Generasi Menyontek: Alarm Merah Pendidikan
Praktik menyontek yang dilakukan oleh siswa sekolah dasar kembali mengundang keprihatinan publik. Fenomena ini tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi mulai terlihat sebagai pola yang mengkhawatirkan di sejumlah lingkungan pendidikan. Di usia yang seharusnya menjadi fondasi pembentukan karakter jujur dan bertanggung jawab, sebagian siswa justru mulai terbiasa mencari jalan pintas dalam menyelesaikan tugas maupun ujian.
Kejadian ini memicu perhatian dari guru, orang tua, serta pakar pendidikan, karena dianggap sebagai indikator lemahnya pendidikan karakter pada anak sejak usia dini. Beberapa siswa diketahui menyalin jawaban teman atau menggunakan catatan tersembunyi saat ulangan, memicu kekhawatiran bahwa perilaku tidak jujur mulai menjadi kebiasaan. Fenomena ini dianggap tidak hanya masalah akademik, tetapi juga cerminan karakter yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Isu menyontek ini menjadi bahan pembahasan intens dalam mata kuliah Studi Hadis, Program Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga. Mata kuliah yang diampu oleh Dr. Nur Hidayat, M.Ag menekankan pentingnya integrasi nilai moral dan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam membentuk karakter anak sejak dini. Mahasiswa, termasuk Jelsy Anjelina, S.Pd, mempelajari kasus ini sebagai contoh nyata tantangan integritas di sekolah dasar, sekaligus merancang strategi penguatan karakter melalui nilai-nilai hadis. Menurut Dr. Nur Hidayat, pendidikan karakter anak tidak bisa hanya mengandalkan aturan atau larangan semata. “Kejujuran dan tanggung jawab harus dibangun dari pemahaman moral yang kokoh. Hadis Nabi SAW memuat prinsip akhlak yang lengkap, termasuk larangan menipu atau bersikap tidak jujur,” ujarnya.
Hadis sebagai Dasar Pembinaan Karakter
Salah satu hadis yang relevan dengan kasus ini menyebut:
لَا غِشَّ فِي الشُّبُهَاتِ
“Jangan menipu dalam hal-hal yang samar atau tidak jelas.” (HR. Ahmad)
Para akademisi menilai bahwa prinsip ini dapat dijadikan pedoman dalam membimbing anak-anak agar menanamkan sikap jujur sejak dini. Nilai ini juga dapat diterapkan dalam kegiatan sekolah sehari-hari, mulai dari pembiasaan saat mengerjakan tugas, ulangan, hingga interaksi sosial di kelas. Dalam diskusi perkuliahan, Jelsy Anjelina, S.Pd menyoroti bagaimana integrasi nilai hadis dapat diterapkan secara praktis. “Guru dapat menggunakan cerita, drama, atau pembiasaan sederhana untuk menanamkan kejujuran. Anak-anak akan lebih memahami jika nilai moral disampaikan melalui teladan nyata,” ujarnya. Ia menambahkan, banyak kasus menyontek muncul karena siswa belum memiliki kemampuan mengelola tanggung jawab dan memahami konsekuensi perilaku mereka.
Dampak Terhadap Pendidikan Karakter
Fenomena menyontek menandai perlunya perhatian serius terhadap pendidikan karakter anak. Pakar menilai bahwa pembentukan integritas dan tanggung jawab harus dimulai sejak sekolah dasar agar perilaku negatif tidak menjadi kebiasaan. Dr. Nur Hidayat menekankan, “Karakter adalah fondasi. Tanpa fondasi yang kuat, pembelajaran akademik tidak akan memiliki makna. Guru harus menjadi teladan dalam setiap tindakan dan perkataan mereka.”
Lebih jauh, perilaku menyontek melemahkan pembelajaran moral dan akhlak yang diajarkan di sekolah. Nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab menjadi kurang efektif jika tidak diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang terbiasa menyontek juga berisiko meningkatkan persaingan negatif dan konflik di antara teman sekelas, karena mereka mulai membandingkan diri dengan cara yang tidak sehat, sehingga empati, solidaritas, dan kerja sama menjadi berkurang.
Dr. Nur Hidayat, M.Ag., menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi prioritas sejak dini. Menurutnya, ketika anak terbiasa menyontek, fondasi moral mereka menjadi rapuh. “Pendidikan karakter yang kuat akan membekali anak dengan integritas, tanggung jawab, dan empati yang akan membimbing mereka sepanjang hidup,” ujarnya.
Sementara itu, mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga, Jelsy Anjelina, S.Pd, menambahkan bahwa penguatan karakter melalui nilai moral, teladan guru, dan pembiasaan sehari-hari menjadi kunci untuk mengurangi perilaku menyontek. Ia menekankan bahwa anak-anak perlu diajarkan bahwa kesuksesan yang dicapai dengan cara jujur jauh lebih berharga dan memberi dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.
Peran Mahasiswa dan Kampus
Mahasiswa Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Sunan Kalijaga, termasuk Jelsy Anjelina, diwajibkan membuat artikel atau berita pendidikan karakter sebagai bagian dari kontribusi akademik terhadap isu nasional. Mereka didorong untuk merancang strategi pembelajaran berbasis nilai moral, mulai dari amanah, kejujuran, hingga tanggung jawab.
“Tujuan kami adalah menjadi pendidik yang peduli dan mampu menghadirkan solusi praktis. Pendidikan karakter bukan sekadar teori, tetapi harus terealisasi dalam tindakan anak sehari-hari,” ujar Jelsy.
Fenomena menyontek ini menjadi pengingat bagi sekolah, keluarga, dan masyarakat bahwa pendidikan karakter tidak dapat ditunda. Sekolah harus menjadi ruang aman dan efektif untuk membentuk integritas anak, sementara orang tua berperan mendukung nilai moral di rumah. Dengan kolaborasi yang kuat, generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi individu yang jujur, bertanggung jawab, dan memiliki integritas tinggi.
Penulis:
Dr. Nur Hidayat, M. Ag. (Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Jelsy Anjelina, S. Pd. (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
