Yuni, Mahasiswi Semester 5 STAI Yogyakarta Bangun Usaha Matcha Bar dari Hasil Tabungan Sendiri

Gunungkidul, Swarnaberita.com – Dari balik kesederhanaan pesantren, semangat besar untuk mandiri bisa tumbuh dengan luar biasa. Begitulah kisah Yuni Putri Arum Sari, mahasiswi semester 5 Program Studi Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yogyakarta, yang membuktikan bahwa santri bukan hanya piawai mengaji dan menuntut ilmu, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha muda yang kreatif dan berdaya saing. Santriwati Panti Asuhan Pesantren Ar Rafiu, Tegalrejo, Gari, Wonosari ini berhasil memulai usaha minuman kekinian dari nol, bermodal tekad kuat dan hasil tabungan pribadi.

Meski memiliki jadwal kuliah hanya setiap Sabtu dan Minggu, Yuni tidak menyia-nyiakan hari-hari lainnya. Terinspirasi dari mata kuliah Kewirausahaan Santri, ia mulai menumbuhkan semangat berbisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mengandung nilai kemandirian, inovasi, dan kebermanfaatan.

“Dari mata kuliah itu saya sadar, wirausaha bukan hanya soal uang, tapi soal nilai, inovasi, dan manfaat untuk sesama,” ujar Yuni dengan penuh semangat.

Berawal dari kecintaannya pada minuman segar, Yuni memilih membuka usaha minuman berbasis matcha. Setelah melakukan riset dan perbandingan, ia memutuskan bergabung dalam kemitraan Matcha Bar yang berpusat di Surakarta, Jawa Tengah. Menurutnya, kemitraan ini menjadi langkah cerdas untuk belajar dari sistem bisnis yang sudah mapan sambil tetap menanamkan karakter dan cita rasa khas sendiri.

Yang membanggakan, seluruh modal usaha sebesar Rp6,5 juta berasal dari hasil tabungan pribadinya. Uang tersebut digunakan untuk membeli perlengkapan, bahan baku, dan menyewa stand di Besole, Wonosari, dengan biaya sewa sekitar Rp180.000 per bulan. Lokasi yang strategis di pinggir jalan utama membuat produknya mudah dijangkau pelanggan.

“Rasanya luar biasa bisa memulai dari nol dengan hasil tabungan sendiri. Ini bukan cuma tentang jualan, tapi juga tentang membangun mimpi,” ujarnya dengan mata berbinar.

Kini, Matcha Bar Wonosari yang ia kelola mulai dikenal masyarakat, terutama kalangan muda pecinta minuman kekinian. Selain rasa matcha yang lembut dan menyegarkan, usaha Yuni juga mencerminkan etos kemandirian santri dan nilai-nilai ekonomi syariah yang ia pelajari di bangku kuliah.

Ke depan, Yuni berharap Matcha Bar Wonosari dapat berkembang dan membuka lapangan kerja bagi santri-santri lainnya.

“Insyaallah, saya ingin usaha ini bukan cuma untuk saya sendiri, tapi bisa jadi jalan rezeki dan inspirasi bagi banyak orang,” pungkasnya.

Perjalanan Yuni menjadi bukti bahwa santri masa kini tidak hanya berkhidmat pada ilmu, tetapi juga berperan aktif dalam membangun ekonomi umat. Dengan keberanian untuk memulai dan keikhlasan dalam berproses, ia menunjukkan bahwa setiap mimpi bisa tumbuh di mana saja — bahkan dari kamar kecil di pesantren yang sederhana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *