Refleksi Diri Memaknai Pergantian Tahun
Pergantian waktu adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Kehidupan senantiasa bergerak dalam ritme waktu yang teratur, berputar tanpa henti, membawa perubahan demi perubahan. Sebagai makhluk berakal, manusia sejatinya tidak sekadar menjadi penumpang waktu, melainkan subjek yang mampu mengelolanya agar menghadirkan nilai, manfaat, dan kebermaknaan hidup.
Pergantian tahun, yang akan terus berulang, sejatinya merupakan penanda bahwa kehidupan tidak pernah berhenti. Ia bergerak maju, menghadirkan inovasi, perubahan, pergerakan, dan beragam bentuk kreasi sebagai bagian dari dinamika peradaban manusia. Namun, di era modern saat ini, kehidupan bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Arus informasi mengalir deras melalui gawai di genggaman, sering kali sulit disaring dan dikendalikan. Tidak sedikit manusia yang akhirnya terhanyut dalam derasnya informasi tanpa sempat merenung, apalagi mengambil hikmah.
Perlu ditegaskan bahwa pergantian tahun Masehi bukanlah peristiwa yang memiliki nilai ibadah khusus dalam ajaran Islam. Karena itu, umat Islam tidak dituntut untuk merayakannya secara ritualistik atau euforia berlebihan. Tidak perlu gegap gempita dengan menyalakan kembang api, petasan, meniup terompet, berkumpul di satu tempat dengan hingar-bingar musik, apalagi berbaur tanpa batas yang berpotensi menggiring pada perbuatan maksiat. Pergantian tahun seharusnya dimaknai secara lebih substansial, bukan sekadar perayaan simbolik.
Menjelang akhir tahun 2025 dan memasuki tahun 2026, berbagai peristiwa telah kita lalui bersama. Ada capaian kesuksesan, kebahagiaan, dan prestasi, namun tidak sedikit pula ujian berat yang hadir, mulai dari musibah hingga bencana alam yang menyayat hati. Bencana yang terjadi di Aceh Tamiang, Sibolga (Sumatera Utara), hingga Sumatera Barat seharusnya menjadi peringatan serius bagi kita semua. Al-Qur’an telah memberikan ilustrasi yang sangat jelas dalam Q.S. Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.”
Ayat ini menegaskan bahwa berbagai krisis dan kerusakan yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari ulah manusia sendiri. Karenanya, pergantian tahun seyogianya menjadi momentum untuk kembali, memperbaiki diri, dan menata ulang hubungan kita dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.
Dalam memaknai waktu, Imam Syafi’i pernah menegaskan bahwa seandainya manusia merenungi Surat Al-‘Ashr saja, maka itu sudah cukup sebagai pedoman hidup. Surat tersebut menunjukkan betapa urgennya pemahaman terhadap waktu dan bagaimana manusia sering kali berada dalam kerugian jika tidak mampu mengelolanya dengan iman dan amal saleh. Sementara itu, Imam Al-Ghazali mengibaratkan waktu sebagai esensi kehidupan; setiap detiknya adalah modal berharga yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, pergantian tahun semestinya dimaknai secara positif dan produktif. Setidaknya ada tiga hal penting yang dapat kita lakukan.
Pertama, muhasabah atau evaluasi diri. Pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka pada kalender, melainkan kesempatan berharga untuk merefleksikan perjalanan hidup. Inilah saat yang tepat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, memperbanyak amal ibadah, serta mengingat pesan Nabi agar menjaga lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya. Muhasabah juga berarti mengevaluasi kinerja, capaian, target, dan cita-cita: apa yang sudah tercapai, apa yang masih tertinggal, serta kendala apa yang dihadapi. Dari proses ini, kita belajar menghargai waktu dan kesempatan yang Allah SWT anugerahkan.
Kedua, komitmen untuk menjadi lebih baik. Evaluasi yang bermakna adalah evaluasi yang melahirkan perubahan. Pergantian tahun harus disertai niat yang baik dan tujuan yang jelas. Ini mencakup penilaian jujur atas perilaku masa lalu serta penetapan resolusi konkret untuk peningkatan moral dan spiritual di masa depan. Inilah esensi muhasabah dalam Islam: menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan beban.
Ketiga, memulai dari yang paling kecil dan paling mudah. Kesuksesan besar tidak pernah lahir secara instan. Ia selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Kemajuan yang membanggakan pun berangkat dari tindakan nyata yang sederhana. Karena itu, niat yang tulus dan bersih menjadi fondasi utama, semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Niat tersebut kemudian diwujudkan melalui mujahadah, yakni usaha sungguh-sungguh dan berkelanjutan dalam bentuk amal nyata.
Akhirnya, mari kita jadikan pergantian tahun sebagai momentum menghadirkan nilai-nilai positif secara komprehensif. Dengan begitu, kebermaknaan hidup tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga memberi manfaat sosial yang luas. Kehidupan pun dapat terartikulasi melampaui sekat-sekat ego dan kepentingan sempit, menuju nilai-nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan yang hakiki.
Semoga kita senantiasa berada dalam rengkuhan rahmat dan kasih sayang Allah SWT, serta setiap desah napas, gerak langkah, dan aktivitas hidup kita selalu berada dalam keridaan-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Penulis: Aidah Buhairi, S.Ag., M.Pd.
Penulis merupakan dosen di Universitas Al-Qur’an Ittifaqiah Indralaya, Sumatera Selatan, dan tenaga pendidik di Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, Sumatera Selatan, yang juga aktif sebagai da’iyah serta penggerak pemberdayaan perempuan. Selain berkiprah di dunia akademik dan dakwah, ia terlibat aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, antara lain sebagai pengurus Majelis Daerah KAHMI dan FORHATI Ogan Ilir, pengurus Pimpinan Daerah Salimah (Persaudaraan Muslimah) Ogan Ilir, anggota Dewan Pengarah Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, serta menjalankan amanah sebagai penasihat PERWAPPI.
