Workshop Academic Writing and Global Engagement Bekali Mahasiswa STAI Yogyakarta Skill, Attitude, dan Kemampuan Menulis
Bantul, Swarnaberita.com – Sebanyak 40 mahasiswa dan dosen dari Prodi Ekonomi Syariah dan Prodi Pendidikan Bahasa Arab STAI Yogyakarta mengikuti Workshop Academic Writing and Global Engagement yang digelar pada Minggu (18/01) bertempat di Tan Garden, PP Lintang Songo, Bantul.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa kedua program studi, bertujuan membekali mahasiswa dengan keterampilan akademik, kemampuan menulis, serta sikap dan pola pikir yang diperlukan menghadapi tantangan dunia akademik dan profesional.
Workshop ini menghadirkan narasumber berpengalaman, yaitu Nurhidayatuloh, S.E.I., M.E., Direktur LPS Talenta Wirausaha Nusantara, dan Febrian Wahyu Wibowo, S.E., M.E., penulis produktif sekaligus Pimpinan PENA Muda. Acara dibuka oleh Ibu Navirta Ayu, S.E.I., M.E., KaProdi Ekonomi Syariah sebagai keynote speaker, dan dipandu oleh Ibu Agustini, M.Pd.I, KaProdi Pendidikan Bahasa Arab, selaku moderator.
Ibu Navirta dalam sambutannya menekankan bahwa pengembangan mahasiswa tidak hanya soal akademik, tetapi juga keterampilan praktis, attitude, dan kemampuan menulis. “Mahasiswa harus mampu mengintegrasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah dengan praktik nyata, membangun relasi, dan berani memanfaatkan peluang. Workshop ini diharapkan menjadi wadah untuk mempersiapkan mereka menghadapi tantangan dunia kerja maupun wirausaha,” ujarnya.
KSA: Knowledge, Skill, Attitude
Sesi pertama dibawakan Nurhidayatuloh, S.E.I., M.E, yang membahas konsep KSA: Knowledge (pengetahuan), Skill (keterampilan), dan Attitude (sikap). Ia menekankan bahwa memiliki skill saja tanpa attitude yang baik tidak akan maksimal.
“Skill harus diasah setiap hari hingga menjadi kebiasaan, tetapi tanpa attitude, semua kemampuan itu tidak ada nilainya,” tegas Pak Nur. Menurutnya, attitude yang baik meliputi jujur, amanah, bertanggung jawab, inovatif, terampil, dan memiliki semangat juang tinggi.
Mahasiswa juga didorong memiliki mindset entrepreneur, berani mencoba hal baru, menganalisis peluang, serta berpikir jangka panjang. Mereka didorong untuk menuliskan setiap ide yang muncul, mengumpulkan pengalaman, membangun relasi, dan memanfaatkan setiap kesempatan belajar.
Sebagai contoh nyata, Pak Nur menyoroti warung Madura sebagai ilustrasi usaha yang lebih unggul dibanding swalayan besar. Selain harga terjangkau, warung ini menyediakan kebutuhan rumah tangga lengkap, sehingga konsumen bisa memenuhi berbagai kebutuhan sekaligus.
“Ini contoh bagaimana memahami pasar dan kebutuhan masyarakat menjadi kunci sukses usaha, bukan sekadar skala besar. Mahasiswa harus peka terhadap peluang yang ada di sekitarnya,” jelas Pak Nur.
Kreatif, Analitis, dan Berani Gagal
Pak Nur menekankan bahwa fokus dalam berbisnis bukan hanya pada jumlah penjualan, tetapi pada value yang diberikan. Ia mendorong mahasiswa melakukan observasi pasar, seperti praktik yang dilakukan Ibu Pamela Suwandi, yang selalu mengecek kebutuhan masyarakat di lokasi baru sebelum memulai usaha.
Selain itu, mahasiswa diajak berpikir kreatif, berani gagal, dan menganalisis risiko sebelum mengambil keputusan. Salah satu tolok ukur keberhasilan adalah kemampuan bertahan enam bulan pertama usaha.
Beberapa mahasiswa berbagi pengalaman penerapan KSA. Seorang mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah menceritakan pengalaman memulai usaha makanan ringan secara daring di kampus. Dengan disiplin, attitude yang baik, dan analisis pasar yang matang, usahanya bertahan lebih dari enam bulan.
Sementara mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab menceritakan pengalamannya mengorganisir kelas bahasa tambahan untuk anak-anak di sekitar kampus, memanfaatkan kombinasi knowledge, skill, dan attitude. Kisah-kisah ini menjadi inspirasi bagi peserta lain bahwa KSA dapat diterapkan tidak hanya di bisnis, tetapi juga dalam aktivitas sosial dan akademik.

Menulis Buku: Ilmu Bermanfaat dan Reputasi Akademik
Sesi kedua sebagai pemateri, disampaikan oleh Pak Febrian Wahyu Wibowo, membahas terkait budaya menulis dan penerbitan buku. Ia menekankan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah, dan buku menjadi media efektif untuk menyebarkannya.
“Menulis buku tidak hanya sekadar mencatat pengetahuan, tetapi juga berperan penting dalam memperkuat reputasi akademik, melatih kedisiplinan, serta menyegarkan daya pikir,” ujar Pak Febrian. Ia menjelaskan bahwa terdapat berbagai jenis buku yang dapat ditulis oleh mahasiswa, antara lain buku referensi yang berisi informasi cepat, fakta, data, atau ringkasan; buku ajar yang disusun mengikuti kurikulum untuk mendukung proses belajar-mengajar; buku nonfiksi populer yang membahas topik nyata berdasarkan hasil penelitian atau landasan teori tertentu; serta novel, yakni karya fiksi berbentuk prosa yang disajikan melalui alur cerita, tokoh, dan konflik.
Pak Febrian menjelaskan struktur buku referensi, mulai dari judul, kata pengantar, daftar isi, sinopsis, isi bab, hingga biografi penulis. Judul harus tajam dan relevan, kata pengantar memuat ucapan syukur, tujuan penulisan, latar belakang singkat, harapan penulis, dan manfaat buku. Sinopsis berfungsi sebagai “jendela” yang menarik minat pembaca.
Ia juga memberikan tips menulis buku secara step by step: menentukan topik, menyusun outline, menulis draf, revisi, menyusun kata pengantar, hingga menyiapkan buku siap publikasi. Menulis skripsi sebaiknya dilakukan di tempat kondusif seperti rumah agar fokus tetap terjaga.
Kuis Interaktif: Menguji Pengetahuan dan Kreativitas
Untuk meningkatkan pemahaman peserta, Pak Febrian mengadakan kuis interaktif. Beberapa pertanyaan di antaranya:
- “Apa perbedaan buku referensi dan buku ajar?”
- “Sebutkan unsur penting dalam kata pengantar!”
- “Bagaimana cara membuat sinopsis yang menarik?”
Mahasiswa menjawab dengan antusias, berdiskusi, dan saling melengkapi jawaban. Kuis ini tidak hanya menguji pemahaman, tetapi juga mendorong mereka berpikir kritis dan kreatif dalam menulis.
Suasana Workshop: Hidup dan Inspiratif
Workshop berlangsung hidup dan penuh interaksi. Peserta aktif bertanya, berdiskusi, dan mencatat poin penting. Narasumber menjawab rinci, disertai contoh nyata pengalaman mereka, sehingga materi terasa aplikatif.
Peserta belajar strategi usaha cerdas melalui contoh warung Madura, memahami pasar, menyediakan kebutuhan tepat, dan menciptakan nilai lebih dibanding usaha besar lainnya. Diskusi ini mendorong mahasiswa berpikir kritis dan kreatif dalam merancang usaha mereka sendiri.
Refleksi Mahasiswa dan Dampak Workshop
Mahasiswa mengaku mendapatkan wawasan baru dari workshop ini. Seorang peserta mengatakan, “Saya jadi lebih memahami pentingnya attitude selain skill dan knowledge. Saya juga mendapat panduan menulis buku yang jelas, mulai dari judul hingga sinopsis dan biografi.”
Peserta lainnya menambahkan, “Kuis interaktif membuat saya lebih serius memikirkan setiap langkah dalam menulis buku. Selain itu, materi Pak Nur memberi inspirasi untuk mulai usaha kecil dengan strategi tepat dan memahami kebutuhan pasar.”
Dengan bekal workshop ini, mahasiswa diharapkan menjadi individu unggul, produktif, dan mampu berkontribusi melalui karya akademik maupun buku yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Penutup
Workshop Academic Writing and Global Engagement bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi menjadi wadah pengembangan diri mahasiswa secara menyeluruh. Materi yang disampaikan oleh Pak Nur Hidayatuloh dan Bapak Febrian Wahyu Wibowo, serta fasilitasi oleh Ibu Navirta Ayu dan Ibu Agustini, memberikan panduan praktis dan inspirasi nyata bagi mahasiswa untuk mengasah skill, membangun attitude, dan menulis buku yang bermanfaat. Selain itu, para peserta juga mendapatkan buku secara gratis dari Narasumber Pak Febrian Wahyu Wibowo
Kegiatan ini membuktikan bahwa mahasiswa bisa menjadi generasi yang kreatif, adaptif, dan mampu berkontribusi secara nyata, baik di dunia akademik maupun dunia usaha, melalui kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang matang.
*
Penulis: Yuni Putri Arum Sari (Mahasiswi Prodi Studi Ekonomi Syariah STAI Yogyakarta)
