Idul Adha 1447 H: Meningkatkan Cinta Sesama dan Solidaritas Sosial
Salah satu bentuk dan upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. yang mulia ini adalah usaha meningkatkan cinta dan menguatkan solidaritas melalui semangat berbagi kepada sesama. Semangat berbagi di Hari Raya Idul Adha sebenarnya sudah diajarkan langsung oleh Allah Swt. melalui Al-Qur’an. Pada momen Idul Adha ini, umat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban dan membagikan sebagian dagingnya kepada orang-orang yang membutuhkan. Dari sinilah kita belajar bahwa Idul Adha bukan hanya tentang ibadah ritual semata, tetapi juga tentang kepedulian dan berbagi dengan sesama. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Unta-unta itu Kami jadikan untukmu sebagai bagian dari syi’ar agama Allah. Bagimu terdapat kebaikan padanya. Maka, sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya, sedangkan unta itu) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Lalu, apabila telah rebah (mati), makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkannya (unta-unta itu) untukmu agar kamu bersyukur.” (Terjemahan QS. Al-Hajj: 36).

Spirit Idul Adha
Idul Adha sejatinya memiliki spirit yang sangat kuat tentang semangat berbagi di momen Hari Raya Idul Adha. Di dalamnya tersirat sebuah makna bahwa ibadah kurban menjadi sarana untuk menebar kebaikan dan mempererat kasih sayang antarwarga, sehingga kebahagiaan hari raya ini dapat dirasakan oleh semua orang, baik yang berkecukupan maupun mereka yang sedang membutuhkan uluran tangan.
Dalam kaitan inilah, ibadah kurban merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) dalam Islam bagi umat Islam yang mampu melaksanakannya, baik yang tinggal di perkotaan, pedesaan, maupun dalam keadaan bepergian. Hal ini sebagaimana dijelaskan (artinya):
“Berkurban hukumnya sangat dianjurkan bagi setiap Muslim yang mampu melaksanakannya, baik yang tinggal di perkotaan, pedesaan, maupun yang sedang dalam perjalanan.” (Imam Nawawi, Majmu’ Syarhil Muhadzdzab, VIII: 383).
Atas dasar itu, kalau Allah sudah memberi kita rezeki yang lebih, jangan sampai kesempatan untuk berkurban ini dilewatkan begitu saja. Sejatinya, berkurban adalah salah satu cara untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan. Dari situlah rasa peduli, kebersamaan, dan solidaritas di hari raya dapat benar-benar terasa.
Labih jauh lagi, kita juga perlu memahami bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah kurban. Karena itu, jangan sampai merasa tidak dapat mengambil bagian dalam semangat berbagi di Hari Raya Idul Adha hanya karena belum mampu berkurban. Sebab Rasulullah saw mengajarkan bahwa berbagi tidak harus dengan sesuatu yang besar. Bahkan dalam salah satu hadisnya, Nabi saw mengingatkan agar seorang Muslim tetap berusaha membantu dan membahagiakan orang lain sesuai dengan kemampuannya, meskipun hanya dengan memberi sepotong kurma, dan jika pun tidak mampu, maka cukup dengan mengucapkan kata-kata yang baik. Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad saw bersabda (artinya):
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) sepotong kurma. Jika tidak mampu, maka dengan perkataan yang baik.” (HR. Bukhari & Muslim).
Oleh sebab itu, jadikan momen hari raya Idul Adha ini 1447 H. ini sebagai momentum untuk berbagi kepada sesama, khususnya kepada mereka yang kurang mampu, fakir, miskin, dan anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan kita. Lakukanlah sesuai dengan apa yang kita mampu. Jika Allah memberi kelapangan rezeki dan kita mampu berkurban, maka tunaikanlah ibadah kurban.
Namun jika belum diberikan kemampuan untuk berkurban, tetaplah bersemangat berbagi dengan cara bersedekah, baik berupa makanan, pakaian, uang, atau perkataan yang menyenangkan hati saudara kita. Dengan amal-amal ini, menunjukkan bahwa kita sudah berkontribusi besar dalam menjadikan hari raya Idul Adha ini sebagai momentum berbagi kepada sesama.

Penutup
Sebagai akhir dari tulisan ini jelas menunjukkan kandungan inti ibadah dalam Islam adalah:
- Bahwa ibadah ritual individual dalam Islam mengandung dua dimensi sekaligus, selain untuk mewujudkan kesalehan pribadi juga berimplikasi sosial sekaligus.
- Bahwa semua ibadah dalam Islam, termasuk ibadah kurban dilakukan dengan semata-semata untuk meningkatkan ketakwaan dan mengharap rida Allah serta dikerjakan dengan penuh keikhlasan.
- Bahwa dalam hubungan inilah momentum idul adha di samping sebagai manifestasi ketakwaan secara individu-personal sahibul kurban juga merupakan momentum untuk meningkatkan rasa cinta sesama dan membangun solidaritas sosial.
Demikian tentang pentingnya menguatkan solidaritas lewat semangat berbagi di hari raya Idul Adha. Semoga Allah Swt. menjadikan semua pribadi yang gemar berbagi, peduli terhadap sesama, dan selalu menjaga kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penuh harap, semoga umat Islam dapat menjadikan Idul Adha tahun ini sebagai momen untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya, mempererat tali persaudaraan, dan menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita.
*
Penulis: Prof. Dr. Drs. Yusdani, M.Ag. – Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia
Foto: Diauddin Rahman
*Ringkasan Khutbah yang disampaikan pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah di Lapangan Kampus Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jalan Padjajaran Condong Catur Yogyakarta Rabu, 27 Mei 2026
