Kasus Bullying Probolinggo, Alarm Kuat untuk Pembinaan Karakter
Sebuah insiden bullying di salah satu sekolah dasar di Probolinggo, Jawa Timur, kembali memicu keprihatinan masyarakat. Rekaman yang menampilkan tindakan perundungan terhadap seorang siswa oleh teman-temannya menyebar cepat dan mengundang respons luas. Peristiwa tersebut bukan hanya menunjukkan bentuk kekerasan fisik maupun verbal, tetapi juga menggambarkan lemahnya pengendalian diri dan kurangnya empati pada siswa sekolah dasar.
Banyak pemerhati pendidikan menilai bahwa kasus ini menjadi bukti bahwa pembinaan moral di sekolah masih belum berjalan optimal. Perilaku yang muncul tidak hanya bersumber dari lingkungan sosial, tetapi juga dari kurangnya penanaman nilai etis yang seharusnya menjadi dasar bagi anak sejak dini. Kasus ini pun menjadi pembicaraan hangat di berbagai forum akademik, termasuk di Yogyakarta sebagai salah satu kota pusat pendidikan nasional.
Refleksi Akademik: Perlunya Kembali pada Nilai-Nilai Moral Rasulullah
Di kalangan akademisi Program Magister Pendidikan, kasus Probolinggo dipandang sebagai tanda bahwa pendidikan karakter belum terintegrasi dengan baik dalam kehidupan siswa. Mahasiswa Magister Pendidikan, Hayati Azizah, S.Pd, menilai bahwa nilai-nilai moral harus dihidupkan kembali melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan anak.
“Insiden bullying ini menunjukkan bahwa anak-anak masih membutuhkan pegangan moral yang kuat. Hadis Nabi memberikan arahan yang sangat jelas mengenai bagaimana seharusnya kita memperlakukan sesama,” ujar Hayati.
Ia merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
“Seorang Muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menurutnya, jika hadis ini diajarkan dan dipraktikkan secara berulang dalam keseharian anak, tindakan menyakiti, mengejek, maupun merendahkan teman tidak akan terjadi. Hayati menegaskan bahwa nilai-nilai agama tidak boleh hanya diajarkan secara teoritis, tetapi harus dijadikan kebiasaan yang hidup di sekolah.
Hadis sebagai Sumber Etika Sosial Anak di Sekolah
Dosen pengampu mata kuliah Hadis, Dr. Nur Hidayat, M.Ag, menekankan bahwa pembinaan karakter harus bersandar pada nilai-nilai akhlak Rasulullah yang bersifat universal dan aplikatif. Ia menjelaskan bahwa hadis-hadis Nabi memuat pedoman perilaku yang sangat relevan untuk membentuk karakter anak, terutama terkait pengendalian diri dan empati.
“Hadis Rasulullah SAW memberikan arahan yang tegas. Nabi mengingatkan kita untuk tidak menyakiti sesama, baik melalui ucapan maupun tindakan. Di sinilah peran guru untuk membawa nilai ini ke dalam kehidupan sekolah,” ungkapnya.
Beliau menambahkan bahwa hadis:
“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan.”
adalah dasar moral penting yang dapat digunakan sebagai pijakan untuk mencegah kekerasan di sekolah, termasuk bullying.
Dalam pandangan Dr. Nur Hidayat, ketika nilai-nilai hadis diajarkan melalui keteladanan guru, suasana kelas yang kondusif, dan pembiasaan yang berulang, siswa akan belajar mengontrol diri dan memahami konsekuensi emosional dari tindakan mereka terhadap orang lain.
Bullying dan Minimnya Penghayatan Nilai Empati
Banyak pendidik menilai bahwa bullying sering terjadi karena kemampuan empati anak masih rendah. Anak-anak belum memahami sepenuhnya dampak psikologis dari tindakan mereka. Dalam konteks ini, hadis Nabi memberikan pedoman empati yang sangat kuat, termasuk hadis:
“Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hayati menilai bahwa hadis ini memiliki makna mendalam dalam konteks dunia pendidikan masa kini.
“Jika anak memahami bahwa memperlakukan temannya seperti dirinya sendiri adalah bagian dari ajaran Nabi, maka mereka akan lebih berhati-hati dan mampu menahan diri dari tindakan agresif,” ujarnya.
Dengan pemahaman tersebut, anak bukan hanya mengetahui aturan, tetapi juga memahami alasan moral di baliknya.
Menghidupkan Suasana Sekolah yang Aman dan Humanis
Kasus dari Probolinggo menjadi momentum bagi sekolah-sekolah untuk mengevaluasi kembali sistem pembinaan karakter di lingkungan mereka. Sekolah perlu menciptakan suasana yang bukan hanya bebas dari kekerasan, tetapi juga mendorong anak saling mendukung, saling menghormati, dan mampu menyelesaikan konflik dengan cara-cara damai.
Dalam konteks ini, nilai-nilai hadis dapat menjadi fondasi terciptanya lingkungan yang humanis. Ketika guru mencontohkan akhlak terpuji, siswa pun akan lebih mudah mengikutinya. Pendidikan karakter akan menjadi lebih bermakna apabila berlangsung secara konsisten, dekat dengan pengalaman anak, dan disampaikan dengan metode yang menyenangkan.
Menegakkan Fondasi Moral Sejak Pendidikan Dasar
Kasus bullying di Probolinggo mengingatkan dunia pendidikan bahwa pendidikan karakter berbasis hadis harus dihidupkan kembali secara serius. Ajaran Rasulullah SAW mengenai kasih sayang, larangan menyakiti, pengendalian emosi, dan empati merupakan nilai-nilai dasar yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak masa kini.
Dengan memperkuat pembinaan moral sejak dini, sekolah dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan sosial dan emosional yang baik serta mampu membangun hubungan yang sehat dengan teman-temannya.
Peristiwa di Probolinggo harus menjadi titik balik bagi sekolah-sekolah di Indonesia bahwa pendidikan karakter bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari seluruh proses pendidikan.
Penulis:
Dr. Nur Hidayat, M. Ag. (Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Hayati Azizah, S.Pd. (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
