UIN Jogja Gelar Webinar Nasional Transformasi Kurikulum PAI, Ria Nurhayati dosen STAI Yogyakarta menjadi Narasumber
Yogyakarta, Swarnaberita.com – Program Studi S3 Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Asosiasi Pengelola Program Doktor PAI Indonesia (APPDIK PAI) menggelar Webinar Nasional 2025 Seri 1 dengan tema “Transformasi Kurikulum PAI Menuju Generasi Unggul dan Berkarakter”, Sabtu (18/10/2025).
Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting, pukul 08.00–12.00 WIB, dan terbuka untuk umum secara gratis. Webinar ini menjadi bagian dari kolaborasi tiga seri kegiatan nasional yang bertujuan untuk memperkuat arah pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam di Indonesia.
Hadir sebagai keynote speaker Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sementara itu, deretan narasumber nasional hadir memberikan pandangan mendalam, antara lain Prof. Dr. H. Mudzakir Ali, M.A. (UNWAHAS Semarang), Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag. (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Imam Khoryaridji, M.Pd. (UIN Sunan Kalijaga), Hasbi Ashidiqi, M.Pd. (UIN Sunan Kalijaga), dan Ria Nurhayati, M.Pd. (Dosen STAI Yogyakarta sekaligus Mahasiswa Doktor PAI UIN Sunan Kalijaga). Bertindak sebagai moderator yaitu Zuhari Haryash, M.Pd.
Webinar ini menawarkan sejumlah manfaat bagi peserta, di antaranya e-sertifikat nasional, hadiah khusus, serta kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para pakar. Selain itu, peserta juga mendapatkan wawasan baru terkait tren inovasi pendidikan Islam, serta penguatan growth mindset bagi para pendidik dan mahasiswa.
Implementasi Pendidikan Adab dan Iman Melalui Sirah Nabawiyah
Salah satu narasumber, Ria Nurhayati, M.Pd., dosen STAI Yogyakarta, memaparkan materinya berjudul “Implementasi Pendidikan Adab dan Iman melalui Sirah Nabawiyah”. Ia menekankan bahwa tantangan Pendidikan Agama Islam saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan lembaga pendidikan dan digitalisasi, tetapi juga krisis akhlak dan perubahan kurikulum.
Dalam paparannya, Ria mencontohkan praktik pendidikan di Kuttab Darussalaam Yogyakarta yang mengintegrasikan dua kurikulum, yaitu Kurikulum PNF dan Kurikulum Kekhasan Adab dan Al-Qur’an. Sistem pembelajaran dilakukan dengan metode halaqah, yang menekankan pembentukan adab dan iman sebagai tujuan utama.
Menurutnya, pendidikan adab dan iman tidak hanya sebatas pengetahuan tentang sopan santun atau keyakinan lisan, tetapi perlu diwujudkan dalam perbuatan nyata yang selaras dengan Al-Qur’an. Untuk itu, Sirah Nabawiyah digunakan sebagai pendekatan utama karena seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW dapat dijadikan landasan pembelajaran karakter dan keimanan.
“Dengan Sirah Nabawiyah, pendidikan adab dan iman lebih cepat tercapai, sebab anak dididik melalui kisah nyata yang membentuk cara pandang Islami terhadap kehidupan,” jelasnya.
Sebagai contoh implementasi, materi seperti iman kepada Allah dan ilmu pengetahuan (IPA) dikaitkan dengan nilai-nilai adab dan keimanan. Misalnya, saat mempelajari fenomena gunung berapi, siswa tidak hanya mempelajari sisi ilmiahnya, tetapi juga makna spiritual dan tujuan penciptaannya sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an.
Ria juga menyoroti pentingnya peran orang tua, guru, pemerintah, dan yayasan dalam mendukung keberhasilan pendidikan adab dan iman. Ia menutup dengan kutipan inspiratif dari Umar bin Khattab:
“Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya.”
Melalui kegiatan ini, UIN Sunan Kalijaga menegaskan komitmennya untuk menjadi pusat pengembangan kurikulum PAI yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter. Webinar ini diharapkan menjadi momentum reflektif bagi para akademisi, praktisi pendidikan, dan mahasiswa untuk memperkuat arah pendidikan Islam yang humanis dan relevan dengan tantangan zaman.
