Sumpah Pemuda dan Pesan Islam tentang Persatuan Umat
Setiap kali 28 Oktober datang, bangsa Indonesia kembali mengenang satu peristiwa monumental dalam perjalanan sejarah: Sumpah Pemuda 1928. Saat itu, para pemuda dari berbagai suku, bahasa, dan daerah mengikrarkan tiga hal besar yang menjadi tonggak lahirnya Indonesia modern — satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.
Namun Sumpah Pemuda bukan sekadar kisah heroik masa lalu. Ia adalah pelajaran moral dan spiritual yang tetap relevan bagi umat Islam hari ini: tentang pentingnya ukhuwah (persaudaraan), ittihad (persatuan), dan pengorbanan.
Islam dan Pesan Abadi tentang Persatuan
Al-Qur’an menegaskan: “Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān: 103)
Ayat ini menyeru agar umat Islam bersatu dalam iman dan tujuan. Persatuan dalam Islam tidak dibangun di atas kesamaan asal-usul, melainkan atas dasar iman dan cinta kepada Allah.
Rasulullah SAW menegaskan, “Orang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang satu menguatkan yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika para pemuda Indonesia di tahun 1928 mampu bersatu karena cinta tanah air, maka umat Islam seharusnya lebih kuat bersatu karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Persaudaraan iman mestinya menjadi energi pemersatu di tengah perbedaan suku, mazhab, bahkan pandangan politik.
Pemuda: Pilar Kekuatan Umat dan Bangsa
Dalam Islam, pemuda bukan sekadar kelompok usia, tetapi pilar kekuatan umat. Rasulullah SAW bersabda: “Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya… di antaranya: pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pemuda sejati bukan hanya yang kuat secara fisik, tetapi juga kuat imannya, bersih hatinya, dan tulus perjuangannya.
Dalam konteks kekinian, semangat Sumpah Pemuda hendaknya membangkitkan kembali gairah generasi muda Islam untuk melawan kemalasan, keterpecahan, dan ketergantungan pada hal-hal instan. Sudah saatnya pemuda Muslim tampil sebagai pelopor kebangkitan iman, ilmu, dan akhlak.
Persatuan Umat, Kekuatan Bangsa
Bangsa yang besar tidak hanya diukur dari luas wilayah atau jumlah penduduk, tetapi dari kokohnya persatuan dan kemuliaan akhlak warganya. Rasulullah SAW mengingatkan: “Jangan saling iri, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Muslim)
Persatuan bukanlah sekadar slogan, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual. Ia menuntut keikhlasan, empati, dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan diri.
Sumpah Pemuda, bila dimaknai secara mendalam, sejatinya adalah sumpah ukhuwah — janji untuk hidup bersama dalam keberagaman, saling menghormati, dan saling menguatkan.
Menjadikan Semangat Persaudaraan sebagai Ibadah
Bangsa yang bersatu akan kuat; umat yang bersatu akan mulia. Sebaliknya, perpecahan adalah awal kehancuran. Karena itu, semangat Sumpah Pemuda harus menjadi bagian dari iman — bukan hanya peringatan tahunan, tetapi komitmen harian.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, maka sungguh Allah mencintainya.”
(HR. Ahmad)
Inilah pesan penting yang perlu dihidupkan kembali di tengah masyarakat: bahwa setiap langkah, pekerjaan, dan perjuangan kita dapat bernilai ibadah jika dilakukan demi agama, umat, dan bangsa.
Sebagaimana para pemuda 1928 menegakkan panji persatuan, maka pemuda dan umat Islam hari ini pun dipanggil untuk melanjutkan estafet itu — menegakkan persaudaraan, memperkuat persatuan, dan memuliakan perbedaan sebagai rahmat.
Karena sesungguhnya, Sumpah Pemuda bukan hanya sejarah — ia adalah cermin keimanan kita kepada Allah dan cinta kita kepada Indonesia.
Penulis: H. Ahmad Yurzan Zaldi, Lc.
(Pengajar di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan)

Barokallahu ustadz