Soft Launching Buku Prof. Yusdani Berlangsung Hangat, Hadirkan Kisah Kehidupan Sang Profesor Egaliter

Bantul, Swarnaberita.com — Sebuah penghormatan istimewa untuk Prof. Dr. Drs. Yusdani, M.Ag. hadir dalam bentuk yang tak biasa. Selasa malam, 11 November 2025, buku berjudul “Yusdani Sosok Egaliter dari Kampung Duku Kuripan OKI Sumatera Selatan Menjadi Profesor” resmi diperkenalkan dalam sebuah soft launching yang berlangsung hangat dan penuh keakraban di RM Kebon Sumilir, Jalan Wonosari KM 7, Baturetno, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Buku setebal lebih dari lima ratus halaman ini memuat 94 untaian kesan, refleksi, dan kenangan dari para sahabat, kolega, mahasiswa, serta tokoh yang pernah bersinggungan dengan perjalanan hidup Prof. Yusdani. Mulai dari masa mudanya di pesantren, perjuangan akademik, kiprah intelektual, hingga kesehariannya sebagai pribadi yang sederhana dan merakyat—semua dirangkum menjadi satu mosaik narasi yang menghangatkan.

Penyerahan buku dari Editor ke Prof Yusdani dan Dr. Muslich KS.

Acara yang berlangsung pukul 18.00–21.00 WIB ini dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai latar profesi, seperti dosen, hakim, advokat, wiraswasta, guru, hingga para tetangga dan sahabat beliau. Meski terbatas, suasana pertemuan terasa penuh kekeluargaan, mencerminkan kepribadian Prof. Yusdani yang egaliter dan mudah diterima semua kalangan.

Salah satu kesan mendalam disampaikan Widiyanto, Kepala Dukuh Sompilan, Tegaltirto, Berbah, Sleman. Ia mengenang bagaimana Prof. Yusdani, sejak awal tinggal di Sompilan pada 2000-an, selalu hadir sebagai pribadi sederhana, ringan tangan, dan dekat dengan masyarakat. “Dalam setiap kegiatan dusun, beliau selalu hadir. Mulai rapat RT, pengajian, hingga gotong royong, selalu ikut turun langsung,” ujarnya. “Kami bangga, seseorang yang begitu membumi bisa mencapai gelar profesor tanpa meninggalkan kesederhanaannya.”

Kesan lain datang dari Dr. Drs. H. M. Muslich KS, M.Ag., Ketua Dewan Pakar PS2PM Yogyakarta, yang menggambarkan Prof. Yusdani sebagai sosok akademisi yang “njawani”, arif, dan cermat membaca nilai budaya. “Gestur dan keilmuannya mantap, terukur, dan tidak sombong. Beliau selalu menjaga nilai-nilai keislaman dan pluralisme budaya,” jelasnya. Menurut Muslich, kontribusi Prof. Yusdani melalui pengajaran, penelitian, hingga perannya sebagai Direktur PS2PM telah memberi jejak berarti dalam dunia akademik.

Foto bersama peserta usai acara

Buku ini disusun oleh editor Januariansyah Arfaizar, Dosen STAI Yogyakarta sekaligus Ketua Ikatan Keluarga Nusantara (IKN) Yogyakarta. Ia menceritakan bahwa gagasan penyusunan buku ini datang secara spontan pada akhir Januari 2025. “Saya ingin ucapan selamat atas capaian guru besar tidak hanya lewat WhatsApp atau papan bunga yang cepat hilang. Saya ingin ia abadi dalam bentuk buku,” tuturnya.

Proses pengumpulan tulisan dilakukan secara intensif selama beberapa bulan. Dari lebih 120 orang yang dihubungi, terkumpul 94 tulisan yang kemudian dikelompokkan dalam 11 bagian—mengacu pada tanggal lahir Prof. Yusdani, 11 November. Setiap tulisan menghadirkan sisi lain dari sosok sang profesor yang dikenal sebagai akademisi serius, namun dalam keseharian tetap humoris, hangat, dan mudah bergaul.

Melalui buku ini, pembaca dapat melihat betapa luas pengaruh Prof. Yusdani di dunia akademik dan sosial. Selain sebagai dosen senior FIAI UII, beliau juga pendiri dan Direktur PS2PM, Dewan Sesepuh IKN Yogyakarta, Ketua HISSI DIY, serta kini menjabat sebagai Ketua Program Studi Hukum Islam Program Magister FIAI UII.

Soft launching buku ini tidak hanya menjadi perayaan atas pencapaian akademik Prof. Yusdani, tetapi juga penghormatan atas karakter dan keteladanan beliau. “Untuk menjadi besar, seseorang tidak harus berjarak; untuk menjadi profesor, tidak harus kehilangan kesederhanaan,” ujar Januariansyah. “Dan Prof. Yusdani adalah bukti nyata dari itu semua.”

Dengan terbitnya buku ini, para penulis berharap jejak hidup dan nilai-nilai yang diwariskan Prof. Yusdani dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda akademisi Indonesia—bahwa integritas, kesederhanaan, dan ketulusan adalah fondasi sejati perjalanan ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *