ISC Banten dan Jalan Kemandirian Santri

Indonesia membutuhkan lompatan besar dalam membangun kemandirian ekonomi umat. Di tengah tantangan globalisasi, dominasi pasar kapitalis, serta sistem pendidikan yang cenderung melahirkan pencari kerja, kehadiran gerakan seperti Indonesia Santripreneur Care (ISC) Banten menjadi oase yang menyejukkan sekaligus membangkitkan harapan.

Saya, K.H. Mudrik Qori, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah (PPI) dengan sekitar 8.000 santri, sekaligus alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Ciputat), merasa memiliki kedekatan emosional dan intelektual dengan gerakan ini. Apalagi beberapa penggeraknya juga alumni kampus yang sama. Karena itu, apresiasi saya terhadap ISC Banten bukan sekadar basa-basi, melainkan lahir dari keyakinan bahwa inilah model nyata pemberdayaan pesantren yang visioner dan relevan.

ISC Banten: Dari Banten untuk Indonesia

Kegiatan Indonesia Santripreneur Care (ISC) Banten dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring) dengan mengusung tema besar:

“Penguatan Peran BAZNAS Provinsi Banten oleh Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam Membangun Ekosistem Ekonomi Pesantren di Banten sebagai Peran Nyata dalam Mensukseskan Program Pembangunan Daerah Banten.”

Acara ini diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal: Sabtu, 14 Februari 2026
Waktu: 09.00 – 10.00 WIB
Tempat: Auditorium Fakultas Sains UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Sejumlah tokoh penting hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain:

Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si, Gubernur Lemhannas RI dan Ketua Umum Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Andra Soni, S.M., M.AP, Gubernur Provinsi Banten.
Prof. Dr. Wawan Wahyuddin, Ketua BAZNAS Banten.
Dr. H. Jamaluddin, M.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.
Dr. KH. Marsudi Syuhud, Ketua Umum Inkoppes.
Dr. H. Agus Syaburudin, M.Si, Ketua Pengurus IKALUIN Wilayah Banten.

Komposisi narasumber ini menunjukkan bahwa ISC Banten bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang strategis yang mempertemukan pemerintah, lembaga zakat, alumni perguruan tinggi Islam, dan pesantren dalam satu visi besar: membangun ekosistem ekonomi pesantren.

Out of The Box: Pesantren sebagai Pusat Pemberdayaan

ISC Banten adalah wadah “out of the box” yang, menurut saya, layak menjadi model nasional. Pesantren tidak boleh lagi dipandang hanya sebagai lembaga transmisi ilmu agama. Pesantren harus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kita harus berani menjadikan pesantren sebagai lokomotif pembangunan masyarakat kreatif dan produktif. Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang memproduksi, bukan sekadar mengonsumsi. Bangsa yang mencipta, bukan sekadar menjadi pasar.

Saya termasuk yang paling gelisah melihat sistem pendidikan nasional tingkat dasar dan menengah yang terkesan lebih banyak melahirkan lulusan bermental employee. Bahkan self-employed saja belum tentu. Apalagi melahirkan employer, owner, atau investor. Padahal umat ini butuh pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.

ISC Banten hadir dengan semangat berbeda. Ia mengajak pesantren untuk masuk dalam orbit ekonomi produktif berbasis nilai, bukan kapitalisme rakus. Ekonomi yang dibangun adalah ekonomi berkeadilan, berbasis zakat, kolaborasi, dan pemberdayaan.

Praktik Nyata di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah

Apa yang diusung ISC sejatinya sejalan dengan apa yang kami lakukan di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah (PPI). Di pesantren kami, pendidikan kewirausahaan bukan tempelan, tetapi bagian integral dari sistem pendidikan.

Kami menyebutnya sebagai Life Skill Education. Pendidikan kecakapan hidup ini kami tanamkan melalui jalur kurikuler, ekstra kurikuler, bahkan hidden kurikuler. Modelnya berbasis proyek (project-based learning) dengan proses inkubasi intensif yang melibatkan praktisi usaha.

Enam tahun lalu, kami membuka Kelas Excellent Entrepreneur Modern di tingkat Aliyah. Santri kelas X, setelah delapan bulan belajar, sudah “hunting” usaha. Mereka mengelola kebun palawija, kebun buah, usaha gerobak kerupuk, pempek, roti, buah, jus, dan kuliner lainnya. Gerobak-gerobak itu tersebar di berbagai titik.

Ada pula usaha budidaya cendawan, ternak ikan, produksi pupuk organik dan hayati, pembuatan sampo, semir sepatu, hingga kerajinan tangan. Bahkan sebagian santri membuat aplikasi, memproduksi film pendek, merakit komputer, dan kini ada yang sedang mengembangkan panel surya untuk menggantikan listrik konvensional di asrama dan ruang kelas.

Jika Anda datang ke warung dan kantin pesantren kami, Anda akan menikmati karya santri sendiri. Taman, kebun, ternak, hingga desain warna-warni gedung adalah hasil kerja vokasi mereka. Semua dilakukan dengan penuh semangat dan kegembiraan.

Doktrin kami sederhana: santri harus menjadi pemenang, mewarisi dunia.

Namun jangan salah paham. Mereka tetap hafal Al-Qur’an, mampu membaca kitab kuning, menjadi khatib, dan menguasai berbagai bahasa asing seperti Arab, Inggris, bahkan bahasa lain. Spiritualitas dan intelektualitas tetap menjadi fondasi. Kewirausahaan adalah penguat, bukan pengganti.

Perlunya Sinergi dan Manajemen Profesional

ISC Banten harus melangkah lebih jauh. Gerakan ini perlu mendorong integrasi nyata antara pesantren, pemerintah daerah, lembaga keuangan syariah, serta lembaga zakat seperti BAZNAS. Akses permodalan, pendampingan manajemen profesional, dan jaringan pemasaran harus dibangun secara sistematis.

Ekosistem ekonomi pesantren tidak akan tumbuh hanya dengan semangat. Ia membutuhkan desain kelembagaan, tata kelola yang baik, serta dukungan kebijakan yang berpihak.

Jika pesantren-pesantren di Banten bergerak bersama, difasilitasi oleh pemerintah provinsi dan diperkuat oleh BAZNAS, maka kita akan melihat lahirnya ribuan santripreneur. Dari Banten untuk Indonesia.

Apresiasi dan Harapan

Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para penggagas dan tokoh di balik ISC Banten, khususnya kepada Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily dan Dr. H. Agus Syaburudin. Inisiatif ini bukan hanya keren, tetapi strategis.

ISC Banten adalah gerakan masa depan. Gerakan yang membebaskan santri dari mentalitas ketergantungan. Gerakan yang menjadikan pesantren pusat peradaban ekonomi umat.

Jika gerakan ini konsisten dan terintegrasi, saya yakin Banten akan menjadi model nasional dalam membangun ekosistem ekonomi pesantren.

Dan dari pesantren, Indonesia akan bangkit.

*

Oleh: Drs. K.H. Mudrik Qori, M.A. – Mudir ‘Aam Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *