Ramadhan adalah Kesempatan, Bukan Jaminan: Seruan KH Muhammad Siddiq untuk Berbenah Diri

Babatsupat, Swarnaberita.com — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam di berbagai daerah mulai melakukan beragam persiapan. Namun, perhatian masyarakat kerap kali lebih terfokus pada kebutuhan fisik dan tradisi tahunan, seperti persiapan bahan makanan, agenda buka bersama, hingga perencanaan mudik.

Melihat fenomena tersebut, Mudir Pondok Pesantren Al-Mubarokah Babatsupat, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, KH. Muhammad Siddiq Asmara, Lc., M.H.I., mengingatkan agar persiapan menyambut Ramadhan tidak berhenti pada aspek lahiriah semata, melainkan juga disertai penguatan kesiapan spiritual dan kepedulian sosial.

Menurutnya, Ramadhan adalah momentum tahunan yang sangat dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Akan tetapi, esensi bulan suci sering kali tereduksi oleh rutinitas seremonial tanpa disertai transformasi diri yang nyata.

“Ramadhan seharusnya dipahami sebagai bulan perubahan dan perbaikan diri. Bukan hanya perubahan jadwal makan dan tidur, tetapi perubahan kualitas iman dan akhlak,” ujarnya.

Refleksi Diri Sejak Bulan Sya’ban

KH Siddiq mendorong masyarakat untuk mulai mempersiapkan diri sejak bulan Sya’ban. Ia menilai, persiapan spiritual yang dilakukan lebih awal akan membantu umat memasuki Ramadhan dalam kondisi hati yang lebih siap.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain memperbaiki kualitas shalat, meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, serta menyelesaikan persoalan pribadi seperti saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Selain itu, ia juga mengajak umat Islam untuk menyusun target ibadah selama Ramadhan. Misalnya, menetapkan target khatam Al-Qur’an, menjaga konsistensi shalat berjamaah, meningkatkan kualitas doa dan dzikir, serta memperbaiki manajemen waktu agar lebih produktif.

“Ramadhan yang direncanakan dengan baik akan jauh lebih bermakna dibandingkan Ramadhan yang dijalani tanpa arah dan target yang jelas,” tambahnya.

Ramadhan sebagai Bulan Solidaritas

Tidak hanya menekankan dimensi spiritual, KH Siddiq juga menggarisbawahi pentingnya aspek sosial dalam menyambut Ramadhan. Ia menyebut bulan suci sebagai momentum terbaik untuk memperluas dampak kebaikan kepada masyarakat luas.

Beragam kegiatan sosial mulai dipersiapkan, mulai dari gerakan berbagi makanan berbuka puasa, dukungan bagi pesantren, hingga penggalangan donasi untuk masyarakat kurang mampu.

“Ramadhan adalah bulan solidaritas. Kebaikan yang kita lakukan seharusnya tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dirasakan oleh lebih banyak orang,” jelasnya.

Ia menilai, semangat berbagi melalui sedekah, infak, dan wakaf perlu diperkuat agar Ramadhan menjadi bulan yang menghadirkan kebermanfaatan kolektif.

Dakwah Digital dan Literasi Al-Qur’an

Sebagai bagian dari komitmen dakwah, KH Siddiq menyampaikan siap menghadirkan berbagai konten edukatif sepanjang Ramadhan. Konten tersebut meliputi kajian singkat, refleksi harian, serta penguatan literasi Al-Qur’an melalui media digital.

Langkah ini diharapkan mampu membantu masyarakat menjalani Ramadhan dengan pemahaman yang lebih mendalam, sehingga ibadah yang dilakukan tidak sekadar bersifat formalitas, tetapi benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadhan sebagai Titik Balik Kehidupan

Menutup pernyataannya, KH Siddiq mengajak seluruh lapisan masyarakat menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum perbaikan diri secara menyeluruh.

“Ramadhan adalah kesempatan, bukan jaminan. Tidak ada yang tahu apakah kita masih diberi umur untuk bertemu Ramadhan berikutnya. Karena itu, mari kita sambut dengan kesungguhan, persiapan, dan komitmen untuk menebar kebaikan,” pesannya.

Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial, ia optimistis Ramadhan dapat menjadi momentum kolektif untuk membangun masyarakat yang lebih beriman, peduli, serta berdaya dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *