pelaksanaan revitalisasi, pengelolaan kunjungan, serta keterlibatan pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap pelestarian Keraton Surakarta.

Pada akhirnya, revitalisasi Keputren bukan sekadar upaya memperindah kawasan bersejarah. Lebih dari itu, program ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga agar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap menjadi pusat kebudayaan Jawa yang hidup, relevan, dan dikenal oleh generasi masa kini maupun mendatang.

Bagaimana wajah baru Keputren setelah revitalisasi nanti? Masyarakat tentu menantikan bagaimana kawasan bersejarah ini akan memadukan fungsi tempat tinggal PB XIV Hangabehi, pelestarian tradisi keraton, dan pengembangan wisata edukasi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang diwariskan selama berabad-abad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *