BARATA dan Mereka yang Mengklaim Cerita
BARATA ‘Pengembaraan Akhir Tahun Pramuka Penegak dan Pandega Kwartir Cabang Sleman’
Bukan sekadar agenda. Ia adalah perjalanan. Ia adalah luka lecet di kaki, kantong mata yang menghitam, dan diam panjang yang lahir dari lelah yang bermakna. BARATA tumbuh bukan dari panggung, melainkan dari jalan setapak, hujan, dan api unggun yang menyala dengan sisa kayu terakhir.
Namun di balik panjangnya perjalanan itu, muncul sebuah ironi yang tak bisa diabaikan:
siapa yang merasa paling berhak menceritakan BARATA?
Ada mereka yang berjalan.
Ada pula mereka yang hanya berdiri di pinggir, menonton dari kejauhan.
Ironisnya, yang tak pernah memanggul ransel justru paling lantang berbicara tentang arah perjalanan.
Yang tak pernah berpeluh justru paling sibuk mengklaim sejarah.
BARATA bukan cerita yang bisa dipahami dari laporan, foto, atau unggahan semata. Ia tak lahir dari kata sambutan atau narasi resmi yang rapi. BARATA hidup dari proses yang sering tak terlihatdari konflik yang diselesaikan dalam diam, dari keputusan yang diambil di tengah keterbatasan, dari kebersamaan yang dibangun tanpa sorotan.
Maka menjadi pertanyaan yang layak diajukan dengan jujur dan berani:
apakah mereka yang tak pernah merawat BARATA pantas menuliskan kisahnya?
Apakah mereka yang tak pernah membela, mendukung, atau bahkan sekadar memahami ruhnya layak menjadi wajah sejarahnya?
Sejarah bukan milik mereka yang paling sering menyebut nama BARATA, melainkan mereka yang menjaga nyawanya.
Yang bertahan saat dukungan menghilang.
Yang tetap berjalan saat sorak tak terdengar.
Yang memilih setia, bahkan ketika tak ada tepuk tangan.
BARATA adalah perjalanan batin, bukan sekadar peristiwa tahunan.
Dan perjalanan semacam itu hanya bisa diceritakan oleh mereka yang pernah tersesat di dalamnya, lalu menemukan makna.
Sebab pada akhirnya, BARATA tidak membutuhkan banyak penutur.
Ia hanya membutuhkan kejujuran.
Dan kejujuran itu lahir dari langkah, bukan dari klaim.
Penulis: Ris Hana Rahadyanta
Ketua DKC Sleman 2007-2009
