Dari Nagham ke Algoritma Peradaban: Ikhtiar Membumikan Seni Baca Al-Qur’an
Dari Nagham ke Ilustrasi Ikhtiar Membumikan Nagham Al-Qur’an - Foto: Istimewa
Oleh: MS. Tjik. NG
Pemerhati Budaya Islam, Ketua Ikatan Alumni Kesatuan Angkatan Muda Sriwijaya (IKA-KAMSRI)
* * *
Ada sesuatu yang mendalam dan memikat ketika seorang ulama pesantren melangkah ke gelanggang akademik modern. Ia tidak meninggalkan akar tradisinya, tidak pula melupakan sanad keilmuan yang menempanya. Sebaliknya, ia memboyong tradisi luhur tersebut ke ruang riset yang ketat, menimbangnya secara metodologis, lalu mengembalikannya kepada umat dalam wujud yang jauh lebih sistematis, terukur, dan adaptif terhadap zaman.
Langkah epistemologis inilah yang ditunjukkan oleh Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, M.A., Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Melalui disertasi doktoralnya di Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), beliau mempertahankan karya ilmiah berjudul “Model Pembelajaran Nagham Al-Qur’an Syekh Musthafa Ismail di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan”.
Ujian promosi doktor yang dilalui KH. Mudrik Qori bukan sekadar deretan pemaparan teori di balik podium akademik. Dalam proses pembelaan disertasinya, beliau memperagakan langsung nagham Al-Qur’an di hadapan majelis penguji. Peristiwa ini menegaskan sebuah pesan fundamental: Al-Qur’an bukan sekadar wacana teks untuk dianalisis di atas kertas, melainkan kalam Ilahi yang harus dilantunkan, dihayati, diwariskan, dan dikembangkan metodologi pengajarannya secara berkelanjutan.
MTQ Semarak, Ilmu Nagham Masih Terasing
Indonesia dikenal luas sebagai negara dengan tradisi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) paling semarak di dunia. Dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga perhelatan nasional, lantunan ayat suci gema membahana sepanjang tahun. Para qari dan qariah tampil memukau dengan fleksibilitas vokal, jangkauan nada yang tinggi, serta penguasaan maqamat yang amat variatif.
Namun, di balik riuh gemuruh arena kompetisi tersebut, ada pertanyaan jujur dan reflektif yang patut kita renungkan bersama: seberapa jauh masyarakat Muslim Indonesia benar-benar memahami apa yang sedang mereka dengarkan?
Ketika seorang qari mengalunkan maqam Bayyati, Hijaz, Rast, Sika, Nahawand, Jiharkah, atau Ajam, berapa banyak pendengar yang mengerti struktur irama yang sedang berjalan? Ketika terjadi perpindahan nada (tahwil), variasi ornamentasi, atau improvisasi melodi, mayoritas penonton kerap hanya berhenti pada tingkat rasa kagum atas merdunya suara, tanpa menyadari kerangka ilmu yang bekerja di baliknya. Istilah-istilah seperti nagham, maqam, tausyih, ma’zul, hingga takhlith masih terdengar asing bagi sebagian besar umat.
Padahal, di balik keindahan vokal seorang qari, terdapat konstruksi ilmu yang sangat presisi. Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur seni baca Al-Qur’an, nagham adalah disiplin yang memadukan keindahan irama, teknik vokal, dan estetika bunyi dengan standar tajwid yang amat ketat. Masalah utama kita hari ini bukanlah ketiadaan tradisi nagham—karena nagham telah lama hidup di tengah masyarakat—melainkan bagaimana ilmu ini diangkat dari ranah intuitif menjadi sistem pengetahuan yang akrab, terstruktur, dan mudah diakses oleh lintas generasi.
Nagham: Lebih dari Sekadar Melodi
Kerap muncul kesalahpahaman di mana masyarakat menyempitkan pengertian nagham sekadar sebagai “lagu membaca Al-Qur’an”. Pemahaman semacam ini tidak sepenuhnya salah untuk tingkatan pemula, namun terlalu dangkal jika dijadikan kesimpulan akhir. Nagham memiliki spektrum yang jauh lebih luas dan mendalam.
Seni baca Al-Qur’an berkaitan erat dengan musikalitas, ketepatan vokal, struktur maqamat, dinamika improvisasi, hingga penghayatan spiritual terhadap kandungan ayat. Melalui pendekatan musikologi modern dan etnomusikologi, tilawah Al-Qur’an diakui memiliki fleksibilitas vokalisasi dan ornamentasi melodi yang sangat kaya.
Kendati demikian, nagham memiliki koridor etik dan teologis yang membedakannya secara mutlak dari seni suara profan. Seorang qari tidak sedang menyanyikan sebuah lagu. Ia terikat penuh pada aturan tajwid, pemahaman makharijul huruf, sifat-sifat huruf, serta kecermatan waqaf dan ibtida’. Keindahan suara tidak boleh mengorbankan ketepatan lafal, melodi tidak boleh mendominasi makna, dan hasrat berprestasi dalam kompetisi tidak boleh menggeser tujuan utama tilawah: beribadah, bertadabur, dan menghadirkan keagungan wahyu di dalam jiwa. Semakin tinggi penguasaan nagham seseorang, seharusnya semakin tinggi pula tingkat kedisiplinan dan penghormatannya terhadap kitab suci.
Mengapa Gaya Syekh Musthafa Ismail?
Pilihan KH. Mudrik Qori untuk meneliti secara mendalam gaya nagham Syekh Musthafa Ismail (1905–1978) memiliki artikulasi strategis. Legenda tilawah asal Mesir ini diakui secara global sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah tarannum Al-Qur’an. Kekhasan gaya (uslub) Syekh Musthafa Ismail terletak pada kemampuannya menganyam nada secara terstruktur, dinamis, dan sangat kaya akan improvisasi tanpa pernah melepaskan kedalaman makna ayat.
Dalam tradisi nagham, tidak cukup seseorang hanya menghafal nama-nama maqam. Yang paling krusial adalah memahami bagaimana maqam tersebut bergerak: bagaimana qari membuka bacaan (قرار/qarar), menaikkan tingkatan nada (jawab dan jawabul jawab), melakukan transisi antarnada, hingga kembali turun ke nada dasar dengan mulus. Gaya Syekh Musthafa Ismail menyediakan laboratorium ilmiah yang amat kaya untuk membedah bagaimana ekspresi musikal tunduk sepenuhnya pada karakter pesan ilahi.
Sintesis Tradisi Talaqqi dan Pendidikan Modern
Kekuatan utama dari temuan riset KH. Mudrik Qori terletak pada ikhtiarnya mempertemukan dua dunia yang sering dipandang berseberangan: tradisi otentik pesantren dan metodologi pendidikan modern.
Dalam sejarahnya, ilmu nagham diwariskan secara lisan melalui metode talaqqi, musyafahah, dan sima’i—santri mendengarkan, menirukan, menerima koreksi langsung dari kiai atau ustaz, lalu mengulangnya secara terus-menerus. Metode ini sangat vital karena nagham melibatkan aspek kepekaan nada (dzauq), vokal, dan transmisi spiritual yang tidak bisa digantikan seutuhnya oleh lembaran buku.
Namun, KH. Mudrik melihat bahwa tradisi lisan ini harus diperkuat dengan kerangka akademis agar tidak rentan terputus. Disertasi beliau merumuskan model pembelajaran yang integratif, progresif, dan adaptif. Pembelajaran nagham dipetakan secara bertingkat:
Pertama, Nagham ‘Aam: Tingkat dasar untuk mengenalkan fondasi nagham dan karakter maqamat secara umum.
Kedua, Nagham Khash: Tingkat menengah untuk mendalami variasi, teknik vokal, dan karakter musikal yang lebih kompleks.
Ketiga, Nagham Khas al-Khas: Tingkat lanjut yang menuntut keahlian improvisasi tinggi. Di tingkat inilah dirumuskan tiga variasi eksklusif: Ma’zul (teknik pemisahan/isolasi nada), Tahwil (perpindahan maqam), dan Takhlith (penggabungan atau kombinasi maqam).
Penyusunan tingkatan ini merupakan langkah krusial dalam mentransformasikannya dari pengetahuan yang bersifat intuitif menjadi kurikulum yang terukur.
Algoritma Peradaban: Memformat Pengetahuan Tradisional
Dari dinamika inilah lahir gagasan tentang “algoritma peradaban”. Istilah ini tentu bukan judul resmi dari disertasi tersebut, melainkan sebuah cara pandang kebudayaan dalam membaca sumbangan pemikiran KH. Mudrik Qori.
Secara sederhana, algoritma adalah urutan langkah logis yang disusun secara sistematis untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan tertentu. Selama berabad-abad, pangkas-memangkas nada, modulasi, dan improvisasi nagham tersimpan rapat dalam memori intuitif serta pengalaman personal para qari senior. Ketika pengalaman dan dzauq tersebut dikodifikasikan, dipetakan pola pergerakannya, dan dirumuskan langkah-langkah metodologisnya, maka kita sedang melakukan formulasi algoritma pengetahuan.
Peradaban yang maju adalah peradaban yang mampu mengodekan pengalaman intuitif para mahagurunya menjadi sistem pengetahuan yang terstruktur, sehingga dapat dipelajari, diuji, dan diwariskan secara massal tanpa kehilangan ruh otentiknya.
Perspektif Digital dan Masa Depan Ekosistem Al-Qur’an
Penelitian ini terasa makin membumi karena berakar dari tempat praktik nyata: Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Sumatera Selatan. Riset ini tidak berhenti pada formulasi teoritis di atas meja, melainkan diuji pada ekosistem pendidikan yang hidup. Lebih jauh, model pembelajaran ini memanfaatkan kombinasi teknik drill, modeling, serta integrasi media digital seperti radio dakwah dan kanal media sosial pesantren.
Di era digital saat ini, demokratisasi pengetahuan adalah sebuah keniscayaan. Jika ilmu nagham tetap dikurung dalam ruang-ruang eksklusif, maka ia akan makin terasing dari generasi muda. Namun, ketika nagham didokumentasikan, disusunkannya kurikulum yang aplikatif, dan disebarkan melalui platform digital, jangkauannya akan menembus batas-batas geografis.
Ke depan, kita bermimpi agar nagham tidak lagi menjadi monopoli panggung MTQ. Model kurikulum ini patut direplikasi di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ), Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ), rumah-rumah tahfiz, madrasah, hingga sekolah umum. MTQ pun harus dinaikkan kelasnya: tidak sekadar memproduksi juara kompetisi, melainkan melahirkan pendidik, mentor, dan akademisi Al-Qur’an yang membangun ekosistem ilmu secara berkelanjutan.
Langkah yang diayunkan Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, M.A. dari bumi Sriwijaya ini memberikan teladan nyata tentang bagaimana tradisi, penelitian ilmiah, sistematisasi, dan digitalisasi dapat dipadukan. Pada akhirnya, keindahan nagham bukanlah tujuan akhir untuk mempertontonkan kebolehan suara, melainkan sarana terbaik untuk memuliakan kalam Allah, membumikan maknanya, dan merawat peradaban Islam di Nusantara.
*
Editor: Arfaizar – Foto: Dokumen Istimewa