Masjid Agung Sholihin Gelar Khataman Al-Qur’an dan Isra Mi’raj hadirkan Dr Zaimuddin
Kayuagung, Swarnaberita.com — Masjid Agung Sholihin Kayuagung bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Kota Kayuagung menggelar rangkaian kegiatan keagamaan berupa Khataman Al-Qur’an Bil Ghoib, Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Muhasabah dan Doa Awal Tahun 2026 M, sekaligus Launching Gerakan Subuh Berjamaah, Selasa–Rabu (30–31/12/2025).
Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Agung Sholihin Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir ini diikuti oleh jamaah dari berbagai lapisan masyarakat. Acara diawali dengan khataman Al-Qur’an Bil Ghoib yang berlangsung selama dua hari, kemudian dilanjutkan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada Rabu malam (31/12/2025) ba’da Isya hingga selesai.
Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai momentum refleksi, muhasabah diri, dan penguatan nilai-nilai spiritual umat Islam agar memasuki tahun baru dengan semangat ibadah dan kebersamaan.
Hadir sebagai penceramah, Ustadz Dr. Zaimuddin, M.S.I., yang dalam ceramahnya menyampaikan sejumlah poin penting terkait makna Isra’ Mi’raj dan implementasinya dalam kehidupan umat Islam. Ia menjelaskan bahwa kalimat awal Surat Al-Isra’ yang diawali dengan lafaz Subhanallah menunjukkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat istimewa, agung, dan prestisius, karena berada di luar jangkauan nalar manusia biasa.
Lebih lanjut, Dr. Zaimuddin menekankan pentingnya sikap spiritual umat dalam menyikapi berbagai kondisi kehidupan. “Jika mendapatkan nikmat, maka ajaran Nabi adalah mengucapkan Alhamdulillah. Jika tertimpa musibah, maka Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dan ketika melihat kemaksiatan, hendaknya memperbanyak istighfar dengan Astaghfirullah,” ungkapnya.
Dalam peristiwa Isra’, Nabi Muhammad SAW juga diperlihatkan gambaran kelompok-kelompok umat manusia di masa depan. Salah satunya adalah kelompok yang terus memanen tanpa henti, yang dimaknai sebagai orang-orang yang rajin bersedekah, sehingga amal kebaikannya terus mengalir dan berlipat ganda.
Pada peristiwa Mi’raj, lanjutnya, Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat sebanyak 50 waktu, yang kemudian diringankan menjadi 5 waktu dengan 17 rakaat. Pengurangan tersebut terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mendapatkan masukan dari Nabi Musa AS agar memohon keringanan bagi umatnya. Meski jumlahnya berkurang, pahalanya tetap setara dengan 50 waktu shalat.
Dr. Zaimuddin juga mengingatkan bahwa kekhusyukan shalat dimulai dari wudhu yang benar, karena wudhu merupakan pintu awal ibadah shalat. Selain itu, ia mengajak jamaah untuk tidak memperdebatkan persoalan-persoalan furu’iyah, seperti perbedaan cara mengangkat tangan saat takbir, karena hal tersebut tidak sepatutnya menjadi sumber perpecahan di tengah umat.
Rangkaian kegiatan ini turut dihadiri Ketua Masjid Agung Sholihin Kayuagung Abdul Hamid Baki, S.H., Ketua DMI Kecamatan Kota Kayuagung Ustadz Alex Ghozi, serta tokoh agama dan masyarakat setempat. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan kemakmuran masjid semakin tumbuh, seiring dilaunching-nya Gerakan Subuh Berjamaah sebagai penguatan syiar Islam di Kayuagung.
