Keteladanan Idham Chalid dan Makna Jabatan sebagai Amanah

Swarnaberita.com – Di tengah sorotan publik terhadap gaya hidup pejabat yang kerap bergelimang fasilitas, kisah hidup Idham Chalid terasa seperti oase yang menyejukkan. Tak banyak yang tahu atau mungkin mulai dilupakan, bahwa Indonesia pernah memiliki Ketua DPR yang memilih hidup dalam kesederhanaan, bahkan ketika kekuasaan berada di genggamannya.

Idham Chalid bukan sosok biasa dalam sejarah republik ini. Ia pernah menduduki berbagai jabatan strategis negara: Wakil Perdana Menteri Republik Indonesia, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Ketua DPR, hingga Ketua MPR. Di lingkungan keagamaan, namanya semakin lekat sebagai Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama terlama, memimpin NU selama hampir tiga dekade, dari 1956 hingga 1984. Namun, di balik deretan jabatan prestisius itu, Idham Chalid justru dikenal dengan prinsip hidup yang sangat bersahaja.

Dalam keluarganya, ia menerapkan disiplin moral yang ketat. Fasilitas negara tidak boleh dinikmati oleh istri dan anak-anaknya. Tidak ada mobil dinas untuk kepentingan pribadi keluarga. Tidak ada tunjangan berlebih yang dimanfaatkan untuk memperkaya diri. Bagi Idham Chalid, jabatan bukanlah privilese, melainkan amanah yang harus dijaga dengan integritas.

Ketika masa pengabdiannya di pemerintahan berakhir, Idham Chalid tidak berubah menjadi figur elite yang hidup nyaman di balik pagar kekuasaan. Ia justru memilih jalan sunyi: memimpin dan membina pesantren di Cipete Selatan, mengelola rumah yatim di kawasan Cisarua, serta terus mengajar murid-muridnya secara langsung di rumah. Hidupnya selepas politik tetap sederhana, namun sarat makna pengabdian.

Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010 dalam usia 88 tahun. Namun nilai-nilai hidupnya tidak ikut terkubur bersama jasadnya. Negara kemudian mengabadikan keteladanannya dengan menempatkan wajah Idham Chalid pada uang kertas pecahan Rp5.000. Sebuah simbol yang sejatinya bukan sekadar penghormatan, tetapi pengingat.

Pengingat bahwa kekuasaan sejati tidak diukur dari kemewahan yang bisa dikumpulkan, melainkan dari kejujuran dalam mengemban amanah. Bahwa jabatan publik semestinya menjadi ruang pengabdian, bukan jalan pintas memperkaya diri dan keluarga. Di tengah krisis keteladanan yang kerap kita keluhkan hari ini, kisah Idham Chalid layak dihadirkan kembali agar kita tak lupa, bahwa integritas pernah benar-benar hidup di pucuk kekuasaan negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *