Bullying Siswa SD Kelapa Gading Gegerkan Publik
Kasus dugaan bullying yang terjadi di sebuah SD di Kelapa Gading yang viral di media sosial kembali menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Kasus ini memantik perhatian para pakar pendidikan di seluruh Indonesia, akademisi di Yogyakarta pun menyebut insiden tersebut sebagai “cermin retak” pendidikan karakter Indonesia. Seorang siswa dilaporkan menjadi korban perundungan sejak kelas dua hingga kelas empat oleh teman sekelasnya. Kasus ini viral dan kini ditangani pihak kepolisian.
Insiden tersebut mendapat sorotan serius dari kalangan akademisi Yogyakarta, termasuk mahasiswa dan dosen pada mata kuliah Studi Hadis, Program Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga. Para akademisi menilai, kasus Kelapa Gading hanya satu dari banyak potret krisis karakter yang sedang melanda pendidikan dasar di Indonesia.
Sebagai dosen pengampu studi hadis UIN Sunan Kalijaga, Dr. Nur Hidayat, M.Ag, menyatakan bahwa membangun karakter anak tidak dapat bergantung pada aturan sekolah saja. Menurutnya, pendidikan moral harus kembali pada nilai-nilai teladan yang kuat, salah satunya dari hadis. Dalam pandangan Dr. Nur Hidayat, M.Ag., pendekatan hadis dapat menjadi benteng karakter dan memberikan fondasi moral yang kokoh bagi pencegahan kekerasan antarsiswa. Ia menegaskan,
“Hadis Rasulullah SAW memuat prinsip akhlak yang sangat lengkap. Guru dapat menggunakannya sebagai pedoman nyata untuk mencegah perilaku menyakiti, meremehkan, dan merundung sesama,” tegasnya.
Hadis sebagai Pondasi Pencegahan
Kasus Kelapa Gading tersebut dinilai relevan dengan salah satu hadis Nabi SAW:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh memberikan mudarat dan tidak boleh membalas dengan mudarat.” (HR. Ibn Majah)
Hadis ini menekankan larangan menyakiti orang lain dalam bentuk apa pun baik fisik maupun verbal. Prinsip tersebut, menurut para akademisi, sangat penting untuk menjadi pijakan dalam pembinaan karakter di sekolah dasar.
Dalam diskusi perkuliahan, salah satu mahasiswa, Okta Vitriani, S.Pd, melihat langsung bagaimana integrasi nilai hadis mampu memperkuat pembelajaran karakter di kelas. Hadis dalam pendidikan karakter dapat menjadi strategi konkret untuk mengatasi kasus bullying yang terus muncul di sekolah.
“Ketika guru menjelaskan perilaku baik melalui teladan Nabi, anak-anak lebih mudah memahami. Hadis dapat diolah menjadi cerita, drama pendek, atau pembiasaan sederhana dalam kelas,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa banyak siswa SD terlibat dalam konflik karena kurangnya kemampuan mengelola emosi dan empati. Penguatan melalui ajaran moral Nabi dapat menumbuhkan rasa saling menghargai sejak dini.
Alarm Serius Bagi Dunia Pendidikan
Di Yogyakarta, beberapa guru SD juga melaporkan meningkatnya konflik antarsiswa, meski tidak separah kasus Kelapa Gading. Kasus di Kelapa Gading bukanlah peristiwa tunggal. Sepanjang tahun, berbagai daerah melaporkan insiden serupa mulai dari kekerasan verbal, saling mendorong, mengejek, hingga tindakan fisik yang menimbulkan luka. Banyak pakar menilai bahwa situasi ini menandai fase darurat karakter pada siswa sekolah dasar.
Dr. Nur Hidayat, M.Ag., menegaskan bahwa pendidikan karakter bukan hanya tambahan, tetapi kebutuhan mendesak.
“Karakter adalah pondasi. Ketika pondasi lemah, pelajaran lain tidak akan bermakna. Guru harus menjadi teladan, bukan hanya pengajar,” katanya.
Dalam perkuliahan Studi Hadis, mahasiswa diajak merancang pembelajaran berbasis nilai-nilai akhlak mulai dari amanah, kejujuran, kasih sayang, hingga sikap tidak menyakiti orang lain. Pendekatan ini dinilai lebih membumi dan dapat langsung diterapkan dalam kelas.
Peran Kampus Dalam Mengawal Moral Anak Bangsa
Tahun ini mahasiswa Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga diwajibkan membuat tugas akhir berupa artikel dan berita pendidikan karakter, sebagai bentuk kontribusi akademik terhadap isu nasional.
Okta Vitriani, S.Pd menegaskan bahwa kampus perlu terus menghadirkan solusi bagi persoalan moral siswa.
“Kami ingin menjadi pendidik yang peduli. Jika kasus bullying terus terjadi, maka sekolah dan masyarakat perlu mengevaluasi pendekatan pendidikan karakter yang selama ini diterapkan,” ujarnya.
Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta diharapkan terus menjadi pelopor pembinaan karakter melalui integrasi nilai moral dan praktik pembelajaran yang humanis. Kasus Kelapa Gading menjadi pengingat bahwa karakter tidak dapat ditunda. Jika sekolah gagal menjadi ruang aman, masa depan anak-anak akan berada dalam bayang-bayang kekerasan yang diwariskan. Sekolah dan keluarga perlu bekerja bersama sebelum kekerasan antaranak menjadi budaya.
Penulis:
Dr. Nur Hidayat, M. Ag. (Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Okta Vitriani, S. Pd. (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
