Kerja, Lakon Hidup, dan Secangkir Kopi

Dalam hidup ini, sebagian dari kita mungkin tidak dilahirkan dengan limpahan harta. Ada yang terlahir tampan, ada yang terlahir cerdas, dan ada pula yang terlahir dengan keberuntungan-keberuntungan tertentu. Namun satu hal yang pasti: kita semua ditakdirkan untuk bekerja. Bukan semata-mata karena tuntutan ekonomi, tetapi karena kerja adalah bagian dari lakon hidup yang tak bisa kita hindari.

Kita bekerja di kampus, di instansi pemerintahan, di pabrik, di perusahaan, di toko, atau di mana pun kaki ini berpijak. Tempatnya boleh berbeda, tetapi tujuan dasarnya sama: mencari sesuap nasi, menafkahi keluarga, merawat harga diri, dan sesekali dalam ungkapan satir memburu “sepiring berlian” yang entah kapan bisa kita gapai. Bekerja adalah ikhtiar panjang yang terkadang membahagiakan, terkadang melelahkan, namun selalu mengajarkan kita tentang arti kehidupan.

Dalam dunia kerja, ada yang diberi amanah sebagai pemimpin, ada yang memilih menjadi pekerja biasa, dan ada juga yang sekadar menjadi figuran di panggung besar yang bernama kehidupan. Namun apakah peran itu benar-benar penting untuk dipersoalkan? Tidak selalu. Karena pada akhirnya, peran itu hanyalah lakon, sementara nilai hidup terletak pada keikhlasan menjalani.

Menjadi pahlawan mungkin terdengar mulia, tetapi menjadi figuran pun tak kalah bermartabat ketika dijalani dengan kesungguhan dan integritas. Dalam setiap lakon, ada kontribusi yang tidak terlihat, ada keringat yang tak tercatat, ada kerja keras yang tidak mendapat tepuk tangan. Dan justru di situlah makna hidup sering bersembunyi.

Maka, setelah lelah bergumul dengan rutinitas, setelah berhari-hari menjalani peran yang kadang membebani, tetaplah tenang. Tetaplah waras. Tetaplah “stay cool, calm and ngopi.” Karena secangkir kopi bukan sekadar minuman, tetapi jeda yang mengingatkan bahwa hidup ini tidak harus selalu diburu-buru.

Kerja bukan sekadar uang. Kerja adalah cara kita berdamai dengan hidup, menjalankan takdir, dan memberi arti pada hari-hari yang kita jalani. Dan selama nafas masih berhembus, lakon itu akan terus berlanjut dengan segala tawa, letih, dan secangkir kopi yang menemani.

Penulis: Hudan Mudaris (Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *