Iqbal Romzi Apresiasi Terbitnya Buku Sejarah Merawat Memori Kolektif

Yogyakarta, Swarnaberita.com — Suasana hangat menyelimuti acara Launching Buku “Merawat Memori Kolektif Melawan Lupa: Sejarah Awal Pesantren Tua di Sumatera Selatan” berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Kopi Jokam, Jl. Wonosari KM 7,2 Yogyakarta, Rabu malam (26/11/2025). Kehadiran Drs. KH. Mohd Iqbal Romzi, Anggota DPR RI, yang juga sebagai Dewan Pakar PS2PM Yogyakarta, menjadi salah satu sorotan utama pada malam tersebut.

Dalam sambutannya, KH. Iqbal Romzi menyampaikan apresiasi mendalam atas lahirnya buku yang ditulis Prof. Dr. Drs. Yusdani, M.Ag., dan Januariansyah Arfaizar, S.H.I., M.E. Menurutnya, karya ini merupakan ikhtiar penting untuk menghimpun kembali “puing-puing sejarah” Pondok Pesantren Raudhatul Ulum (PPRU) Sakatiga yang selama ini tercecer dalam ingatan para pendahulu maupun catatan lisan yang nyaris terlupakan.

Ia menegaskan bahwa sejarah, sesederhana apa pun awalnya, selalu memiliki arti besar ketika dirawat dan dituliskan. Mengutip pepatah Latin “verba volant, scripta manent” — ucapan akan berlalu, tulisan akan abadi — ia menilai bahwa dokumentasi sejarah PPRU masih sangat terbatas sehingga kehadiran buku ini menjadi langkah awal dalam merawat memori kolektif umat.

Drs. KH. Mohd Iqbal Romzi saat menyampaikan pembahasan ditengah diskusi

Dengan gaya khasnya, KH. Iqbal menyampaikan humor ringan: “Kalau buku ini menyebut pesantren tua, bolehlah dikatakan tua dan bertua—yakni membawa berkah.” Ia kemudian mengutip ungkapan Arab “idza tammal amru bada naqshuhu” bahwa setiap karya besar setelah selesai tentu akan tampak kekurangannya. Namun menurutnya, fokus bukan pada kekurangan, melainkan pada upaya menyempurnakan sejarah tersebut melalui penulisan, penelitian, dan keterlibatan kolektif.

Lebih jauh, ia memuji ketulusan para penulis yang bekerja tanpa motif selain kecintaan pada pesantren. “Siapa yang tidak kenal sejarah, masa depannya akan terjarah,” tegasnya, mengingatkan pentingnya pengetahuan sejarah bagi generasi saat ini.

KH. Iqbal juga menyoroti dinamika evolusi lembaga pendidikan PPRU, dari SMAI hingga SRI NU. Ia mengajukan pertanyaan penting: mengapa lembaga itu tidak berhenti sebagai SRI NU? Menurutnya, para pendiri pesantren memiliki pandangan jauh ke depan—bahwa kebangkitan ulama dan investasinya dalam pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Semangat inklusif pendiri PPRU membuat mereka memilih nama Raudhatul Ulum, taman ilmu untuk semua golongan.

Ia menjelaskan bahwa penamaan Raudhah bukan tanpa alasan. Raudhah adalah tempat mustajab yang penuh keberkahan. Bahkan ia mengutip hadis Nabi: “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka berhentilah. Majelis ilmu itulah taman-taman surga.” Menurutnya, inilah yang ingin diwujudkan para pendiri: menjadikan pesantren sebagai taman ilmu yang inklusif dan bermanfaat bagi umat.

KH. Iqbal juga mengingatkan bahwa PIRUS (cikal bakal PPRU) lahir dari inisiatif para kiai lulusan Mekkah—KH. Abdul Gani Bahri dan KH. Ahmad Nawawi Bahri (Shawlatiyah Mekkah), serta KH. Abdullah Kenalim (Darul Ulum Mekkah). Semangat keilmuan dan kenegarawanan itulah yang menghidupkan pesantren hingga kini.

Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan kisah pribadinya. Pada 1987, atas permintaan KH. Tol’at Wafa, ia diminta kembali mengabdi di pesantren. Sebelum pulang ke Sakatiga, ia belajar manajemen sistem asrama di Pondok Pabelan asuhan KH. Hamam Dja’far selama dua tahun. “Sebagai bentuk loyalitas, saya tidak akan meninggalkan pondok ini. Saya akan selalu membersamainya,” katanya mengingat masa itu.

Ia menggarisbawahi pentingnya persatuan, mengutip prinsip para pendiri: al-ittihaadu quwwah — persatuan adalah kekuatan. Bukan memperbesar perbedaan, tetapi mencari titik temu untuk membangun pesantren bersama.

Menutup sambutannya, KH. Iqbal mengajak seluruh alumni dan keluarga besar PPRU untuk terus menulis sejarah, menggali kembali “mutiara-mutiara” yang berserakan dari perjalanan panjang pesantren. “Semoga semakin tua kita menjadi orang yang PIKUN: Pintar dan Tekun,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Baginya, menulis sejarah bukan hanya menjaga memori, tetapi juga amal jariyah yang manfaatnya mengalir sepanjang masa.

Buku ini, menurutnya, bukan sekadar dokumentasi—melainkan pondasi awal untuk gerakan kolektif merawat sejarah pesantren tua sekaligus menerangi masa depan pendidikan Islam di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *