Pemadaman Hingga 9 Kali Sebulan, Warga RT 10 Pringgading Minta PLN Bantul Bertindak
Bantul, Swarnaberita.com – Merespons pemadaman listrik yang kerap terjadi, warga RT 10 Pringgading, Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, mendatangi Kantor PLN Bantul untuk menggelar audiensi pada Senin (27/1). Warga menuntut kejelasan dan solusi atas gangguan listrik yang dinilai semakin meresahkan.
Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan relatif kondusif, meski sempat diwarnai perdebatan ringan. Warga menyampaikan keluhan secara bergiliran, sementara pihak PLN Bantul menerima aspirasi dengan sikap terbuka. Hadir dalam audiensi tersebut Manajer ULP Bantul Ahmad Zaki Mubarok serta Dadung dari bagian pemeliharaan jaringan.
Perwakilan warga, Ahmad Baehaqi, membuka audiensi dengan memperkenalkan warga yang hadir sekaligus menyampaikan dampak serius pemadaman listrik terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Mayoritas warga kami adalah pelaku UMKM. Listrik yang sering mati membuat produksi terganggu. Anak-anak kesulitan belajar, bahkan aktivitas ibadah dan sosial masyarakat ikut terdampak,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Wira Sutirta, pengurus RT 10. Ia menyebut pemadaman listrik di wilayahnya terjadi sangat sering, bahkan bisa mencapai lima hingga sembilan kali dalam sebulan.
“Ini seperti mengulang kenangan masa kecil di desa terpencil di Sumatera. Saya kecewa karena hal seperti ini justru terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta,” ujarnya. Wira juga mempertanyakan tindak lanjut laporan warga yang telah berulang kali disampaikan melalui aplikasi PLN 123, email, maupun layanan pelanggan.
Haryanto, warga lainnya, turut menyampaikan dampak nyata pemadaman listrik terhadap usaha warga. Ia mencontohkan tetangganya yang mengalami gagal produksi donat akibat listrik mendadak padam.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Manajer ULP Bantul Ahmad Zaki Mubarok menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami warga. Ia mengapresiasi inisiatif warga yang memilih menyampaikan aspirasi secara langsung.
Sementara itu, Dadung dari bagian pemeliharaan menjelaskan bahwa gangguan listrik umumnya disebabkan dua faktor, yakni internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kondisi peralatan dan sumber daya manusia, sedangkan faktor eksternal mencakup kondisi alam seperti hujan, angin kencang, dan pepohonan.
“Untuk wilayah Pringgading, gangguan bukan disebabkan faktor internal. Usia jaringan di sini belum lebih dari 20 tahun. Gangguan lebih banyak dipicu faktor eksternal, terutama pepohonan,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat hujan atau angin kencang, potensi konsleting meningkat sehingga sistem pengaman secara otomatis memutus aliran listrik demi mencegah risiko yang lebih besar, termasuk bahaya sengatan listrik.
PLN Bantul mengklaim telah rutin melakukan pemangkasan pohon di sejumlah titik rawan. Namun, pertumbuhan dahan baru di lokasi lain menjadi tantangan tersendiri.
Penjelasan tersebut belum sepenuhnya memuaskan warga. Mereka menilai pemadaman tidak terjadi merata di seluruh wilayah Pringgading dan mempertanyakan mengapa pohon yang menyentuh jaringan listrik tidak segera terdeteksi.
Dalam audiensi itu, warga meminta PLN Bantul menunjukkan titik-titik rawan gangguan. Mereka juga mengusulkan pemberian tanda atau stiker di lokasi berisiko agar pemangkasan dapat dilakukan bersama jika PLN mengalami keterbatasan. Namun, pihak PLN menyatakan belum dapat menunjukkan titik tersebut karena masih dalam tahap pengecekan lapangan.
Meski sempat terjadi perbedaan pandangan, kedua pihak sepakat mengakhiri audiensi dengan fokus pada solusi. PLN Bantul berjanji akan segera melakukan pemangkasan pohon, bahkan membuka peluang gotong royong bersama warga dalam dua minggu ke depan yang direncanakan pada hari Minggu.
“Kami hanya ingin satu hal: listrik tidak sering padam lagi. Karena kami tidak punya pilihan penyedia listrik lain,” ujar Syahri Kamis menutup pertemuan.
