Sekelumit Sejarah Buku Iqro’
Saya, Mangun Budiyanto, bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan dakwah KH As’ad Humam, sebuah perjalanan panjang yang kelak melahirkan metode pembelajaran Al-Qur’an yang dikenal luas dengan nama Iqro’. Perjumpaan saya dengan beliau dimulai pada tahun 1977, ketika saya masih menjadi mahasiswa tingkat dua di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Saat itu, saya tinggal sebagai marbot di Musholla Nur-Sidik, Kampung Sidikan, Kotagede. Belakangan saya baru mengetahui bahwa musholla tersebut awalnya adalah rumah penduduk yang dibeli oleh KH As’ad Humam bersama rekan-rekannya, lalu dialihfungsikan menjadi tempat ibadah. Dari ruang kecil itulah, benih-benih gerakan dakwah yang besar mulai tumbuh.
Di sela-sela kesibukan kuliah, saya diberi kesempatan oleh KH As’ad Humam untuk bekerja di “Padi Mas”, sebuah usaha kerajinan imitasi milik beliau. Sistem kerjanya berbasis jam, bukan harian. Setiap Kamis sore, upah mingguan dibayarkan. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan hidup mahasiswa kala itu.
Pada tahun 1978, saya mendapat amanah tambahan: mengajar mengaji anak-anak di masjid-masjid sekitar Kotagede, yang terhimpun dalam GPAKT (Gabungan Pengajian Anak-Anak Kotagede Tenggara). Kegiatan ini dilakukan setiap malam. Sejak saat itu, peran saya berlapis, mahasiswa, karyawan Padi Mas, sekaligus guru ngaji, dengan “sekadar” honor bulanan dari Pak As’ad. Honor yang sederhana, tetapi sarat makna dan keberkahan.
Ternyata, saya bukan satu-satunya anak muda yang diberi amanah serupa. Ada banyak pemuda lain yang direkrut KH As’ad Humam untuk menjadi guru ngaji, dan beliau sendiri turut terjun langsung mengajar. Pada tahun 1983, para guru ngaji muda ini kemudian dihimpun dalam wadah Team Tadarus AMM (Angkatan Muda Masjid dan Musholla). Jangkauan dakwahnya meluas, mencakup Kotagede dan sekitarnya.
Dalam tim ini bergabung berbagai aktivis dakwah, di antaranya Pak Yusa’, Pak Ridwan, Pak Jazir, Pak Musthofa Kamal, Pak Abdul Kholik, Pak Joko Prayitno, dan banyak lainnya. Pada tahun 1990, tercatat ada 17 anggota inti yang seluruh aktivitasnya disokong penuh oleh KH As’ad Humam. Setiap malam Kamis, kami berkumpul di rumah beliau, mengaji bersama, berdiskusi bebas, sekaligus melaporkan dan merencanakan kegiatan dakwah.
Dari obrolan-obrolan itulah saya mengetahui kegelisahan mendalam yang sejak lama dipendam KH As’ad Humam. Beliau prihatin melihat lamanya waktu yang dibutuhkan anak-anak untuk bisa lancar membaca Al-Qur’an. Rata-rata, mereka baru mampu membaca dengan baik setelah belajar selama tiga hingga lima tahun. Pertanyaan sederhana tetapi mendasar terus menggelayut di benak beliau: tidakkah ada cara yang lebih cepat, efektif, dan efisien?
Ternyata, jauh sebelum itu sejak sekitar tahun 1955, KH As’ad Humam telah mulai bereksperimen secara diam-diam dengan berbagai metode pembelajaran membaca Al-Qur’an. Metode Baghdadiyah, Qira’ati, dan lainnya dipelajari, diamati, dan dicoba. Tidak hanya metodenya, tetapi juga cara penyampaiannya terus beliau olah dengan penuh ketekunan.
Kehadiran Team Tadarus AMM menjadi energi tambahan. Dari 17 anggota inti, masing-masing memiliki latar belakang keahlian yang saling melengkapi, ada yang memahami teori pendidikan, manajemen, komunikasi, hingga dakwah. Sejak tahun 1985, KH As’ad Humam mulai menulis secara intensif. Pohon jambu di samping rumah beliau yang kini sudah ditebang menjadi saksi bisu kesabaran dan ketekunannya merangkai kata demi kata, menyusun langkah-langkah sistematis pembelajaran Al-Qur’an.
Draf-draf tersebut kemudian didiskusikan bersama tim dan diuji coba langsung kepada anak-anak di Musholla Baiturrahman, yang menyatu dengan rumah beliau. Setiap hasil uji coba dievaluasi, diperbaiki, lalu diuji kembali. Proses ini berlangsung berulang-ulang, dengan kesabaran dan keikhlasan sebagai fondasinya. Dari lembaran-lembaran penuh coretan itulah akhirnya tersusun konsep buku kecil enam jilid yang kelak diberi nama Iqro’.
Nama Iqro’ sendiri disepakati sekitar tahun 1988, setelah melalui diskusi panjang di internal Team Tadarus AMM. Sebelumnya, sempat muncul beberapa alternatif nama. Kebetulan, pada saat yang sama, tim juga menerbitkan sebuah buletin dakwah bernama Iqro’, dengan Pak Jazir sebagai pimpinan redaksi. Nama itulah yang akhirnya melekat dan dikenal luas hingga kini.
Meski masih terus mengalami penyempurnaan, penyusunan buku Iqro’ secara umum rampung pada pertengahan tahun 1989. Penemuan metode ini, yang kemudian diiringi dengan gerakan Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TK Al-Qur’an), memicu lahirnya gairah baru dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di seluruh penjuru tanah air.
Para anggota Team Tadarus AMM pun disibukkan dengan permintaan pelatihan metode Iqro’ ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara. Sebuah amal jariyah yang dampaknya terus mengalir hingga hari ini.
Semoga seluruh ikhtiar ini menjadi ladang pahala yang tak terputus bagi mereka yang terlibat di dalamnya.
Penulis: Mangun Budiyanto (Dosen STAI Yogyakarta)
