Bangsa, Tahta dan Oligarki
Bangsa, Tahta dan Oligarki - Foto: Istimewa
Oleh: Prof. Dr. Hasbi Indra
Guru Besar Universitas Ibn Khaldun Bogor
* * *
Di saat penjajahan dulu telah ada kaki tangan Belanda di Nusantara yakni “Londo Ireng” untuk kebutuhan hidupnya setelah merdeka diraih, muncul pula istilah “oligarki” yang konon mengendalikan Indonesia.
Kini pertaruhannya di bidang politik yakni mewarnai dan mengendalikan tahta negara.
Pertaruhan untuk nasib bangsa melalui corak tahta rakyat atau corak mereka.
Di tengah kenaifan yang menandai bangsa yakni ada ketimpangan kaya miskin seperti bumi dengan langit kurang 1 persen superkaya dan kaya; 99 persen super miskin dan terancam miskin yang jumlahnya puluhan juta dan bahkan hitungan bank dunia ratusan juta, prilaku korup di puncaknya jumlahnya ribuan trilyun jumlah kumulatifnya, menuntut kecerdasan bangsa ini untuk keluar dari kenaifannya. Bangsa baiknya kembali ke Pancasila dalam jiwa spiritual dan akal warasnya meraih kembali jiwa kejujurannya.
Tahta ala benalu bangsa telah membonceng demokrasi melalui tahta yang abuse of power menggunakan politik gentong babi, baiknya itu tidak terulang yang memunculkan tahta yang berprilaku yang sama. Hal yang segera harus disadari dan disiasati untuk konsolidasi dari rakyat atau civil society sejak kini melalui prilaku parlemen atau melalui instrumen lainnya seperti KPU dan lainnya.
Tahta hasil pemilu jangan lagi hanya menjadi beban bangsa dan rakyat. Beban bangsa yang buruk rupa di politik, hukum dan ekonomi serta kerapuhan sosial terjadi. Di saat beban kehidupan rakyat semakin berat melalui pajak yang dipundaknya. Jangan lagi ada tahta yang terulang sebagai beban yang dirasakan indikasinya telah ada di dua dekade lalu bahwa sosok di tahta puncak negara bukan dalam desains rakyat.
Kondisi bangsa yang mengalami degradasi berbagai bidang kehidupan itu rupanya pemimpinnya telah mengambil bagian menjadi beban rakyat yang sengaja dihadirkan oleh tangan tak terlihat. Terasa telah menciderai jalan emas bangsa yakni jalan pendidikan untuk bangsa yang berharkat dan bermartabat, yang konon ingin dicapai di 2045?
“Pesimisme”
Di tengah ada aura pesimisme akan jalan yang ditempuh bangsa seolah diri tak berdaya menjalani sistem yang dipilihnya melalui jalan demokrasi. Sistem yang bisa menjadi mudharat yang besar, apabila tak ada tanggungjawab terutama dari manusia tahta untuk menegakkan spirit spiritual di tahtanya untuk kemaslahatan seluruh anak bangsanya.
Spiritualitas yang memanggil sebuah kejujuran di tengah kebebasan yang seolah tak bertepi, yang seolah sistem yang ada nihilisme menegakkan nilai kejujuran di dunia manapun. Di tengah bangsa yang merasakan tahta yang tidak tegak untuk menjadi contoh di posisi itu yang jadinya seolah manusia siapa pun dia di sana sama saja buruknya.
Sehingga manusia di situ tak ada manusia yang seutuhnya tapi hanya manusia yang dalam citarasanya, manusia boneka yang bahkan sangat buruk karakternya.
Tahta yang tak mengenal tahta sebagai amanah suci untuk kebangsaan dan kerakyatan yang semestinya. Manusia machiavellian yang menjalani politik, hukum dan ekonomi untuk dirinya dan untuk tuannya. Manusia tahta yang tak menjadi teladan bagi anak bangsa.
Jalan optimisme tetap dijaga karena masih ada manusia yang memberi harapan di suatu bangsa dan bahkan di sistem apapun yang ada di sana. Mungkin itu ada di Xi Jimping, Putin, dan di tempat lain ada Obama, Ordogan, Khomainy, dan Mandela, begitulah ada catatan di sebuah bangsa ada manusia yang mendekati seutuhnya di tahta itu. Inilah gambaran jalan optimisme yang mensyaratkan dijalani melalui mekanisme jujur untuk martabat bangsa di pemilu 2029.
“Moment di tahun 2029”
Sekalipun tahunan lagi akan kembali ada moment penentuan nasib bangsa ini yakni di tahun 2029, tapi waktu terasa berjalan demikian cepat hanya mengingatkan bangsa ini yang nasib baiknya tergantung pada dirinya bukan pada mereka yang telah disebut itu. Bagi benalu bangsa saat ini mereka sudah mulai bekerja untuk misinya.
Di saat bangsa kondisinya belum stabil dan rakyat banyak tersedot perhatian ke problem yang tengah dihadapi, bagi mereka kondisi ini jalan yang bisa dimanfaatkan untuk segera merancang siapa sosok tahta yang bisa berada di dalam citarasanya di masa depan.
Harus belajar dari waktu yang dilalui terasa tahta yang muncul hasil dari kelengahan dan bangsa kecolongan sehingga hadir tahta bukan untuk bangsa dan rakyat tapi tahta dalam citarasa oligarki.
Tahta yang telah melakukan abuse of power di citarasa paman Usman di MK. Tindakan itu menyalahi misi reformasi tahun 1998 berupa kolusi dan nepotisme dan lahir anak emas konstitusi, dan melalui tahta dengan politik gentong babinya yang dicatat di dalam film dirty vote hal itu terjadi. Tahta yang meninggalkan beban berat bangsa yang komplit lagi kompleks kini.
Oligarki bertepuk tangan atas kondisi yang terjadi dan rakyat semakin berat bebannya, mereka segera kembali ke misinya untuk tahta dalam kehendaknya yakni sosok yang tak amanah dan bila perlu sosok yang sangat tidak ideal. Tahta yang bisa mereka kendalikan dengan sekehendak hati. Tahta boneka yang bahkan kualitasnya ada di sepatu yang terus mereka akan diinjak.
Mereka tau hal itu penting sebagai jalan terus menghegemoni kekayaan di bangsa ini sebagai bentuk penjajahan halus yang kemudian mempengaruhi dan mengendalikan alat negara dan instrumen lain seperti KPU dan MK dan juga media darling, lalu menundukkan perkumpulan yang ada sebagai lumbung suara yang bisa mereka beli.
Kondisi bangsa hasil dari desain mereka yang kondisinya naif mungkinkah ini juga terjadi karena menjamurnya perkumpulan politik dan menjamurnya perkumpulan masyarakat yang hidup tidak bergantung pada anggotanya tapi bergantung pada negara atau tahta negara.
Mungkin ketergantungan itu saat ini sudah menjadi darah dagingnya. Bagi elitnya tak mengapa anggotanya miskin massal dan bodoh yang penting mereka berada di tataran hidup di atas level kemiskinan.
Kenyataan yang menyedihkan di bangsa ini melihat nama-nama itu ada dari perkumpulan yang mereka tak menyadari telah menyiapkan kadernya sebagai kaki tangan mereka untuk mengisi jalan yang menggambar bangsa ini terus dalam genggamannya yang membuat bangsa bukan bangsa yang beragama dan berpancasila.
Sehingga jalan kejujuran tak lagi dipegang. Pancasila yang sila pertama itu adalah spirit untuk anak bangsa agar berpegang pada hal itu. Kejujuran tak boleh dijual dengan imbalan apapun sekalipun hidup serba terbatas.
“Jalan terjal”
Jalan demokrasi terasa jalan berat untuk mempertahankan kejujuran bagi rakyat umumnya, semoga tidak terjadi hal itu ke depan, tapi bagi elit yang hidupnya di atas level kemiskinan layaknya tak berat, kecuali ada penyakit serakah yang dinikmati. Elit apapun apakah mereka elit negara, perkumpulan politik atau perkumpulan masyarakat termasuk pemilik pendidikan dan pemilik rumah ibadah atau alat negara jangan bersikap aji mumpungisme yang mudah dibayar.
Layaknya dan jadilah gardah terdepan untuk tegak berdiri disitu dan meluruskannya, namun bila telah berada di telapak kaki mereka segera insaf dan sadar jangan berada di jalan itu, itu jalan bak menjual ayat sucinya dengan obral karena telah berada di mentalitas mumpungisme yang menjadi beban bangsa.
Bangsa ini beragama dan berpancasila, kecerdasan akal dan karakter baik yang dikedepankan, saatnya nanti puasa uang dan tak ada asa membabi buta demi tahta negaranya di moment demokrasi itu dan tanggalkan mumpungisme yang menutup mata untuk sosok terbaik calon pemimpin bangsanya.
Anak bangsa baiknya merenungkan kondisi bangsa yang kini naif, bangsa yang bagaikan hidup enggan mati tak mau. Setelah ada tahta yang seolah merakyat, lugu dengan baju putih ala jujur dan suci, gambar tahta yang dipilihkan oligarki sehingga hanya menjadi beban bangsa dan rakyat yang berkepanjangan. Beban puncak bangsa di semua lini kehidupan yang belum terjadi sebelumnya.
Beban politik -hukum, dan ekonomi yang nir kebangsaan dan kerakyatan hanya ada dalam citarasa mereka yang tak bisa menjadi teladan di tengah rakyat yang butuh keteladanan. Bangsa ini bangsa besar lagi cerdas yang rakyatnya butuh pemimpin teladan yang dapat diteladani dalam berbagai hal oleh rakyat.
Bila masih percaya akan mekanisme demokrasi ikhtiyar harus dilakukan untuk hadirnya pemimpin sebagai puncak keteladanan di corak kehendak rakyat bukan kehendak mereka yang telah menyusup ke berbagai instrumen bangsa.
Layaknya mereka menyadari diri untuk menjadi bagian dari penyelamat bangsa. Tegakkan kejujuran terutama ke elit bangsa, ini hutangnya yang mungkin telah menjadi bagian terbentuknya kondisi naif di bangsa ini untuk menyadarinnya dan kembali ikut menegakkan nilai yang fundamental itu.
Hal yang sangat penting pula perlu ke peduliannya dan tak membiarkan prilaku yang sama dari tahta yang potensial melakukan abuse of power yang mengendalikan aparat dibawahnya yang tak berjalan di sumpah sucinya dalam perhelatan demokrasi.
Bangsa yang layaknya melakukan Taubat Nasional di mana elit bangsa yang
ada di lembaga- lembaga itu di samping keluar dari zona itu dan baiknya melakukan kajian siapa yang layak di tahta puncak negara.
Untuk hal itu baiknya jauhkan syahwat egoisme kelompok, beragama, suku, ras dan lainnya, sehingga muncul sosok yang selayaknya sebagai sang pemimpin negara yang layak dalam cita rakyat.
Sosok-sosok yang dipertimbangkan di posisi tahta puncak negara dalam catatan-catatan berikut:
Pertama, melalui apakah sosok itu gencar mengekploitasi psikologis rakyat yang masih dianggapnya bodoh, sehingga citra diri yang merakyat, lugu yang tidak genuine;
Kedua, sosok yang tidak dicatat telah melakukan korupsi atau cacat etika dan moral meraih kuasa;
Ketiga, apakah sosok itu dapat menjadi teladan seluruh anak bangsa untuk juga kaum yang biasa berfikir seperti kaum intelektual, tokoh agama dan yang berbintang emas dipundaknya;
Keempat, apakah sosok itu punya banyak pengalaman di birokrasi;
Kelima, tokoh yang kuat basisnya di tiga kecerdasan yakni cerdas intelektual, emosional dan spiritual.
Bangsa layak dikembalikan menjadi bangsa yang punya tiga kecerdasan itu, sosok yang mampu berdialog dengan manusia yang berkualitas di bangsa lain. Mampu mewarnai dunia internasional dengan kepercayaan diri yang kuat dan tak ada hambatan komunikasi, dan tampil dengan kemampuan intelektualnya.
Di dalam negeri memerlukan sosok cerdas emosi yang stabil dengan lapang dada dan kepala dingin ,sehingga dapat menyelesaikan masalah masalah yang dihadapi rakyat.
Adapun kecerdasan spiritual yakni dekat dengan tokoh agama dan mudah beradaptasi dan mendengar suara mereka. Bangsa merindukan tokoh yang dibenaknya ada dan berani bersikap bahwa keadilan dan kemanusiaan serta kesejahteraan layaknya milik bangsa dan milik rakyat.
Semoga elit bangsa dan umat beragama fungsional untuk kebangsaan dan kerakyatan, kembalikah menjadi bangsa cerdas spiritual dan akal warasnya yang seharusnya menjadi jatidirinya.
Ini hanya jalan yang diusulkan semoga jadi bahan renungan dan dipertimbangkan demi bangsa yang layaknya besar dan bermartabat di mata dunia. Bangsa ini bukan milik benalu bangsa dan tahta yang dihadirkannya, atau untuk mereka yang belum merasa puas dengan harta yang dimilikinya serta kaki tangan yang menjadi hambanya.
Bogor Oktober 2026