Lebih dari Sekadar Mahasiswa: Pelajaran Hidup dari HMI
Menjadi mahasiswa hari ini tidak lagi cukup. Dunia yang bergerak cepat, kompetitif, dan penuh ketidakpastian menuntut setiap anak muda memiliki keterampilan yang melampaui kemampuan akademik. Indeks prestasi boleh tinggi, tetapi tanpa kecakapan emosional, manajerial, dan kemampuan beradaptasi, seorang lulusan akan mudah kalah oleh realitas dunia kerja dan kehidupan sosial yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, status sebagai mahasiswa, apalagi sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), adalah anugerah yang tidak sepatutnya disia-siakan. Di Indonesia, kader HMI jumlahnya kurang dari satu persen dari seluruh populasi mahasiswa. Artinya, kesempatan itu bukan hanya prestisius, tetapi juga suatu tanggung jawab moral untuk berkembang lebih jauh, melampaui batasan ruang kelas.
Belajar dari Dinamika Kehidupan Pasca Kampus
Dunia pasca kampus adalah arena yang keras: cepat berubah, tidak selalu adil, dan menuntut keberanian untuk mengambil keputusan penting dalam waktu singkat. Mereka yang mampu membaca perubahan, menyesuaikan diri, dan bertindak cepat adalah mereka yang akan bertahan dan tumbuh.
Tantangan semacam ini tidak bisa dipelajari hanya melalui buku teks. Ia ditempa melalui pengalaman nyata, mengelola konflik, mengatur waktu, memimpin tim, menghadapi tekanan, hingga bernegosiasi dengan berbagai karakter manusia. Semua ini adalah pelajaran yang hadir secara organik melalui pengalaman berorganisasi. HMI menjadi salah satu ruang pembelajaran paling efektif untuk itu.
Di organisasi ini, seseorang belajar berpikir strategis, mengambil mandat, bekerja dalam struktur, dan bertanggung jawab atas sebuah proses. Yang lebih penting: belajar jatuh, bangkit, mengoreksi kesalahan, dan mengasah kematangan diri. Itulah universitas kehidupan yang sering tidak disebut dalam brosur kampus mana pun.
Berpikir Kebangsaan dan Keislaman Secara Inklusif
HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa; ia adalah ruang diskusi peradaban. Di dalamnya, kader diajak berpikir jauh ke depan tentang arah bangsa dan umat. Relasi antara keislaman dan kebangsaan dijadikan bahan renungan sehari-hari, bukan slogan kosong.
HMI mendorong anggotanya berpikir terbuka. Dalam beragama, kader dilatih untuk melakukan dialog kritis: bagaimana memahami ajaran Islam dengan akal sehat, bagaimana menghadirkan agama dalam realitas sosial, dan bagaimana nilai-nilai Islam memberikan solusi konkret atas persoalan masyarakat. Islam tidak hanya jadi identitas, tetapi menjadi inspirasi gerakan dan perubahan.
Inklusivitas dan rasionalitas adalah dua pilar penting yang terus dijaga. Kader didorong untuk melihat keragaman bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai realitas sosial yang perlu dikelola dengan bijaksana. Sikap inilah yang memungkinkan seorang kader HMI nantinya berperan dalam berbagai medan pengabdian: birokrasi, lembaga negara, perusahaan, kampus, hingga ranah sosial kemasyarakatan.
Menjadi Mahasiswa yang Bermanfaat
Setiap mahasiswa memiliki kesempatan menjadi unggul, tetapi tidak semua mengambil langkah untuk mencapainya. Organisasi seperti HMI memberikan ruang, proses, dan pengalaman yang mempercepat kematangan diri. Karena itu, menjadi mahasiswa saja tidak cukup; tetapi menjadi mahasiswa yang belajar, berproses, dan terus mengasah diri adalah sebuah keharusan.
Pada akhirnya, keunggulan seorang kader tidak hanya diukur dari seberapa tinggi ia berfikir, tetapi juga seberapa besar manfaat yang bisa ia tebarkan kepada masyarakat. Ilmu, pengalaman, dan karakter harus berpadu untuk menjawab kebutuhan zaman: zaman yang menuntut kecerdasan, ketangguhan, dan integritas.
Penulis: Sura’ie (Pengurus Pusat Studi Siyasah dan Pemberdayaan Masyarakat (PS2PM) – Komisioner KPU Kabupaten Sleman)
Keterangan: Sebagian materi dalam tulisan ini telah disampaikan pada acara Latihan Kader (LK I) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Rabu 3 Desember 2025.
