Disiplin Anak di Era Digital: Antara Cinta dan Ketegasan
Di tengah meningkatnya tantangan pengasuhan di era digital, metode disiplin berbasis nilai-nilai hadis kembali menjadi sorotan publik. Pola didik yang memadukan cinta dan ketegasan dinilai mampu membentuk karakter anak di tengah dominasi gadget, media sosial, dan konten digital yang semakin berpengaruh.
Fenomena anak kecanduan gawai, tantrum saat dilarang bermain game, hingga meniru kata-kata kasar dari konten kreator kerap viral di media sosial. Cuplikan video anak yang berteriak, menangis, hingga melempar ponsel membuat banyak orang tua waspada terhadap dampak digital yang berlebihan.
Fenomena “iPad Kids” dan Dampaknya pada Perilaku Anak
Belakangan muncul istilah “iPad Kids” — sebutan untuk anak-anak yang tidak bisa dilepaskan dari layar gadget. Mereka terlihat sulit fokus pada percakapan, cepat marah ketika perangkat diambil, dan kurang tertarik pada aktivitas fisik atau interaksi keluarga.
Fenomena ini dinilai sebagai salah satu tanda lunturnya disiplin dalam pengasuhan. Anak lebih banyak dibentuk oleh algoritma media sosial daripada teladan dari orang tua.
Psikolog anak, Dina Kusuma, mengatakan perilaku tersebut muncul akibat kurangnya struktur dalam kehidupan anak.
“Anak tidak diajarkan batasan sejak awal. Ketika gadget menjadi pengasuh utama, maka karakter anak pun ikut terpengaruh,” ujarnya.
Hadis Sebagai Pondasi Pendidikan Disiplin
Dalam Islam, pendidikan karakter sangat menekankan pembiasaan. Salah satu hadis yang paling banyak dirujuk adalah:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.
Murū awlādakum biṣ-ṣalāti wa hum abnā’u sab‘i sinīn, waḍribūhum ‘alaiha wa hum abnā’u ‘ashr, wa farriqū baynahum fil-maḍāji‘.
“Perintahkanlah anak-anakmu melaksanakan salat ketika mereka berumur tujuh tahun dan berikan teguran tegas ketika berumur sepuluh tahun jika mereka tidak melaksanakannya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini bukan perintah hukuman, melainkan:
- pembiasaan selama tiga tahun berturut-turut,
- penanaman nilai disiplin secara bertahap,
- tindakan tegas tanpa kekerasan,
- dan tetap mengedepankan kasih sayang.
Pendekatan inilah yang dianggap relevan untuk diterapkan dalam menghadapi tantangan zaman digital.
Keteladanan, Pembiasaan, dan Disiplin Digital
Praktisi pendidikan Islam, Ustadz Muhammad Arifin, M.A., menekankan bahwa Rasulullah SAW mendidik dengan keseimbangan antara maḥabbah (cinta) dan ḥikmah (ketegasan).
“Disiplin yang diajarkan Nabi tidak pernah berdiri sendiri. Ada contoh, ada dialog, dan ada pembiasaan. Tegas bukan berarti keras,” jelasnya.
Menurut Arifin, gambaran ini mirip dengan tantangan disiplin digital masa kini.
“Ketika anak kecanduan gadget, itu tanda mereka kurang pembiasaan. Bukan salah anak, tapi pola struktur harian yang belum dibangun,” tambahnya.
Penerapan Praktis Disiplin Berbasis Hadis dalam Keluarga
Beberapa langkah yang dinilai efektif antara lain:
1. Membuat rutinitas harian yang jelas
Salat tepat waktu, waktu belajar, waktu bermain, tidur cukup.
2. Menjadi teladan sebelum memberi perintah
Orang tua yang ingin anak disiplin salat, harus salat tepat waktu.
3. Menerapkan disiplin digital
Durasi layar dibatasi, tidak ada gadget di kamar tidur, dan konten diawasi.
4. Teguran yang mendidik, bukan memarahi
Komunikasi yang jelas dan tegas, bukan emosional.
5. Memberikan konsekuensi yang proporsional
Misalnya, waktu bermain dikurangi jika aturan tidak diikuti.
Beberapa keluarga muslim mulai menerapkan perubahan kecil seperti “tanpa gadget setelah Magrib”, membaca Al-Qur’an bersama, hingga mengajak anak terlibat dalam pekerjaan rumah untuk membangun tanggung jawab.
Fenomena Viral Jadi Pengingat Pentingnya Disiplin
Maraknya video viral tentang anak tantrum, remaja yang kecanduan gim hingga lupa sekolah, serta balita yang meniru ucapan kasar menjadi alarm bagi orang tua.
Banyak pakar sepakat bahwa masalah utama bukan pada anak, tetapi minimnya pembiasaan disiplin dalam keluarga.
“Jika orang tua kembali pada prinsip keteladanan dan kasih sayang seperti yang diajarkan Nabi, karakter anak akan terbentuk lebih kuat dan stabil,” kata Dina.
Menata Ulang Cara Mendidik Anak di Era Digital
Di tengah derasnya pengaruh teknologi, pendidikan berbasis hadis memberikan gambaran pengasuhan yang seimbang: cinta, ketegasan, konsistensi, dan teladan. Prinsip ini dinilai mampu melahirkan generasi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi era digital tanpa kehilangan nilai-nilai moral.
Pendekatan disiplin yang lembut namun tegas disebut menjadi pilihan terbaik bagi banyak keluarga saat ini, terutama ketika dunia digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Peran Mahasiswa di Kampus dalam Menguatkan Pendidikan Disiplin Anak
Sebagai Mahasiswa Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga, yang menempuh mata kuliah Studi Hadis bersama Dosen Bapak Dr. Nur Hidayat, Saya memiliki perhatian besar terhadap bagaimana ajaran Rasulullah SAW dapat diterapkan dalam pendidikan anak masa kini. Melalui bimbingan Bapak Bapak Dr. Nur Hidayat, Ummi Khoiriah HSB S.Pd. mendalami berbagai hadis tentang pengasuhan, termasuk hadis yang menekankan pentingnya pembiasaan dan disiplin sejak usia dini. Pemahaman ini mendorong Saya untuk mengkaji bagaimana metode Nabi yang penuh kasih sayang namun tetap tegas dapat menjadi solusi atas persoalan kedisiplinan anak di era digital.
Dalam setiap perkuliahan, kita dikelas aktif mengaitkan teori hadis dengan realitas sosial yang sedang terjadi, seperti fenomena anak kecanduan gadget, perilaku tantrum ketika gawai dibatasi, serta lunturnya nilai adab di lingkungan keluarga. Diskusi bersama Bapak Bapak Dr. Nur Hidayat membuka wawasan bahwa hadis Nabi bukan sekadar teks normatif, tetapi panduan praktis yang sangat kontekstual untuk diterapkan di tengah tantangan pengasuhan modern. Bapak Dr. Nur Hidayat menilai mahasiswa perlu mengambil peran dalam mengembalikan nilai pendidikan Islam ke tengah masyarakat.
“Mahasiswa S2 harus mampu menjembatani teori hadis dengan praktik sosial. Apa yang dikaji di kelas seharusnya bisa menjadi solusi untuk persoalan masyarakat termasuk pengasuhan anak,” kata Bapak Dr. Nur Hidayat
Melalui tugas, presentasi kelas, dan kajian literatur yang dibimbing oleh Bapak Bapak Dr. Nur Hidayat, Saya berupaya menyusun analisis yang matang mengenai konsep disiplin Islami. Upaya ini tidak hanya bermanfaat untuk kebutuhan akademik, tetapi juga sebagai kontribusi nyata dalam menyebarkan pemahaman bahwa disiplin berbasis hadis mampu membentuk karakter anak secara lebih efektif dan humanis. Dengan bekal keilmuan dari mata kuliah Studi Hadis, Ummi bertekad untuk terus mengedukasi masyarakat bahwa nilai-nilai Rasulullah SAW dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun generasi yang beradab, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Ummi berharap kajian ini tidak hanya berhenti sebagai tugas akademik, tetapi dapat memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Saya ingin menunjukkan bahwa hadis sangat aplikatif. Dengan memahami metode Nabi, orang tua bisa membentuk karakter anak yang kuat, santun, dan beradab meski hidup di era digital,” ujar ummi
Menurutnya, nilai-nilai seperti konsistensi, tanggung jawab, dan adab sudah lama ditekankan dalam hadis, dan kini sangat dibutuhkan untuk menghadapi arus teknologi yang begitu cepat.
Penulis:
Dr. Nur Hidayat, M. Ag. (Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Ummi Khotimah Hsb, S.Pd. (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
