Makhluk Berbentuk Manusia: Antara Paha dan Rasa

Aku tak tahu bagaimana caraku bertukar sapa denganmu.
Lama kau hidup di balik bayang-bayang yang kau pertuhankan,
namun yang kau pertuhankan itu justru takut padamu.

Aku bahkan tak tahu apakah aku harus bertemu sapa denganmu,
karena aku sudah terbiasa bersapa dengan manusia.

Sedangkan kau?
Aku ragu kemanusiaanku ini ingin bersapa denganmu,
apalagi hasrat berbicara dengan yang jiwanya,
aku tak tahu  tulus, atau selalu ada tipu muslihat menyelimuti.

Pada dasarnya manusia diciptakan dengan rasa,
kasih sayang, cinta, harapan, dan kekaguman.
Manusia menangis ketika lahir,
karena rasa pertama yang mereka rasakan adalah
rasa sakit,
yang harus dirasakan agar menjadi manusia.

Ah, tak tahu denganmu
Mata telanjangku tak bisa mencerna perilakumu,
kepalaku tak bisa membaca muslihatmu,
instingku pun sulit menebak tindak-tandukmu.

Namun nalarku tak seperti pisau yang lama terbengkalai.
Aku masih mempunyai rasa,
yang tak melekat pada fisik
yang terus kau pertuhankan demi kenikmatan fana semata.

Sengaja kau tumpulkan nalarmu.
Setiap hari kau bermandikan pundi-pundi,
sembari terus kau lebarkan kedua pahamu.

Ah, sungguh indah anjing menggonggong
memberi kabar kepada kawanannya.

Rasa hilang, hati tak punya,
kemanusiaan pun entah ke mana.
Aku tak tahu harus menyebutmu seperti apa.
Kata manusia dari belahan mana pun
tak kutemukan dirimu terlihat demikian.

Penulis: Baidhun Maknun
Mahasiswa UNY Prodi Bahasa Prancis Angkatan 2022 – Sekretaris Umum IKPM Ogan Ilir Yogyakarta
(Email: baidhunmaknun119@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *