Inovasi Pendidikan Islam di Era Digital Jadi Sorotan Webinar Internasional STAI Yogyakarta

Gunungkidul, Swarnaberita.com – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Webinar Internasional pada Sabtu (14/03) secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini mengangkat tema “Innovation and Transformation of Islamic Studies in the Digital Era for Sustainable and Moderate Society” yang diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Webinar internasional ini menghadirkan narasumber dari Indonesia dan Malaysia yang memiliki kompetensi dalam bidang pendidikan Islam dan transformasi digital. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan akademik serta memperkuat diskursus mengenai pengembangan studi Islam yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital sekaligus tetap berlandaskan pada nilai-nilai moderasi Islam.

Acara diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan paparan Keynote Speaker oleh Khusnul Khotimah, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam STAI Yogyakarta. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang moderat dan berkelanjutan. Transformasi digital dalam pendidikan Islam harus diarahkan tidak hanya pada peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga pada penguatan karakter dan nilai-nilai keislaman yang inklusif.

Selanjutnya, Speaker pertama Elmie Nizam bin Mohd Safian, Guru Besar dari SRA JAIM Ujong Pasir, Melaka, Malaysia, memaparkan materi mengenai transformasi pendidikan Islam di Malaysia dalam menghadapi era digital. Ia menjelaskan bahwa Malaysia memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pendidikan Islam, mulai dari sistem pondok tradisional hingga institusi pendidikan modern yang terintegrasi dengan teknologi.

Menurutnya, perkembangan Revolusi Industri 4.0 menuntut lembaga pendidikan Islam untuk meningkatkan kompetensi digital siswa dan guru. Pemerintah Malaysia bahkan telah meluncurkan berbagai kebijakan nasional untuk memperkuat keterampilan digital di sekolah agama, termasuk integrasi teknologi informasi dalam kurikulum pendidikan Islam. Program tersebut menargetkan ratusan ribu siswa sekolah agama agar mampu menguasai teknologi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pendidikan mereka.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan organisasi masyarakat dalam mendorong transformasi digital pendidikan Islam. Integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan, analisis data, dan komputasi awan diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran serta mempersiapkan generasi Muslim yang kompetitif secara global namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang moderat.

Sementara itu, Speaker kedua Dr. Mustolikh Khabibul Umam, S.Pd.I., M.Pd.I, selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STAI Yogyakarta, memaparkan materi bertajuk Pendidikan Islam di Era Digital untuk Masyarakat Inklusif di Indonesia. Dalam presentasinya, ia menegaskan bahwa pendidikan Islam di Indonesia saat ini tengah menghadapi transformasi besar yang dipicu oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Menurutnya, digitalisasi telah mengubah paradigma pembelajaran agama, sehingga lembaga pendidikan Islam perlu melakukan rekonstruksi metode pembelajaran agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi digital. Namun demikian, transformasi tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan, seperti kesenjangan akses teknologi antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta munculnya risiko penyebaran informasi keagamaan yang tidak valid di ruang digital.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan literasi digital dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dengan kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi secara daring, serta memproduksi konten yang bertanggung jawab. Konsep ‘’digital akhlak’’ juga menjadi salah satu pendekatan penting dalam membangun etika bermedia bagi generasi Muslim di ruang siber.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa digitalisasi pendidikan Islam membuka berbagai peluang strategis bagi Indonesia, terutama dalam memperluas akses pendidikan, meningkatkan efisiensi pengelolaan lembaga pendidikan, serta memperkuat integrasi nilai-nilai spiritual Islam dalam proses pembelajaran berbasis teknologi. Dengan jumlah populasi Muslim yang besar serta meningkatnya penetrasi internet, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem pendidikan Islam digital yang inklusif dan berkelanjutan.

Kegiatan webinar ini dipandu oleh Dadun Muhammad Dirzan sebagai moderator yang mengarahkan jalannya diskusi secara interaktif. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi secara langsung dengan para narasumber mengenai berbagai isu strategis dalam pengembangan pendidikan Islam di era digital.

Melalui kegiatan ini, STAI Yogyakarta berharap dapat memperkuat jaringan akademik internasional serta mendorong kolaborasi lintas negara dalam pengembangan studi Islam yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Webinar internasional ini juga menjadi bagian dari komitmen STAI Yogyakarta dalam mendukung pengembangan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang moderat, inklusif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi dan refleksi bersama mengenai masa depan pendidikan Islam di era digital. Para narasumber sepakat bahwa inovasi teknologi harus dimanfaatkan secara bijaksana untuk memperkuat nilai-nilai keislaman serta membentuk generasi Muslim yang tidak hanya unggul secara intelektual dan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia. [MKU]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *