Mahasiswa STAI Yogyakarta dibekali Kreativitas dan Kemandirian oleh Pimpinan Pesantren Lintang Songo

Yogyakarta, Swarnaberita.com – Mahasiswa STAI Yogyakarta mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda melalui Workshop Santripreneurship yang digelar oleh HMPS Ekonomi Syariah dan HMPS Pendidikan Bahasa Arab. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 18 Januari 2026, bertempat di Tan Garden Pesantren Lintang Songo, Kabupaten Bantul. Workshop ini dirancang untuk mendorong mahasiswa tidak hanya memahami konsep kewirausahaan, tetapi juga mampu membaca potensi lingkungan sekitar sebagai sumber penghidupan yang berkelanjutan, dengan tetap berakar pada nilai-nilai pesantren.

Dalam pemaparannya, Drs. KH. Heri Kuswanto, MSI. selaku Pimpinan Pesantren Lintang Songo sekaligus dosen STAI Yogyakarta menyampaikan pesan reflektif kepada peserta. Ia mengingatkan bahwa capaian akademik bukanlah garis akhir perjalanan mahasiswa. Justru setelah lulus, mahasiswa dituntut memiliki kepekaan melihat peluang hidup dari sumber daya yang sering dianggap sepele, seperti lahan kosong, air, maupun hewan ternak, sebagai fondasi kemandirian ekonomi.

Salah satu ilustrasi yang disampaikan Kyai Heri adalah tradisi khas di Pesantren Lintang Songo. Setiap kelahiran anak hewan, baik unggas maupun ternak besar, selalu disambut dengan ucapan “Sholih-ah” sebagai doa kebaikan. Tradisi ini, meski terdengar ringan dan mengundang senyum, menjadi sarana internalisasi nilai spiritual dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan media pembelajaran karakter. Melalui perawatan hewan sejak lahir, santri diajak menumbuhkan rasa empati, kesabaran, serta tanggung jawab. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting ketika mereka kelak mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Mahasiswa STAI Yogyakarta Peserta Workshop (Dokumen Khusus)

Pendekatan santripreneurship di Pesantren Lintang Songo sendiri dikembangkan melalui pemanfaatan alam sebagai basis usaha. Kyai Heri memaparkan bahwa kegiatan kewirausahaan santri difokuskan pada tiga sektor utama, yakni pertanian, perikanan, dan peternakan, yang seluruhnya disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar pesantren.

Pada sektor pertanian, santri dibiasakan mengelola tanaman sayur organik, bunga, dan tanaman hias. Proses ini tidak hanya mengajarkan teknik budidaya, tetapi juga perhitungan biaya produksi dan cara memasarkan hasil panen. Kreativitas santri tampak dari pemanfaatan bahan sederhana, seperti botol bekas, yang diolah menjadi mini greenhouse ramah lingkungan.

Sementara itu, pada bidang perikanan, santri dikenalkan pada pengelolaan kolam ikan berbasis teknologi sederhana. Sistem pemantauan oksigen, suhu air, dan pakan dirancang agar efisien, termasuk dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti air wudu. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa teknologi dapat berjalan selaras dengan kearifan lokal.

Di sektor peternakan, santri dilibatkan langsung dalam proses pembiakan unggas, kelinci, hingga sapi. Kegiatan ini menuntut konsistensi dan kedisiplinan tinggi, sekaligus menjadi ruang praktik nilai tanggung jawab. Tradisi doa “Sholih-ah” tetap menyertai setiap kelahiran hewan sebagai simbol keseimbangan antara ikhtiar dan spiritualitas.

Peserta workshop sedang memegang hasil panen di kebun Pesantren Lingtang Songo

Dengan gaya santai namun sarat makna, Kyai Heri menyampaikan bahwa kemampuan menghasilkan nilai ekonomi dari hal-hal sederhana merupakan indikator penting kemandirian. Menurutnya, jika mahasiswa mampu mengelola ternak dan hasil kebun dengan baik, maka tantangan hidup lainnya bukan sesuatu yang mustahil untuk dihadapi.

Workshop ini juga menekankan tiga pilar utama santripreneurship, yaitu kreatif, inovatif, dan mandiri. Kreatif berarti berani melihat peluang dari keterbatasan, inovatif diwujudkan melalui pengembangan ide menjadi produk bernilai guna, sedangkan mandiri tercermin dari kemampuan mengelola hasil usaha secara bertanggung jawab tanpa bergantung pada pihak lain.

Prinsip-prinsip tersebut langsung diuji melalui praktik lapangan. Mahasiswa terlibat dalam berbagai aktivitas, mulai dari pengelolaan mini hidroponik sayuran daun, pembuatan pakan ikan berbahan organik, hingga perawatan ternak yang siap dipasarkan. Seluruh proses dirancang agar mahasiswa merasakan langsung dinamika usaha, termasuk tantangan dan risiko yang menyertainya.

Menurut Kyai Heri, pengalaman merawat hewan dan tanaman merupakan latihan mental yang penting. Ia menilai bahwa ketelatenan dalam merawat makhluk hidup akan membentuk kesiapan mahasiswa dalam menjaga dan mengembangkan ide bisnisnya sendiri. Pernyataan tersebut disampaikan dengan nada bersahabat dan disambut antusias oleh para peserta.

Peserta Workshop foto bersama dengan Drs. KH. Heri Kuswanto, MSI. usai acara (Dokumen Khusus)

Melalui workshop ini, STAI Yogyakarta menunjukkan bahwa pendidikan pesantren memiliki spektrum yang luas. Tidak hanya membangun kedalaman spiritual, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kecakapan hidup yang relevan dengan tantangan zaman. Kemandirian, dalam konteks ini, dipahami sebagai hasil dari proses panjang yang dimulai dari kesadaran mengelola potensi sekitar.

Menutup rangkaian kegiatan, Drs. KH. Heri Kuswanto, MSI berharap Workshop Santripreneurship dapat menjadi embrio gerakan kewirausahaan berbasis pesantren di STAI Yogyakarta. Ia menekankan bahwa mahasiswa ideal adalah mereka yang mampu memadukan kecerdasan akademik dengan kreativitas, inovasi, dan kemandirian nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

*

Penulis: Yuni Putri Arum Sari (Mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah STAI Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *