Launching Buku Sejarah Pesantren Tua di Sumsel disambut Antusias
Yogyakarta, Swarnaberita.com – Acara Launching dan Diskusi Buku “Merawat Memori Kolektif Melawan Lupa: Sejarah Awal Pesantren Tua di Sumatera Selatan” berlangsung meriah pada Rabu malam, 26 November 2025, di Kopi Jokam, Jl. Wonosari KM 7,2 Yogyakarta. Kegiatan yang digelar secara hybrid ini mendapat sambutan hangat dari peserta baik yang mengikuti melalui Zoom maupun yang hadir langsung di lokasi.
Acara dipandu oleh Daril Tinofa, Anggota IKN Yogyakarta, yang bertugas sebagai MC. Diskusi kemudian dipandu oleh moderator Rz Ricky Satria Wiranata. Hadir memberikan sambutan pembuka, Dr. Drs. H. M. Muslich KS, M.Ag., Ketua Dewan Pakar PS2PM Yogyakarta. Para penulis buku, Prof. Dr. Drs. Yusdani, M.Ag. dan Januariansyah Arfaizar, S.H.I., M.E., turut hadir memberikan pemaparan materi. Sesi diskusi semakin kaya dengan kehadiran para pembahas yakni Drs. KH. Mohd Iqbal Romzi, yang hadir langsung di lokasi, serta Dr. KH. Abdul Kher, Lc., M.Ag. yang dijadwalkan hadir secara virtual namun berhalangan.

Sejumlah testimoni juga turut menghangatkan suasana. Hadir memberikan kesan dan dukungan terhadap terbitnya buku tersebut antara lain Arif Budiman (Cucu KH. Abdul Rahim Mandung, Ketua IKABES Kukar Kalimantan Timur), H. Taufik Fathir (Cucu KH. Abdullah Kenalim, Kabag TU Kemenag Sumsel), Ruqaiyyah Izzuddin (Cicit KH. Abdul Ghani Bahri, Wiraswasta Metro Lampung), dan Hj. Nurmala HAK, (putri dari KH. Abdullah Kenalim).
Dalam sambutannya, Dr. Muslich KS, yang akrab disapa Romo Muslich, menyampaikan apresiasi mendalam atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya ini sebagai langkah monumental dalam merawat sejarah pesantren tua yang telah menjadi “kawah candradimuka” bagi ribuan santri sejak masa awal berdirinya. Menurutnya, upaya dokumentasi ini adalah bentuk amal jariah yang sangat berharga, mengingat tidak banyak pihak yang mampu melakukan kerja besar semacam ini.
Romo Muslich juga menyampaikan penghargaan atas kehadiran Drs. KH. Mohd Iqbal Romzi, Pengurus Yayasan Raudhatul Ulum Sakatiga sekaligus Anggota DPR RI dan juga merupakan Anggota Dewan Pakar PS2PM Yogyakarta, yang bertindak sebagai pembahas utama dalam diskusi tersebut.

Pada sesi penyampaian materi, Prof. Yusdani menjelaskan bahwa penulisan buku ini merupakan ungkapan rasa cinta dan penghormatan terhadap Pesantren Perguruan Islam Raudhatul Ulum Sakatiga (PIRUS) atau PPRU. Meski menghadapi keterbatasan dokumen dan data, ia berupaya merangkai potongan-potongan informasi yang tersebar menjadi sebuah karya historis yang utuh. Ia menegaskan bahwa buku ini masih memiliki kekurangan dan berharap pesantren dapat melanjutkan usaha pendokumentasian tersebut agar sejarah semakin kaya dan lengkap.
Prof. Yusdani juga mengingatkan kembali bahwa Raudhatul Ulum memiliki akar historis dari dua madrasah, yaitu Al-Falah dan As-Syhibyan. Ia memaparkan bahwa dua buku lanjutan tengah disiapkan, yakni buku testimoni alumni lintas generasi dan sebuah buku saku mengenai sejarah singkat Raudhatul Ulum. Dalam kesempatan itu, ia secara khusus mengapresiasi kehadiran Herman Syarkowi, salah satu alumni senior yang banyak memiliki dokumentasi foto masa-masa awal pesantren, yang hadir melalui zoom.

Acara semakin hangat saat Prof. Yusdani menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tiga pendiri Raudhatul Ulum—KH. Abdul Ghani Bahri, KH. Abdullah Kenalim, dan KH. Abdul Rohim Mandung—yang telah meletakkan dasar bagi berkembangnya pesantren besar tersebut. Selain itu Prof. Yusdani juga berterima kasih terhadap semua peserta yang hadir baik secara daring, maupun secara luring di Kopi Jokam, diantaranya ada Dr. Mustari, dosen UIN Sunan Kalijaga yang juga sebagai Anggota Dewan Pakar PS2PM Yogyakarta, pengurus PS2PM, Anggota IKN Yogyakarta dan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta.
Prof. Yusdani menutup penyampaian materi dengan menegaskan bahwa buku ini dipersembahkan untuk Raudhatul Ulum sebagai upaya menjaga ingatan kolektif masa lalu guna menyongsong masa depan yang lebih baik. Para peserta didorong untuk membaca, mengkritisi, dan memberi saran terhadap karya tersebut demi penyempurnaan dokumentasi sejarah pesantren ke depan.

Acara kemudian berlanjut dengan diskusi terbuka yang berlangsung intens dan penuh kehangatan, mencerminkan kuatnya ikatan emosional berbagai generasi terhadap warisan besar Raudhatul Ulum.
