Prof. Yusdani: Santri Harus Naik Kelas! Saatnya Jadi Aktor Strategis dan Arsitek Masa Depan Bangsa

0
Prof. Yusdani Santri Harus Naik Kelas! Saatnya Jadi Aktor Strategis dan Arsitek Masa Depan Bangsa - www.swarnaberita.com

Prof. Dr. Drs. Yusdani, M.Ag., Guru Besar UII Yogyakarta - Direktur PS2PM Yogyakarta - Foto: Istimewa

SWARNABERITA.COM, YOGYAKARTA – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 harus menjadi momentum bagi para santri untuk meningkatkan kapasitas diri, memperluas wawasan, dan mengambil peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Santri masa kini dituntut tidak hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga tampil sebagai generasi yang cakap, adaptif, berwawasan global, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Prof. Dr. Drs. Yusdani, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Siyasah dan Pemberdayaan Masyarakat (PS2PM), dalam wawancara melalui telepon bersama redaksi Swarna Berita pada Kamis siang, 22 Oktober 2025, pukul 12.00 WIB.

Menurut Yusdani, momentum Hari Santri perlu dimanfaatkan untuk mendorong lahirnya sosok sophisticated santri, yakni santri yang memiliki kedalaman pemahaman keislaman, keluasan wawasan, kecakapan intelektual, serta kemampuan merespons kompleksitas kehidupan nasional dan global.

“Peringatan Hari Santri merupakan suatu momentum yang sangat tepat bagi para santri untuk mengembangkan diri sebagai sosok santri yang canggih (sophisticated santri),” ungkap Yusdani.

Gagasan tersebut menegaskan bahwa santri perlu terus mengembangkan kualitas dirinya agar mampu menghadapi perubahan zaman. Tradisi keilmuan pesantren tetap menjadi fondasi utama, tetapi perlu disertai penguatan kemampuan berpikir kritis, keterampilan sosial, kepemimpinan, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Dengan demikian, santri tidak hanya dipersiapkan untuk menjalani kehidupan di lingkungan pesantren, tetapi juga memiliki kesiapan untuk mengambil bagian dalam berbagai bidang pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara.

Sophisticated Santri: Mengintegrasikan Tradisi, Ilmu, dan Kecakapan Zaman

Konsep sophisticated santri menjadi salah satu gagasan penting dalam melihat masa depan pendidikan pesantren. Santri yang canggih bukan semata-mata santri yang menguasai teknologi atau memiliki kemampuan akademik tinggi, melainkan pribadi yang mampu memadukan kedalaman spiritual, keluasan pengetahuan, kematangan berpikir, dan kecakapan menghadapi perubahan sosial.

Santri perlu memiliki fondasi keagamaan yang kuat sekaligus kemampuan memahami persoalan kontemporer. Tantangan seperti perkembangan teknologi digital, perubahan ekonomi, dinamika sosial, persoalan lingkungan, hingga kompleksitas kehidupan politik dan kebangsaan membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan dalam menggunakannya.

Dalam konteks tersebut, tradisi pesantren tetap memiliki posisi penting. Pendidikan agama, pembentukan akhlak, keteladanan kiai, kedisiplinan, kemandirian, dan kehidupan bersama merupakan modal berharga dalam membentuk karakter santri.

Namun, modal tersebut perlu dikembangkan agar santri mampu berinteraksi dengan berbagai kalangan, memahami perubahan dunia, serta berkontribusi dalam penyelesaian persoalan nyata.

Santri yang memiliki kedalaman ilmu agama dan kecakapan menghadapi perkembangan zaman diharapkan mampu menjadi penghubung antara tradisi keilmuan Islam dan kebutuhan masyarakat modern.

Dengan orientasi itu, pesantren tidak perlu kehilangan jati dirinya untuk menjadi relevan. Sebaliknya, kekuatan tradisi pesantren dapat menjadi sumber nilai dan inspirasi bagi lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan.

Dari Ruang Domestik Menuju Panggung Publik

Salah satu penekanan Yusdani adalah perlunya memperluas posisi dan peran santri dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, santri masa kini perlu bergerak dari peran yang terbatas pada lingkungan domestik menuju keterlibatan yang lebih luas di ruang publik.

“Posisi dan peran santri sekarang perlu digeser dari peran domestik ke peran publik untuk bangsa dan negara,” tegasnya.

Pernyataan tersebut mengandung pesan bahwa santri perlu mendapatkan ruang yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan kebangsaan.

Santri memiliki potensi untuk menjadi pendidik, peneliti, pengusaha, pemimpin masyarakat, pegiat sosial, penggerak ekonomi umat, maupun profesional di berbagai bidang. Potensi itu perlu dikembangkan melalui pendidikan yang mendorong kemandirian, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian menyampaikan gagasan.

Perluasan peran tersebut bukan berarti santri harus meninggalkan pesantren atau menjauh dari tradisi keilmuan Islam. Justru, ilmu, nilai, dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani pendidikan pesantren dapat menjadi bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Santri yang terlibat dalam kehidupan publik diharapkan mampu menghadirkan etika, integritas, tanggung jawab, dan orientasi kemaslahatan. Kehadiran mereka bukan sekadar untuk memenuhi ruang-ruang sosial yang tersedia, melainkan turut memperkaya kehidupan masyarakat melalui gagasan dan tindakan yang bermanfaat.

Dalam konteks inilah, santri perlu dipandang sebagai bagian dari sumber daya strategis bangsa yang memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan Indonesia.

Memperkuat Wacana Keislaman dan Keindonesiaan

Yusdani juga menyoroti pentingnya memperkuat wacana keislaman dan keindonesiaan dalam pengembangan santri. Kedua dimensi tersebut perlu berjalan beriringan agar santri mampu memahami ajaran Islam sekaligus mengambil bagian dalam kehidupan kebangsaan yang majemuk.

Keislaman memberikan fondasi nilai, etika, dan orientasi moral bagi santri. Sementara itu, pemahaman tentang keindonesiaan membantu mereka membaca realitas masyarakat, memahami keberagaman, serta mengembangkan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Penguatan kedua dimensi tersebut penting agar santri tidak hanya mendalami persoalan keagamaan dalam lingkup internal pesantren, tetapi juga mampu berdialog dengan perkembangan masyarakat dan berbagai persoalan publik.

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keragaman suku, bahasa, budaya, dan latar belakang sosial. Dalam kehidupan seperti ini, santri memiliki peluang untuk ikut membangun ruang perjumpaan yang sehat, memperkuat solidaritas sosial, dan mengembangkan dialog yang konstruktif.

Santri dapat mengambil peran dalam menjelaskan nilai-nilai Islam yang mendorong keadilan, kepedulian, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama, serta kemaslahatan bersama.

Penguatan wacana keislaman dan keindonesiaan juga membutuhkan kemampuan membaca persoalan secara kritis dan proporsional. Santri perlu memiliki keberanian mengemukakan pandangan, tetapi tetap didukung pengetahuan yang memadai, argumentasi yang kuat, serta etika dalam menyampaikan pendapat.

Dengan cara tersebut, santri dapat berkontribusi dalam memperkuat kehidupan kebangsaan sekaligus menghadirkan pemikiran keislaman yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Pesantren Perlu Bertransformasi Menghadapi Kompleksitas Zaman

Gagasan mengenai sophisticated santri juga membawa konsekuensi bagi pesantren sebagai lembaga pendidikan. Yusdani menekankan bahwa pesantren perlu mentransformasikan diri agar mampu merespons tuntutan nasional dan global yang semakin kompleks, khususnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Transformasi pesantren tidak cukup dimaknai sebagai pembaruan fasilitas, penggunaan teknologi digital, atau perubahan tata kelola kelembagaan. Lebih dari itu, transformasi perlu diarahkan pada penguatan kualitas pendidikan, pengembangan kapasitas santri, dan perluasan orientasi pengabdian pesantren.

Pesantren tetap perlu mempertahankan kekhasan tradisi keilmuan Islam, pengkajian kitab, pembentukan adab, dan keteladanan kiai. Pada saat yang sama, santri perlu dibekali kemampuan untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan dinamika sosial.

Pengembangan literasi digital, kemampuan komunikasi, pemikiran kritis, keterampilan kewirausahaan, dan kepemimpinan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas kompetensi santri.

Pesantren juga dapat memperkuat hubungan dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, komunitas masyarakat, dan berbagai institusi lain. Kolaborasi tersebut membuka peluang bagi santri untuk memperoleh pengalaman yang lebih luas serta mengembangkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Transformasi semacam ini bukan dimaksudkan untuk menyeragamkan pesantren dengan lembaga pendidikan lain. Sebaliknya, pembaruan perlu bertolak dari karakter dan kekuatan masing-masing pesantren agar modernisasi tidak menghilangkan identitas kelembagaannya.

Dengan pendekatan tersebut, pesantren dapat menjadi ruang pendidikan yang mengintegrasikan kedalaman ilmu agama, pembentukan karakter, penguasaan pengetahuan kontemporer, dan pengembangan kapasitas sosial.

Santri Harus Berani Bersuara dan Menawarkan Solusi

Yusdani menegaskan bahwa santri sudah saatnya memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan dan berkontribusi secara positif bagi bangsa.

“Sudah saatnya santri bersuara lantang dan berkontribusi positif untuk bangsa ini,” ujarnya.

Pesan tersebut menempatkan keberanian berbicara sebagai bagian dari tanggung jawab sosial santri. Santri tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga perlu berani menyampaikan pandangan ketika berhadapan dengan persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Namun, keberanian tersebut harus dibangun di atas dasar ilmu, integritas, dan tanggung jawab. Bersuara lantang bukan berarti berbicara tanpa pertimbangan atau mempertajam perbedaan, melainkan menyampaikan gagasan secara jelas, argumentatif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.

Santri perlu mengembangkan tradisi berpikir kritis, berdiskusi, melakukan penelitian, serta menyampaikan pendapat berdasarkan data dan pengetahuan. Dengan demikian, suara santri dapat menjadi kontribusi intelektual yang memperkaya percakapan publik.

Di tengah perkembangan media digital, santri juga memiliki peluang untuk menyebarkan pengetahuan, memperkuat literasi masyarakat, dan menghadirkan informasi yang bermanfaat. Mereka dapat menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk menjelaskan persoalan keagamaan dan kebangsaan secara mencerahkan, sekaligus membangun dialog yang menghargai perbedaan.

Lebih penting lagi, gagasan yang disampaikan santri perlu diikuti tindakan nyata. Kepedulian terhadap masyarakat dapat diwujudkan melalui kegiatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pendampingan komunitas, pengembangan usaha, penelitian, dan berbagai bentuk pengabdian lainnya.

Dengan demikian, keberadaan santri di ruang publik tidak berhenti pada simbol atau identitas, tetapi terlihat melalui karya, gagasan, kepemimpinan, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Cinta Tanah Air Harus Diwujudkan melalui Kontribusi Nyata

Dalam pandangan Yusdani, upaya mengembangkan kapasitas santri, memperkuat wawasan keislaman dan keindonesiaan, serta memperluas keterlibatan mereka dalam kehidupan publik merupakan wujud cinta terhadap bangsa dan tanah air.

Cinta tanah air tidak hanya diwujudkan melalui pernyataan atau kegiatan seremonial. Nilai tersebut juga perlu tercermin dalam kesediaan untuk belajar, bekerja, berkarya, mengabdi, dan ikut mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi bangsa.

Bagi santri, cinta tanah air dapat diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, pemberdayaan masyarakat, serta partisipasi aktif dalam berbagai bidang kehidupan.

Santri yang berilmu dan berakhlak memiliki peluang untuk menjadi kekuatan sosial yang membantu masyarakat menghadapi perubahan. Sementara itu, pesantren dapat memperluas kontribusinya dengan melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga kesiapan menjalankan tanggung jawab sosial dan kebangsaan.

Karena itu, peringatan Hari Santri Nasional 2026 perlu dimaknai sebagai momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen. Santri, pesantren, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan perlu bersama-sama membuka ruang bagi pengembangan kapasitas generasi muda pesantren.

Tantangannya bukan sekadar bagaimana mempertahankan tradisi, melainkan juga bagaimana menjadikan tradisi tersebut sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi masa depan.

Hari Santri 2026: Saatnya Santri Menjadi Bagian dari Solusi Bangsa

Gagasan sophisticated santri memberikan perspektif bahwa masa depan pesantren berkaitan erat dengan kemampuan santri untuk mengintegrasikan kedalaman spiritual, kecakapan intelektual, kematangan sosial, dan komitmen kebangsaan.

Santri perlu tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam, tetapi tidak boleh menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan dunia. Pesantren perlu menjaga jati dirinya, sekaligus memperluas kesempatan bagi santri untuk belajar, berinovasi, memimpin, dan berkontribusi di berbagai bidang.

Dalam kerangka tersebut, santri tidak cukup hanya menjadi pewaris tradisi masa lalu. Mereka juga perlu dipersiapkan sebagai pelaku perubahan yang mampu menghadirkan gagasan dan karya bagi masa depan Indonesia.

Hari Santri Nasional 2026 menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali bahwa pesantren bukan hanya ruang pembentukan pribadi yang saleh, tetapi juga tempat menumbuhkan generasi yang memiliki tanggung jawab sosial dan kebangsaan.

Santri yang canggih adalah santri yang mampu memadukan ilmu dan amal, tradisi dan inovasi, nilai keislaman dan komitmen kebangsaan. Mereka tidak hanya memahami persoalan, tetapi juga berani mengambil bagian dalam mencari solusi.

Sebagaimana pesan Yusdani, sudah saatnya santri bersuara lantang dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa. Dari pesantren, diharapkan tumbuh generasi yang bukan hanya siap menghadapi perubahan zaman, melainkan juga mampu ikut menentukan arah masa depan Indonesia.

Santri tidak harus meninggalkan tradisi untuk menjadi modern. Dengan ilmu, akhlak, keberanian, dan pengabdian, santri dapat menjaga warisan keislaman sekaligus menjadi arsitek peradaban dan masa depan bangsa.

* * *

Editor: Januariansyah Arfaizar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *