Dr. M. Saiyid Mahadhir Pertahankan Disertasi tentang Difusi Inovasi Ngaji Lagu di Ogan Ilir

Palembang, Swarnaberita.com – Dr. M. Saiyid Mahadhir, Lc., M.Ag., dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Raudhatul Ulum Sakatiga, berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Difusi Inovasi Ngaji Lagu pada Masyarakat Ogan Ilir Sumatera Selatan” dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, Selasa (21/10/2025).

Dalam sidang terbuka tersebut, Dr. Saiyid Mahadhir dipromotori oleh Prof. Dr. Abdullah Idi, M.Ed. dengan Co-Promotor Dr. Muhammad Noupal, M.A., serta diuji oleh para guru besar: Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, M.A., Prof. Dr. Muhammad Adil, M.A., Prof. Dr. Muhajirin, M.Ag., dan Prof. Dr. Izomiddin, M.A.

Disertasi ini berangkat dari fenomena Ngaji Lagu (nagham) di Ogan Ilir yang mampu membentuk spektrum sistematis dalam kehidupan masyarakat, mulai dari periodisasi difusi yang berkesinambungan hingga memunculkan inovasi sosial dan keagamaan. Tradisi Ngaji Lagu tidak sekadar seni membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sarana transformasi sosial, budaya, dan spiritual masyarakat setempat.

“Ngaji Lagu bukan hanya soal irama tilawah, tetapi cara masyarakat kita memaknai Al-Qur’an secara indah dan beradab. Dari sini lahir solidaritas sosial, transmisi keilmuan, dan ekspresi budaya Islam Nusantara yang menyejukkan,” ungkap Dr. Saiyid Mahadhir dalam sesi pemaparan disertasinya.

Dalam penelitiannya, Dr. Saiyid memetakan tiga fase besar proses difusi Ngaji Lagu di Ogan Ilir:

  1. Fase Inisiasi (sejak Islamisasi – 1930) – Dimulai dari pengenalan dan pengajaran Al-Qur’an secara umum melalui dakwah dan majelis pengajian.
  2. Fase Penyebaran Awal (1930–1990) – Dipelopori oleh para inovator seperti KH. Sayyidina Muhammad Harun, KH. Abdul Ghani Bahri, KH. Ahmad Rifai Rozi, KH. Khalil Hajib, KH. A. Rasyid Shiddiq, KH. Dahlan Kandis, dan KH. Ahmad Qorie Nuri.
  3. Fase Pertumbuhan (1990–2025) – Diteruskan oleh generasi early adopter seperti KH. Syafiq Ghani, Hj. Marwiyah, KH. Subki Muntasib, KH. Musaddad Khalil, KH. Moersyid Qorie, dan KH. Mudrik Qorie, yang memperluas jejaring melalui pendidikan, kompetisi MTQ, serta interaksi sosial lintas daerah.

Penelitian ini juga mengungkap adanya Jaringan Qari Ogan Ilir yang berakar kuat pada tradisi sanad keilmuan dari para ulama Timur Tengah, khususnya jalur Mekkah melalui Syeikh Syarbin ad-Dimyath dan Syeikh Ahmad Hijazi, hingga sampai pada ulama Nusantara seperti KH. Tubagus Makmun dan KH. Ahmad Qorie Nuri.

Lebih jauh, Dr. Saiyid memperkenalkan teori baru yang ia sebut “Cultural Resonance Theory of Nagham (CReToN)”, yaitu konsep tentang bagaimana inovasi keagamaan seperti Ngaji Lagu dapat bertahan, beradaptasi, dan berkembang karena resonansinya dengan nilai budaya lokal.

Menurutnya, teori ini merupakan bentuk pengayaan terhadap gagasan Everett M. Rogers dalam buku klasik Diffusion of Innovation (1961). “Kalau Rogers berbicara tentang inovasi dalam konteks teknologi, maka saya melihat bahwa inovasi religius seperti Ngaji Lagu pun memiliki pola difusi yang sama – hanya saja ia bekerja melalui jalur budaya dan spiritual, bukan industri,” jelasnya.

CReToN memetakan tiga jalur utama difusi Ngaji Lagu: Jalur Haji Nahun – transmisi keilmuan para jamaah haji yang belajar qira’at di Mekkah, Jalur Amalgamasi – pernikahan dan interaksi antar suku yang memperluas ruang budaya Islam di Ogan Ilir, Jalur Edukasi dan Kompetisi – kegiatan pendidikan formal dan kompetisi seperti MTQ yang memperkuat eksistensi Ngaji Lagu di tingkat lokal dan nasional.

Dari hasil penelitiannya, Dr. Saiyid menemukan bahwa difusi Ngaji Lagu memberi dampak besar secara sosial, budaya, dan spiritual. Ia menilai bahwa tradisi ini menjadi wadah egalitarian bagi semua lapisan masyarakat, memperkuat identitas keislaman daerah, dan menjadi media pendidikan moral yang adaptif terhadap zaman.

“Kalau masyarakat Arab mengenal maqam, masyarakat Ogan Ilir punya nagham. Keduanya sama-sama menjadi bahasa keindahan untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Di situlah letak resonansi budayanya, antara iman, irama, dan identitas lokal,” tuturnya penuh refleksi.

Dengan keberhasilan mempertahankan disertasi ini, Dr. M. Saiyid Mahadhir resmi menyandang gelar Doktor dalam bidang Studi Islam dari UIN Raden Fatah Palembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *